Menyibak kembali lembaran-lembaran kehidupan manusia-manusia suci - khususnya Imam Al-Husain as. - akan memberikan kepada kita, sebagai makhluk Tuhan yang paling fenomenal di jagad raya ini, sebuah arti jati diri dan nilai kemanusiaan. Di saat umat manusia kebingungan dalam memahami hakikat (esensi) dirinya - kebingungan itu tampak jelas dalam interpretasi-interpretasi yang dituangkan dalam filsafat-materialis dan dalam sikap manusia ketika berhadapan dengan alam sekitar - orang-orang suci datang untuk menjelaskan problema yang super sulit, yaitu apa hakikat manusia ?
Para nabi dan imam as. berusaha menjelaskan tentang manusia. Lebih dari itu, mereka pun menampilkan diri mereka sebagai manusia dalam arti yang sebenarnya. Setiap ucapan dan perbuatan mereka merupakan sisi atau wajah yang indah dari hakikat manusia. Mereka akan selalu tampil indah dan menawan karena mereka adalah manusia yang sebenarnya. Oleh karena manusia adalah manifestasi Tuhan yang paling jelas, maka ia adalah khalifah-Nya, pembawa pesan-Nya dan ia menjadi sebab diciptakannya alam raya. Dalam pandangan Islam, kemanusiaan adalah pengenalan manusia akan dirinya sebagai ciptaan Allah dan upayanya untuk memerdekakan diri dengan-Nya. Atau, dengan kata lain, manusia yang hakiki adalah manusia yang beriman dengan sumber wujudnya dan berusaha untuk sampai kepada-Nya.
Tidak heran dan sangat beralasan kalau manusia-manusia suci itu teladan yang terbaik, dan segala gerak-gerik mereka patut ditiru dan diikuti. Tanpa mengikuti dan meniru mereka kita tidak akan dapat memahami manusia dan bahkan tidak akan mungkin menjadi manusia yang sebenarnya. Mereka adalah cermin kemanusiaan yang bersih untuk kita bercermin kepada mereka sehingga kita dapat mengetahui bagian mana dari wajah-wajah kita yang jelek dan kotor. Mereka adalah standar yang paten agar kita dapat mengukur setinggi apa kemanusiaan yang kita miliki. Rasulullah Saww. pernah bersabda bahwa Ali adalah barometer untuk mengukur keimanan seseorang. Beliau juga bersabda, "Wahai Ali, tidak ada yang mencintaimu kecuali orang mukmin dan tidak ada yang membencimu kecuali orang munafik" dan beliau bersabda, "Ali selalu bersama kebenaran dan kebenaran akan selalu bersama Ali. Keduanya beriringan ke manapun berputar". Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata, "Sesungguhnya kebenaran dan kebatilan tidak diukur (diketahui) dengan kedudukan orang. Tetapi kenalilah kebenaran niscaya kamu mengetahui orangnya dan kenalilah kebatilan niscaya kamu mengetahui orangnya". Beliau mengucapkan perkataan ini sebagai jawaban atas pertanyaan protes atau keberatan sebagian pengikutnya ketika harus berhadapan dengan sejumlah tokoh sahabat Nabi dan seorang isteri Nabi. Memang mereka bingung dan ragu namun menetapi keimanan kepada kebenaran menuntut untuk menaati kepada Ali sebagai manusia suci.
Selain Ali bin Abi Thalib as, manusia-manusia suci lainnya juga telah menghiasi sejarah kehidupan umat manusia. Meskipun mereka telah tiada, namun ruh dan semangat mereka masih tetap hidup dan memberikan energi sepanjang masa. Ada ungkapan yang mengatakan, "Sesungguhnya kematian Al-Husain masih bergelora di hati orang-orang yang beriman."
Peristiwa Karbala atau Asyura adalah episode monumental yang menjadi bagian dari sejarah umat manusia yang tidak boleh terlupakan. Pada peristiwa itu dipentaskan wajah-wajah kemanusiaan yang indah nan menawan, bersamaan dengan penampilan sisi-sisi kebinatangan yang rakus dan buas, yang berkedok manusia. Al-Husain as. beserta keluarga Nabi saww. dan para sahabatnya mewakili golongan manusia yang sebenarnya berhadapan dengan Umar bin Sa'ad dan kroni-kroninya yang mewakili binatang-binatang yang berkedok manusia.
Al-Husain as., sebagaimana manusia suci lainnya, adalah penentu dan pemisah dengan lisan dan sikapnya, antara manusia yang hakiki dengan binatang yang manusia. Keimanan seseorang diukur dengan sejauh mana kesetiaannya terhadap Al-Husain as. Pada persitiwa Asyura, terdapat tiga tipe manusia:
Pertama, manusia-manusia yang comitted dan konsekwen dengan kebenaran yang mereka yakini. Mereka siap menanggung resiko apapun demi kebenaran meskipun dengan mengorbankan harta dan nyawa. Mereka itu adalah orang-orang yang bergabung bersama Al-Husain as. sampai tetes darah terakhir. Tipe manusia ini seperti yang Allah swt. sebutkan, "Dari kalangan orang-orang yang beriman terdapat orang-orang yang menepati janji mereka kepada Allah, di antara mereka ada yang mendapatkan ajalnya..."(QS Al-Ahzab, 33: 23).
Kedua, manusia-manusia yang menolak kebenaran dan mempertahankan kebatilan karena kecintaan mereka kepada dunia, fanatisme, kebencian, dan lainnya. Mereka itu adalah Yazid bin Mu'awiyah, Ubaidillah bin Ziyad, dan pasukan Umar bin Sa'ad.
Ketiga, manusia-manusia yang mengikuti kebenaran dan menolak kebatilan. Namun keterikatan mereka dengan kebenaran sejauh tidak membawa resiko yang mengancam harta dan nyawa. Mereka ingin mencari jalan yang aman bagi dirinya, mereka meninggalkan kesetiaan kalau menanggung resiko. Tentang tipe ini, Allah berfirman, "Dan dari manusia ada yang menyembah Allah di atas tepi, jika dia mendapatkan kesenangan, maka dia akan tenang dan jika tertimpa fitnah (cobaan) dia akan berpaling..." (QS Al-Hajj, 22 : 11). Pada zaman Al-Husain as. tipe ketiga ini tidak sedikit. Mereka lebih memilih ibadah daripada bergabung dengan Al-Husain untuk berjuang melawan Yazid.
Dengan figur Al-Husain as. diketahui mana di antara kaum Muslimin yang benar-benar manusia, dengan segala nilai kemanusiaannya, dan mana yang benar-benar binatang namun berkedok manusia serta mana yang menyembunyikan kebinatangannya di dalam kesalehan dan ibadah.
Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di bumi. Tujuan penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Sedangkan tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat. Jadi, manusia di atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai kesenangan di dunia dan ketenangan di akhirat.
Apa yang harus dilakukan oleh khalifatullah itu di bumi? Dan bagaimanakah manusia melaksanakan ibadah-ibadah tersebut? Serta bagaimanakah manusia bisa mencapai kesenangan dunia dan ketenangan akhirat tersebut? Banyak sekali ayat yang menjelaskan mengenai tiga pandangan ini kepada manusia. Antara lain seperti disebutkan pada Surah Al-Baqarah ayat 30:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“. (Q.S. Al-Baqarah: 30)
Khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah ditentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia itu berada di bumi sebagai khalifatullah.
Jika kita menyadari diri kita sebagai khalifah Allah, sebenarnya tidak ada satu manusia pun di atas dunia ini yang tidak mempunyai “kedudukan” ataupun “jabatan”. Jabatan-jabatan lain yang bersifat keduniaan sebenarnya merupakan penjabaran dari jabatan pokok sebagai khalifatullah. Jika seseorang menyadari bahwa jabatan keduniawiannya itu merupakan penjabaran dari jabatannya sebagai khalifatullah, maka tidak ada satu manusia pun yang akan menyelewengkan jabatannya. Sehingga tidak ada satu manusia pun yang akan melakukan penyimpangan-penyimpangan selama dia menjabat.
Jabatan manusia sebagai khalifah adalah amanat Allah. Jabatan-jabatan duniawi, misalkan yang diberikan oleh atasan kita, ataupun yang diberikan oleh sesama manusia, adalah merupakan amanah Allah, karena merupakan penjabaran dari khalifatullah. Sebagai khalifatullah, manusia harus bertindak sebagaimana Allah bertindak kepada semua makhluknya.
Pada hakikatnya, kita menjadi khalifatullah secara resmi adalah dimulai pada usia akil baligh sampai kita dipanggil kembali oleh Allah. Manusia diciptakan oleh Allah di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Lantas, apakah manusia ketika berada di dalam rahim ibunya tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba? Apakah janin yang berada di dalam rahim itu tidak beribadah?
Pada dasarnya, semua makhluk Allah di atas bumi ini beribadah menurut kondisinya. Paling tidak, ibadah mereka itu adalah bertasbih kepada Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah:
Yushabbihu lillahi ma fissamawati wama fil ardh.
Bebatuan, pepohonan, gunung, dan sungai misalkan, semuanya beribadah kepada Allah dengan cara bertasbih. Dalam hal ini, janin yang berada di dalam rahim ibu beribadah sesuai dengan kondisinya, yaitu dengan cara bertasbih. Ketika Allah akan meniupkan roh ke dalam janin, maka Allah bertanya dulu kepada janin tersebut. Allah mengatakan “Aku akan meniupkan roh ke dalam dirimu. Tetapi jawab dahulu pertanyaan-Ku, baru Aku akan tiupkan roh itu ke dalam dirimu. Apakah engkau mengakui Aku sebagai Tuhanmu?” Lalu dijawab oleh janin tersebut, “Iya, aku mengakui Engkau sebagai Tuhanku.”
Dari sejak awal, ternyata manusia itu sebelum ada rohnya, atau pada saat rohnya akan ditiupkan, maka Allah menanyakan dahulu apakah si janin mau mengakui-Nya sebagai Tuhan. Jadi, janin tersebut beribadah menurut kondisinya, yaitu dengan bertasbih kepada Allah. Tidak ada makhluk Allah satupun yang tidak bertasbih kepada-Nya.
Manusia mulai melakukan penyimpangan dan pembangkangan terhadap Allah yaitu pada saat ia berusia akil baligh hingga akhir hayatnya. Tetapi, jika kita ingat fungsi kita sebagai khalifatullah, maka takkan ada manusia yang melakukan penyimpangan.
Makna sederhana dari khalifatullah adalah “pengganti Allah di bumi”. Setiap detik dari kehidupan kita ini harus diarahkan untuk beribadah kepada Allah, seperti ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya:
Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa li ya’budu.
“Tidak Aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk menyembah kepada-Ku.”
Kalau begitu, sepanjang hayat kita sebenarnya adalah untuk beribadah kepada Allah. Dalam pandangan Islam, ibadah itu ada dua macam, yaitu: ibadah primer (ibadah mahdhah) dan ibadah sekunder (ibadah ghairu mahdhah). Ibadah mahdhah adalah ibadah yang langsung, sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah tidak langsung. Seseorang yang meninggalkan ibadah mahdhah, maka akan diberikan siksaan oleh Allah. Sedangkan bagi yang melaksanakannya, maka akan langsung diberikan ganjaran oleh Allah. Ibadah mahdhah antara lain: shalat, puasa, zakat, dan haji. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah semua aktifitas kita yang bukan merupakan ibadah mahdhah tersebut, antara lain: bekerja, masak, makan, dan menuntut ilmu.
Ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang paling banyak dilakukan dalam keseharian kita. Dalam kondisi tertentu, ibadah ghairu mahdhah harus didahulukan daripada ibadah mahdhah. Nabi mengatakan, jika kita akan shalat, sedangkan di depan kita sudah tersedia makanan, maka dahulukanlah untuk makan, kemudian barulah melakukan shalat. Hal ini dapat kita pahami, bahwa jika makanan sudah tersedia, lalu kita mendahulukan shalat, maka dikhawatirkan shalat yang kita lakukan tersebut menjadi tidak khusyu’, karena ketika shalat tersebut kita selalu mengingat makanan yang sudah tersedia tersebut, apalagi perut kita memang sedang lapar.
Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna yang memiliki berbagai kemampuan. Oleh karena itu, manusia wajib bersyukur atas karunia yang telah diberikan Allah Swt.
Manusia menurut pandangan al-Quran, al-Quran tidak menjelaskan asal-usul kejadian manusia secara rinci. Dalam hal ini al-Quran hanya menjelaskan mengenai prinsip-prinsipnya saja. Ayat-ayat mengenai hal tersebut terdapat dalam surat Nuh 17, Ash-Shaffat 11, Al-Mukminuun 12-13, Ar-Rum 20, Ali Imran 59, As-Sajdah 7-9, Al-Hijr 28, dan Al-Hajj 5.
Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah. Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsure kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, al-Quran tidak menjelaskan secara rinci. Manusia yang sekarang ini, prosesnya dapat diamati meskipun secara bersusah payah. Berdasarkan pengamatan yang mendalam dapat diketahui bahwa manusia dilahirkan ibu dari rahimnya yang proses penciptaannya dimulai sejak pertemuan antara permatozoa dengan ovum.
Ayat-ayat yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah, umumnya dipahami secara lahiriah. Hal ini itu menimbulkan pendapat bahwa manusia benar-benar dari tanah, dengan asumsi karena Tuhan berkuasa , maka segala sesuatu dapat terjadi.
Akan tetapi ada sebagian umat islam yang berpendapat bahwa Adam bukan manusia pertama. Pendapat tersebut didasarkan atas asumsi bahwa:
Ayat-ayat yang menerangkan bahwa manusia diciptakan dari tanah tidak berarti bahwa semua unsure kimia yang ada dalam tanah ikut mengalami reaksi kimia. Hal itu seperti pernyataan bahwa tumbuh-tumbuhan bahan makanannya dari tanah, karena tidak semua unsur kimia yang ada dalam tanah ikut diserap oleh tumbuh-tumbuhan, tetapi sebagian saja. Oleh karena itu bahan-bahan pembuk manusia yang disebut dalam al-Quran hanya merupakan petunjuk manusia yang disebut dalam al-Quran , hanya merupakan petunjuk dimana sebenarnya bahan-bahan pembentuk manusia yaitu ammonia, menthe, dan air terdapat, yaitu pada tanah, untuk kemudian bereaksi kimiawi. Jika dinyatakan istilah “Lumpur hitam yang diberi bentuk” (mungkin yang dimaksud adalah bahan-bahan yang terdapat pada Lumpur hitam yang kemudian diolah dalam bentuk reaksi kimia). Sedangkan kalau dikatakan sebagai tembikar yang dibakar , maka maksudnya adalah bahwa proses kejadiannya melalui oksidasi pembakaran. Pada zaman dahulu tenaga yang memungkinkan terjadinya sintesa cukup banyak dan terdapat di mana-mana seperti panas dan sinar ultraviolet.
Ayat yang menyatakan ( zahir ayat ) bahwa jika Allah menghendaki sesuatu jadi maka jadilah ( kun fayakun ), bukan ayat yang menjamin bahwa setiap yang dikehendaki Allah pasti akan terwujud seketika. Dalam hal ini harus dibedakan antara kalimat kun fayakun dengan kun fa kana. Apa yang dikehendaki Allah pasti terwujud dan terwujudnya mungkin saja melalui suatu proses. Hal ini dimungkinkan karena segala sesuatu yang ada didunia juga mengalami prosi yang seperti dinyatakan antara lain dalam surat al-A’la 1-2 dan Nuh 14.
Jika diperhatikan surat Ali Imran 59 dimana Allah menyatakan bahwa penciptaan Isa seperti proses penciptaan Isa seperti proses penciptaan Adam, maka dapat menimbulkan pemikiran bahwa apabila isa lahir dari sesuatu yang hidup, yaitu maryam, maka Adam lahir pula dari sesuatu yang hidup sebelumnya. Hal itu karena kata “tsumma” yang berarti kemudian, dapat juga berarti suatu proses.
Perbedaan pendapat tentang apakah adam manusia pertama atau tidak, diciptakan langsung atau melalui suatu proses tampaknya tidak akan ada ujungnya karena masing-masing akan teguh pada pendiriannya. Jika polemik ini senantiasa diperpanjang, jangan-jangan hanya akan menghabiskan waktu dan tidak sempat lagi memikirkan tentang status dn tugas yang telah ditetapkan Allah pada manusia al-Quran cukup lengkap dalam memberikan informasi tentang itu.
Untuk memahami informasi tersebut secara mendalam, ahli-ahli kimi, biologi, dan lain-lainnya perlu dilibatkan, agar dalam memahami ayat-ayat tersebut tidak secara harfiah. Yang perlu diingatkan sekarang adalah bahwa manusia oleh Allah, diharapkan menjadi khalifah ( pemilih atau penerus ajaran Allah ). Status manusia sebagai khalifah , dinyatakan dalam al-baqarah 30. kata khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah. Kebanyakan umat Islam menerjemahkan dengan pemimpin atau pengganti, yang biasanya dihubunkan dengan jabatan pimpinan umat islam sesudah Nabi Muhammad saw wafat , baik pimpinan yang termasuk khulafaurrasyidin maupun di masa Muawiyah-‘Abbasiah.
Perlu diingat bahwa istilah khalifah pernah dimunculkan Abu bakar pada waktu dipercaya untuk memimpin umat islam. Pada waktu itu beliau mengucapkan inni khalifaur rasulillah, yang berarti aku adalah pelanjut sunah rasulillah. Dalam pidatonya setelah diangkat oleh umat islam, abu bakar antara lain menyatakan “selama saya menaati Allah, maka ikutilah saya, tetapi apabila saya menyimpang , maka luruskanlah saya”. Jika demikian pengertian khalifah, maka tidak setiap manusia mampu menerima atau melaksanakan kekhalifahannya. Hal itu karena kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang mau memilih ajaran Allah.
Dalam penciptaannya manusia dibekali dengan beberapa unsure sebagai kelengkapan dalam menunjang tugasnya. Unsur-unsur tersebut ialah : jasad ( al-Anbiya’ : 8, Shad : 34 ). Ruh (al-Hijr 29, As-Sajadah 9, Al-anbiya’ :91 dan lain-lain); Nafs (al-Baqarah 48, Ali Imran 185 dan lain-lain ) ; Aqal ( al-Baqarah 76, al-Anfal 22, al-Mulk 10 dan lain-lain); dan Qolb ( Ali Imran 159, Al-Ara’f 179, Shaffat 84 dan lain-lain ). Jasad adalah bentuk lahiriah manusia, Ruh adalah daya hidup, Nafs adalah jiwa , Aqal adalah daya fakir, dan Qolb adalah daya rasa. Di samping itu manusia juga disertai dengan sifat-sifat yang negatif seperti lemah ( an-Nisa 28 ), suka berkeluh kesah ( al-Ma’arif 19 ), suka bernuat zalim dan ingkar ( ibrahim 34), suka membantah ( al-kahfi 54 ), suka melampaui batas ( al-‘Alaq 6 ) suka terburu nafsu ( al-Isra 11 ) dan lain sebagainya. Hal itu semua merupakan produk dari nafs , sedang yang dapat mengendalikan kecenderungan negatif adalah aqal dan qolb. Tetapi jika hanya dengan aqal dan qolb, kecenderungan tersebut belum sepenuhnya dapat terkendali, karena subyektif. Yang dapat mengendalikan adalah wahyu, yaitu ilmu yang obyektif dari Allah. Kemampuan seseorang untuk dapat menetralisasi kecenderungan negatif tersebut ( karena tidak mungkin dihilangkan sama sekali ) ditentukan oleh kemauan dan kemampuan dalam menyerap dan membudayakan wahyu.
Berdasarkan ungkapan pada surat al-Baqarah 30 terlihat suatu gambaran bahwa Adam bukanlah manusia pertama, tetapi ia khalifah pertama. Dalam ayat tersebut, kata yang dipakai adalah jaa’ilun dan bukan khaaliqun. Kata khalaqa mengarah pada penciptaan sesuatu yang baru, sedang kata ja’ala mengarah pada sesuatu yang bukan baru,dengan arti kata “ memberi bentuk baru”. Pemahaman seperti ini konsisten dengan ungkapan malaikat yang menyatakan “ apakah engkau akan menjadikan di bumi mereka yang merusak alam dan bertumpah darah?” ungkapan malaikat tersebut memberi pengertian bahwa sebelum adam diciptakan, malaikat melihat ada makhluk dan jenis makhluk yang dilihat adalah jenis yang selalu merusak alam dan bertumpah darah. Adanya pengertian seperti itu dimungkinkan, karena malaikat tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa depan, sebab yang tahu apa yang akan terjadi dimasa depan hanya Allah.
Dengan demikian al-Quran tidak berbicara tentang proses penciptaan manusia pertama. Yang dibicarakan secara terinci namun dalam ungkapan yang tersebar adalah proses terciptanya manusia dari tanah, saripati makanan, air yang kotor yang keluar dari tulang sulbi, alaqah, berkembang menjadi mudgah, ditiupkannya ruh, kemudian lahir ke dunia setelah berproses dalam rahim ibu. Ayat berserak, tetapi dengan bantuan ilmu pengetahuan dapat dipahami urutannya. Dengan demikian, pemahaman ayat akan lebih sempurna jika ditunjang dengan ilmu pengetahuan.
Oleh karena al-Quran tidak bicara tentang manusia pertama. Biarkanlah para saintis berbicara tentang asal-usul manusia dengan usaha pembuktian yang berdasarkan penemuan fosil. Semua itu bersifat sekedar pengayaan saint untuk menambah wawasan pendekatan diri pada Allah. Hasil pembuktian para saintis hanya bersifat relatif dan pada suatu saat dapat disanggah kembali, jika ada penemuan baru. Misalnya, mungkinkah penemuan baru itu dilakukan oleh ulama islam?.
Persamaan dan perbedaan manusiav dengan makhluk lain
Dibanding makhluk lainnya manusai mempunyai kelebihan-kelebihan. Kelebihan-kelebihan itu membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik didarat, dilaut, maupun diudara. Sedangkan binatang bergerak diruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak didarat dan dilaut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa melampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atas makhluk lain dijelaskan surat al-Isra’ ayat 70.
Disamping itu, manusia diberi akal dan hati, sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa al-Quran menurut sunah rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin : 95:4). Namun demikian, manusia akan tetap bermartabat mulia kalau mereka sebagai khalifah ( makhluk alternatif ) tetap hidup dengan ajaran Allah ( QS. Al-An’am : 165 ). Karena ilmunya itulah manusia dilebihkan ( bisa dibedakan ) dengan makhluk lainny.
Jika manusia hidup dengn ilmu selain ilmu Allah, manusia tidak bermartabat lagi. Dalam keadaan demikian manusia disamakan dengan binatang, “mereka itu seperti binatang ( ulaaika kal an’aam ), bahkan lebih buruk dari binatang ( bal hum adhal ). Dalam keadaan demikian manusia bermartabat rendah ( at-Tiin : 4 ).
Sesi pertanyaanØ
1. Manusia pada dasarnya diciptakan dimuka bumi ini sebagai khalifah, apabila manusia tidak pernah menjadi pemimpin apakah menyalahkan hakikat sebagai manusia? Dan mengapa sampai bisa orang itu mabuk atau membunuh ?( Tryan Erlangga )
2. Kenapa al-Quran tidak menjelaskan secara rinci asal-usul kejadian manusia, tetapi al-Quran hanya menjelaskan prinsip-prinsip seperti apa yang dijelaskan oleh al-quran tentang manusia? ( Siti Anisa )
3. Kenapa makhluk gaib memiliki kelebihan yang lain tetapi manusia tidak bisa seperti itu ? dan apakah dajal dapat disebut sebagai khalifah ? ( Mega Cari )
4. Kenapa zahir ayat yang menyatakan bahwa allah itu menghendaki sesuatu jadi maka jadilah ( kun fayakun ), bukan ayat yang menjamin bahwa setiap yang dikehendaki allah pasti akan terwujud seketika ? ( Rizal Taufik )
5. Adakah ilmu selain dari ilmu Allah ? ( Rida Dwi Maharani )
6. Apakah matematika, ilmu pengetahuan sosial, fisika termasuk ilmu Allah ? ( Dimas Ramadani )
JawabanØ
1. Sebetulnya manusia hanya meneruskan ajaran allah dan manusia itu berada dalam posisi di tengah-tengah manusia bisa menjadi positif dan manusia bisa menjadi negatif dan semua itu kembali pada dirinya masing-masing, tidak ada penentuannya dan manusia sendiri yang menentukan dia bisa menjadi pemimpin yang baik itu dengan tingkah laku dan segalanya yang dia perlihatkan. Orang bisa jahat karena kurang keimanan dan ketakwaannya pada allah swt.
2. Karena dalam Al-Quran hanya menjelaskan prosesnya saja, hal tersebut bisa terungkap “ Kemudian Kami jadikan dia ( Adam ) , dan Allah meniupkan padanya ruhNya dan Allah menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati namun sedikit sekali antara kamu bersyukur”. ( As-Sajadah : 9 ) dan terungkap juga surat Nuh : 17, Ash-Shafaat : 11, Al-Mukminuun : 12-13, Ar-rum : 20, Ali Imran : 59, As-Sajadah : 7-9, Al-Hijr : 28, dan Al-Hajj : 5.
3. Sebenarnya manusia itu sudah diberi kelebihan dan manusia juga sebagai makhluk yang mulia dimata Allah dibanding dengan makhluk lainnya. Tidak akan ada Dajal yang menjadi khalifah,karena tidak meneruskan ajaran Allah. Dan dajjal sebagai tanda akan terjadinya kiamat kubro dan dia akan keluar untuk menandakan akan datangnya kiamat tersebut.
4. Karena segala sesuatu yang dikehendaki Allah akan terwujud dan terwujudnya mengalami proses. Misalnya: pertemuan antara permatozoa dengan ovum akan menghasilkan bayi. Sebelum bayim itu lahir kedunia mengalamin beberapa tahap atau proses seperti diberikannya ruh, dan pembentukan-pembentukan bentuk tubuh. Dan contoh lain adalah buah mangga bisa ada dengan cara pada pohon itu terjadi bunga dan dari bunga baru menghasilkan buah.
5. Tidak ada ilmu selain ilmu Allah,maksudnya hanya ilmu-ilmu yang bermanfaat dan ilmu tersebut menuju ajaran Allah Swt,oleh sebab itu apabila ada ilmu yang menjadikan manusia jauh dari ajaran Allah maka itu disebut bukan ilmu Allah. contohnya Animisme, Dinamisme, ilmu Santet, dan semua ilmu sesat.
6. Termasuk apabila dengan belajar matematika, ilmu pengetahuan sosial maupun fisika tersebut kita dapat mengenal dan mendekatkan diri pada Allah.
Sahabat….terkadang pertengkaran kecil-kecilan terjadi di rumah tangga, karena memang didalam rumah tangga tidak selamanya berjalan dengan baik. Namun, yang harus kita ketahui adalah kita memiliki solusi dalam setiap masalah yang di hadapi.
Kadangkala setiap pasangan rumah tangga bertengkar dan ribut. Itu adalah hal yang biasa. Kata orang…itulah bumbu pernikahan. Saat pertengkaran di dalam rumah tangga sudah memanas, harus ada yang berani mengungkapkan kata maaf atau kata-kata lainnya.
Hal itu pernah terjadi dikeluarga saya karena hal sepele. Hanya saja terkadang lagi puncaknya marah, diantara kami berdua selalu saja ada yang berucap, “maapin abi yah atau maapin ummi yah kalau ada yang salah”.
Namun, terkadang dengan sholat berjamaah yang dilanjutkan dengan saling introspeksi. Biasanya suka saya katakan kepada istri, “Tadi masalah yang kita ributkan apa yah?”. Langsung ajah kami berdua tertawa sendiri…karena hal itu merupakan bumbunya rumah tangga.
Ternyata, mudah juga yah solusinya. Bisa terlebih dahulu mengungkapkan kata maaf atau sholat berjamaah. Atau juga menawarkan makanan kesukaan masing-masing. Coba ajah deh
Rasanya, tak semua perkawinan berjalan mulus tanpa konflik. Beberapa bahkan mengalami konflik hebat yang berakhir dengan perceraian. Tentu, Anda tak ingin ini menimpa perkawinan Anda, bukan?
Nah, agar perkawinan Anda bahagia, simak 12 kiat di bawah:
1. BERTENGKAR SECARA FAIR
Bertengkar itu biasa, bahkan bisa menjadi bumbu perkawinan. Namun, tentu tak sembarang bertengkar, melainkan bertengkar secara fair. Bagaimana caranya?
a. Hindari berteriak, memukul, melemparkan sesuatu, menjerit, saat bertengkar. b. Tetap fokus pada satu isu pada saat yang sama. c. Beri kesempatan pasangan berpikir dan tidak harus menyelesaikan masalah sekarang juga. Atur waktu jika memang diperlukan, tapi pastikan Anda siap menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. d. Jangan hanya mendengarkan apa kata pasangan. Cobalah untuk mengerti alasan dan kepedihannya. e. Cobalah berempati dan peduli pada pasangan.
2. LIHATLAH DIRI SENDIRI
Kala sesuatu berlangsung buruk dalam perkawinan, kita sering dengan cepat menuduh pasangan kitalah yang salah, tanpa melihat diri kita sendiri. Padahal, melihat diri sendiri atau melakukan introspeksi seringkali dapat menolong perkawinan.
Dengan instrospeksi, kita akan melihat apa yang perlu diubah. Kita dapat mengubah perspektif kita dalam menghadapi masalah. Kita juga akan menyadari bahwa kita telah melakukan hal yang terbaik dan kita dapat melakukan sesuatu untuk menyelamatkan perkawinan. Berdasarkan pengalaman, biasanya pasangan yang menyalahkan pasangannya justru yang punya masalah. Punya teman selingkuh-lah, selalu mengritik pasangan-lah, bahkan selalu menganiaya, dan sebagainya.
3. BELAJAR SABAR
Kesibukan sering membuat kesabaran habis. Akibatnya, perkawinan pun tak lagi menyenangkan, dipenuhi cekcok dan konflik. Padahal, kesabaran merupakan kunci menyelamatkan perkawinan dari kehancuran. Jadi, jika muncul perbedaan pendapat, cobalah bersabar, cari waktu untuk saling bicara, dan tunjukkan cinta Anda.
4. TERSENYUM
Cara terbaik menghargai pasangan adalah dengan selalu tersenyum dan membiarkan ia tahu bahwa ia sangat berharga buat Anda. Banyak pasangan yang sangat menikmati senyum pasangannya, dan menikmati kala pasangan mengutarakan cinta padanya. Tatap mata pasangan dan biarkan mereka tahu bahwa ialah orang terbaik buat Anda.
5. MENYADARI BERHARGANYA PASANGAN
Banyak orang tidak menghargai pasangannya. Akibatnya, perkawinan pun lama-lama jadi tak nyaman. Cobalah berpikir tentang apa saja yang telah dilakukan pasangan untuk Anda. Tanyakan, apa artinya dia buat Anda, kemudian bagi pikiran itu dengan pasangan. Biarkan dia tahu betapa besar artinya dia bagi Anda.
6. BERI PUJIAN
Ceritakan semua hal yang indah tentang pasangan pada orang lain, khususnya kala ada pasangan di dekat Anda. Ini akan meningkatkan ego pasangan, karena ia pun ingin membuat Anda bahagia dan bangga padanya. Selain itu, orang lain pun akan mempunyai penghargaan lebih padanya seperti yang Anda lakukan.
7. BERSIHKAN RUMAH TANGGA
Bak membersihkan rumah, kehidupan rumah tangga pun sesekali harus pula ’dibersihkan’. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membersihkan hubungan dengan pasangan antara lain meningkatkan komunikasi, menunjukkan perhatian, melakukan hal-hal yang baik, saling memuji dan meminta maaf untuk segala sesuatu yang telah dilakukan, dan sebagainya. Permintaan maaf biasanya juga akan dapat menghapus semua noda dalam perkawinan.
8. HADIAH YANG SELALU DIINGAT
Biasanya, kita membelanjakan sebagian besar uang untuk liburan dan perayaan (seperti lebaran, natal). Jarang yang mempertimbangkan memberikan hadiah yang bisa membuat perkawinan kita berbeda. Saran para ahli, beri pasangan hadiah, sekaligus untuk diri sendiri.
Ingatlah, hadiah terbesar bukanlah harta, melainkan cinta yang tulus. Ada hadiah yang gampang terlupakan, tapi ada pula yang selalu kita ingat. Bukan masalah harga atau bentuk materinya. Hadiah yang terbaik adalah yang kita berikan dengan sepenuh hati. Hadiah-hadiah berikut pasti tak bakal dilupakan pasangan: a. Kartu pos berisi permintaan maaf atas apa yang telah Anda lakukan. b. Puisi yang mengeksperesikan cinta Anda. c. Album foto berisi foto-foto favorit Anda berdua. d. Hadiah yang ia inginkan sejak kecil tapi tak pernah diterimanya. e. Menghabiskan waktu bersama pasangan, walaupun hanya 1-2 jam saja.
9. PERERAT KEINTIMAN
Banyak orang yang lupa untuk mempererat kedekatan dengan pasangan. Padahal, banyak cara bisa dilakukan. Antara lain mencoba selalu dekat dan saling melayani, menghindari melukai pasangan, selalu bersikap jujur pada pasangan, melakukan yang terbaik, dan selalu berpikir positif.
10. KOMPROMI
Perkawinan adalah sebuah kompromi. Jadi, persiapkan diri Anda untuk berkompromi tentang apa yang Anda dan pasangan inginkan.
11. BULAN MADU KEDUA
Kencan berdua juga bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga agar perkawinan tetap terjaga. Anda bisa mengajak pasangan sekedar berjalan-jalan di sekitar rumah atau pertokoan, atau sesekali bepergian ke luar kota barang satu-dua hari.
Resep paling ampuh adalah bulan madu kedua. Anda bisa berbulan madu ke tempat bulan madu pertama Anda dulu. Sepertinya sepele, kan, tapi dengan melakukan hal-hal tersebut, pasangan akan merasa sangat diperhatikan. Ingat, perkawinan yang baik tidak akan berhasil tanpa dukungan dari kedua belah pihak.
12. JALAN TERAKHIR
Jika semua upaya sepertinya tak membuahkan hasil dan perkawinan Anda masih saja dirundung masalah, cobalah ikuti program konsultasi perkawinan. Masuklah ke situs internet yang mengkhususkan diri membantu pasangan meningkatkan hubungan. Anda juga bisa berkonsultasi pada lembaga-lembaga psikologi yang mengkhususkan atas hubungan perkawinan, atau ke lembaga-lembaga perkawinan lainnya.