Minggu, 27 Maret 2011

ISTIFHAM, TAMANNI DAN NIDAA’

ISTIFHAM,TAMANNI DAN NIDAA’

  1. Pengertian Istifham

Kata istifham merupakan bentuk dari kata masdar dari kata استفهام Secar leksikal kata tersebut bermakna meminta pemahaman atau meminta pengertian . Sedangkan menurut istilah adalah:

الاستفهام هو طلب العلم بشئ لم يكن معلوما من قبل وذلك باداة من احدى ادواته

Artinya istifham ialah mengharapkan untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebelumnya dengan menggunakan salah satu perabot dari beberapa perabotnya .

  1. Adat Istifham Dan Maknanya Yang Hakiki

Adapaun adat istifham beserta maknanya yang hakiki diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Hamzah (أ)

a) Tassawur, yaitu gambaran tentang mufrad atau jawaban yang bersifat mufrad . Dalam hal ini hamzah langsung didiringi dengan hal yang ditanyakan dan umumnya hal yang ditanyakan ini mempunyai bandingan yang disebutkan setelah lafadz “AM”

Contohnya: أعلى مسافرام خالد؟

Dalam contoh tersebut diyakini bahwa kepergian itu dilakukan oleh salah seorang dari mereka berdua. Namun diharapkan ketentuan dari salah satunya. Oleh karena itu, harus dikhusukan jawabannya. Lalu dikatakan “ “ misalnya .

b) Tashdiq yaitu menunjukkan terjadi atau tidaknya nisbat antara dua perkara. Contohnya: أحضر الامير؟ (Apakah raja itu telah datang?)

Dalam kalimat tersebut dibutuhkan penjelasan tentang tetap dan tidaknya nisbat. Dan dalam hal ini , istifham hamzah dijawab dnegan “ YA” atau “TIDAK”

Contoh: أعلى مسافر؟ (Apakah ali pergi?)

Dan bersama hamzah yang bertujuan bertashdiq ini dilarang menyebutkan lafadz imbangannya. Sebgaimana contoh dimuka. Apabila setelah hamzah tashdiq tersebut dan terdapat lafadz “am” maka harus ditentukan sebagai “am munqoti’ah” dan menggunakan makna “bal”( tetapi). Seperti ucapan penyair:

ولست ابالى بعد فقدى مالكا # امواتى ناء ام هو الان واقع

Aku tidak memperdulikan, setelah aku ditinggal si malik, apakah kematianku masih jauh, tapi kematianku sekarang tiba .

2. Hal ((هل؟ hanya digunakan untuk menghendaki tashdiq saja artinya untuk mengetahui terjadi atau tidaknya nisbat atau tidak boleh menyebut bandingan perkara yang ditanyakan dengan hal .

Contoh: هل جاء الامير؟ (apakah raja telah datang?)

Untuk menjawab istifham tersebut adalah dengan perkataan “ YA” atau “TIDAK” ( نعم او لا). Istifham itu ada 2 macam yaitu: Bashitah, bila untuk menanyakan wujud atau tidaknya sesuatu.

Contohnya: هل الانسان الكامل موجود؟ (apakah manusia sempurna itu ada?)

Murakkabah, bila untuk menanyakan keberadaaan sesuatu pada sesuatu.
Contohnya:
هل النبات حشاس؟ (apakah tumbuh-tumbuhan itu memiliki kepekaan?)

Sedangkan Istifham hal itu tidak boleh masuk pada :

a. lafadz yang didahului naïf, jadi tidak boleh diucapkan.
هل لم يفهم علي؟ (Apakah ali tidak faham?)

b. Fi’il mudhari’ yang menunjukkan zaman yang sedang berjalan, jadi tidak boleh diucapkan.

هل تحتقرعليا وهو شجاع؟ (Apakah engkau meremehkan ali, padahal dia pemberani? )

c. Lafadz inna, jadi tidak boleh diucapkan.
هل ان الامير مسافر؟ (Apakah raja itu benar-benar pergi?)

d. Perabot syarat, jadi tidak boleh diucapkan.
هل اذازرتك تكرمنى؟ (Apakah bila aku mengunjungimu, maka engkau memuliakan aku?)

e. Huruf athaf, jadi tidak boleh diucapkan:

هل فيتقدم او هل ثم يتقد م؟ (Apakah kemudian ia didahulukan, atau apakah selanjutnya ia didahulukan?)

f. Isim yang sesudahnya terdapat fi’il, jadi tidak boleh diucapkan: هل بشرامنا واحدا انتبعه؟ (Apakah pada manusia dari kita yang hanya seorang kita mengikutinya?)

3. Man(من) yaitu Untuk menanyakan makhluk yang berakal .
Contohnya: siapa ini ?
من هذا؟

4. Maa (ما ) yaitu untuk menanyakan sesuatu yang tidak berakal.
Contohnya: Berlebihan itu?
مالاسراف؟

5. Mata (متى) yaitu untuk menanyakan keterangan waktu, baik yang lalu maupun yang akan datang. Contohnya:
متى يعود المسافرون؟ (Kapankah para musafir itu kembali?)

6. Ayyaana (ايان) yaitu untuk menanyakan keterangan waktu yang akan dating secara khusus, tetapi merupakan masa yang mengejutkan dan dikategorikan bersejarah, bukan masa yang lain. Contohnya: ؟يسأل أيان يوم القيامة (Ia bertanya, kapankah hari kiamat itu terjadi?)

7. Kaifa (كيف) yaitu untuk menanyakan keterangan keadaan .
Contohnya:
فكيف اذاجئنا من كل امة بشهيد (Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti, apabila kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat.

Dan seperti ucapan penyair:

وكيف أخاف الفقراواحرم الغنى # ورأى الامير المؤمنين جميل

Dan bagaimanakah aku takut fakir, atau akau terhalang kekayaan sedangkan pemikiran amirul mukminin adalah baik.

8. Aina (أين ) yaitu Untuk menayakan keterangan tempat.
Contohnya;
أين الطبيب؟ (dimanakah dokter itu?)

9. Anna ( انى) mempunyai 3 makna, bagaimana, darimana, dan kapan.
Contohnya:
يا مريم, انى لك هذا؟ (Hai maryam, bagaimankah kamu memperoleh makanan ini?)

زرنى انى شئت (Kunjungilah saya, kapan saja anda menginginkan? )

انى يحيى هذه الله بعد موتها (Bagaimana Allah menghidupkan ini setelah mati?)

10. Kam ( كم) untuk menanyakan keterangan jumlah.

Contoh: كم لبثتم؟ (sudah berapa lamakah kamu berada disini?)

11. Ayyun (أي ) untuk menanyakan dan menghendaki perbedaan antara salah satu dua hal yang berserikat dalam satu urusan yang meliputinya.

12. Contohnya: ؟اى الفرقين خير مقاما (Manakah diantara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya?) Istifham ayyun juga untuk menanyakan tentang masa, tempat, keadaan,bilangan, jumlah, makhluk berakal, makhluk yang tidak berakal sesuai dengan lafadz yang disandarinya .

  1. Adat Istifham dan maknanya yang ghairu hakiki

Terkadang lafadz-lafadz istifham itu keluar dari maknanya yang asli. Jadi, terkadang kala untuk menanyakan tentang sesuatu tetapi telah diketahui, namun karena tujuan-tujuan yang bisa dimengerti dari susunan kalimat dan segi penunjukkan maknanya, diantaranya:

1. Amar (Perintah )

Contoh : (فهل انتم منتهنون ( المائدة: 91) artinya: maka berhentilah kamu ( dari mengerjakan pekerjaan itu)! ( Al maidah: 91)

2. Nahi (Larangan )

Contoh: (اتخشونهم فالله احق ان تخشوه ( التوبة: 13) Artinya : janganlah kamu takut kepada mereka, karena allahlah yang berhak kamu takuti ( At taubah:13)

3. Taswiyah (untuk mempersamakan )

Contohnya: ( التقرة: 6)(سواء عليهم اانذوتهم ام لم تنذرهم لا يؤنون)

sama saja bagi mereka kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka juga akan beriman ( al baqarah: 6)

4. Nafi’( Meniadakan)

contohnya: (هل جزاء الاحسان الا الاحسان ( الرحمن: 6) tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan juga ( ar rahman: 60).

5. Ingkar

Contohnya: (أغير الله تدعون ( الانعام: 4) Apakah kamu menyeru selain Allah?

6. Tasywiiq (untuk merindukan )

contohnya: (هل ادلكم على تجارة تنجيكم من عذاب عليم ( الصف: 100) sukakah kamu aku tunjukkan seuatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang snagat pedih? (ash shaff: 100)

7. Isti’nas ( Untuk menyenangkan hati)

contohnya:(وما تلك بيمينك يا موسى ( طه: 16) apakah itu yang ditangan kanan nabi musa? (Thaha: 17)

8. Taqrir ( Menetapkan)

contohnya: (لم نشرح لك صدرك ( الانشراح: 1) bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? (Al insyirah: I)

9. Tahwil ( mengejutkan atau mnakjubkan)

Contohnya: hari kiamat, apakah ahri kiamat itu? Dan tahukah kamu apa hari kiamat itu? ( al haaqah: 1-3)

10. Istib’ad ( menganggap jauh)

Contohnya: bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi peringatan? ( ad dukhon: 13)

11. Ta’dhim ( mengagungkan)

contohnya: siapakah yang dapat memberi syafaat disisi Allah tanpa izinnya? ( al baqarah : 255) .

12. Tahqiir ( menghina)

أهذه الذى مدحته كثيرا؟ apakah orang ini yang engkau sanjung sebanyak-banyaknya?

13. Ta’ajub ( merasa kagum)

Mengapa rasul ini memakan makanan dan bejalan dipasar-pasar ( al furqan: 7)

14. Tahakum ( mengejek atau mengolok-olok)

اعقلك يسوغ لك ان تفعل كذا؟ apakah akalmu membolehkan engkau berbuat demikian?

15. Qa’iid ( ancaman)

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana tuhanmu berbuat kaum aad?

16. Istibtha’ ( menganggap lambat)

Bilakah datangnya pertolongan Allah. (Al baqarah: 214)

17. Tanbih ala khata’ (meningkatkan terhadap kekliruan )

maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ( al baqarah: 61)

18. Tanbih ala bathil ( meningkatkan terhadap keburukan)

maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang tuli dapat mendengar atau dapatkah kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta hatinya? (az zukhruf: 40)

19. Tanbih ala dalali thariq ( meningkatkan terhadap sesatnya jalan)

فاين تذهبوت maka kemanakah kamu akan pergi?( at takwiir: 26)

20.taksir (memperbanyak)

صاح هذه قبورنا تملاء الرحد # ب فأين القبور من عهد عاد

Hai temanku, inilah kubur-kubur kami, yang menemui tempat yang lapang, maka dimanakah kubur-kubur yang lain sejak masa kaum Aad?

  1. Pengrtian Tamanni

مُستحيلًا أوْ بعيدَ الوقوعِ، كقولِه:

Adapun disebut Tamanni adalah: menuntut terjadinya sesuatu yang diidamkan yang tidak diharap keberhasilannya karena mustahil terjadi atau sulit tercapai, contoh mustahil terjadi, dalam sya’ir :

أَلاَ ليتَ الشبابَ يَعودُ يومًا = فأُخْبِرُه بما فَعَلَ الْمَشيبُ

Ketahuilah…. Sekiranya masa muda itu kembali suatu hari, maka akan kuceritakan sesuatu yg diperbuat di masa tuanya (alias kepahitan2 dan penyesalan).

وقولِ الْمُعسِرِ:

Contoh perkataan orang bangkrut (tamanni yang sulit tercapai):

(ليتَ لي أَلْفَ دينارٍ)

Sekiranya aku mempunyai uang seribu dinar

وإذا كان الأمْرُ متوَقَّعَ الحصولِ فإنَّ تَرُقُّبَه يُسَمَّى تَرَجِّيًا، ويُعبَّرُ عنه بـ (عسى) أو(لعلَّ)، نحوُ:

Apabila perkara itu dimungkinkan terjadi, maka penantian keberhasilannya disebut taroji, dan diucapkan dengan kata ASAA atau LA’ALLA contoh:

{لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا}.

Barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru

وللتَّمَنِّي أربَعُ أدواتٍ: واحدةٌ أصليَّةٌ، وهيَ (ليتَ)، وثلاثةٌ غيرُ أصليَّةٍ، وهي: (هل)، نحوُ: {فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا}.

Tamanni mempunyai empat Adawat (perangkat/lafazh yg menunjukkan tamanni): satu adat sebagai yang asli yaitu: LAITA. Dan tiga adat bukan yg asli yaitu:

1. HAL

Contoh: FA HAL LANAA MIN SYUFA’AA FA YASYFA’UU LANAA maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami

و (لو)، نحوُ: {فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ}،

2. LAW

Contoh: FA LAW ANNA LANAA KARROTAN FA NAKUUNA MINAL-MU’MINIIN maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman

و(لعلَّ)، نحوُ قولِه: أَسِرْبَ الْقَطَا هلْ منْ يُعِيرُ جَناحَهُ = لَعَلِّي إلى مَنْ قدْ هَوِيْتُ أَطِيرُ

3. LA’ALLA

Contoh sya’ir: A SIRBAL-QATHAA HAL MAN YU’IIRU JANAAHA HU # LA’ALLIY HAWIITU ATHIIRU. Hai.. sekawanan burung! Adakah kiranya diantara kalian yg sudi meminjamkan sayapnya, semoga aku bisa terbang sampai pada seseorang yg sangat aku cintai .

ولاستعمالِ هذه الأدواتِ في التَّمنِّي يُنْصَبُ المضارعُ الواقعُ في جوابِها.

Penggunaan adawat ini (tiga adat yg tidak asli) di dalam tamanni yaitu dinashabkannya fi’il mudhari yang jatuh sebagai jawabnya. (demikian juga LA’ALLA menurut ulama bashrah. Sedangkan menurut ulama kufah nashabnya fi’il mudhari’ tsb tidaklah menjadi dalil atas tamanni, karena mereka juga membolehkan nashabnya fi’il mudhari pada jawab taroji).

  1. Pengertian Nidaa’

Pengertian nidaa’ manyapa dengan diawali huruf nidaa’

Ø Huruf-huruf ada 8 : hamzah,aiy,aa,aay,ayaa,hayaa dan waa

Ø Hamza dan aiy untuk nidaa’ dekat dan selain dua ini menunjukan jauh.

Ø Kadang juga kita bisa memakai hamzah dan aiy untuk seorang yang jauh , sebagai isyara dekat dihati

Ø Kadang juga sebaliknya seperti conto yang muliah!

Nidaa’ bisa juga tidak dimaknai, makna aslinya:

0 komentar:

Poskan Komentar