Minggu, 10 April 2011

Pengertian Iddah

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Iddah memang sudah ada sejak pada zaman jahiliyah, Syari’ah islam menetapkan adanya iddah maka dari itu iddah tetap di akui dan di jalankan oleh mereka.

Di dunia ini tidak mungkin lepas dari masalah, terutama masalah idda. Oleh karena itu kita sebagai kaum hawa yang muslimah harus faham betul apa itu iddah. Maka harus menjunjung tinggi akan nilai-nilai yang terkandung dalam iddah.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Iddah ?

2. Ada berapa Macam-macam Iddah ?

3. Bagaimana hukum Idddah ?

C. Tujuan Penelitian

Memahami dan mengerti betul apa pengertian Iddah, Fungsi, dan Hikmanya.

BAB II

PEMBAHASAN

A.PENGERTIAN IDDAH

Iddah berasal dari kata Adad yang artinya menghitung maksudnya adalah perempuan menghitung hari-harinya dan masa bersihnya.

Menurut istilah yaitu lamanya perempuan (Istri) menunggu tidak boleh kawin setelah kematian suaminya atau setelah berpisah dengan suaminya.

Iddah sudah di kenal juga pada zaman jahiliyah mereka hampir tidak pernah meninggalkan kebiasaan iddah tatkala islam datang kebiasaan itu di akui dan tetap di jalankan karena ada beberapa kemaslahatan di dalamnya. Para ulma’ bersepakat bahwa iddah itu wajib hukumnya. Karena Allah berfirman:

والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثه قروء........ (البقرة : 228)

Artinya: “ wanita yang di tholak hendaknya menahan diri menunggu (tiga kali kuru’)”…. (al-Baqoroh [2]: 228)[1].

NAbi Muhammad bersabda kepada Fatimah binti Qais:

وقوله صلى الله عليه وسلم لفاطنة بنت قيش : إعتدي في بيت ابن أم مكتوم

Artinya: “Beriddahlah kamu di rumah Ibnu ummi maktum”….[2]

B. MACAM-MACAM DAN HUKUM IDDAH

1. Iddah Talak

Iddah talak adalah terjadi karena perceraian, perempuan yang berada dalam iddah talak antara lain:

a. Perempuan yang telah di campuri dan ia belum putus dalam masa haid. Iddahnya 3 kali suci (3 kali haid atau 3 kali Quru’).

Firman Allah SWT:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ وَلا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (البقرة : 228)

Artinya : “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”[3].

Mengenai quru’ para ulama’ fiqih berpendapat berbeda-beda:

1. Fuqaha berpendapat bahwa quru’ itu artinya suci yaitu masa diantara haid.

2. Fuqaha lain berpendapat bahwa quru’ itu haid, terdiri dari Imam Abu Hanifah, Ats-tsauri Al-Auzali, Ibnu Abi Laila. Alasanya adalah untuk mengetahui kolongnya rahim, tidak hamil bagi wanita yang di talak, sedangkan kekosongan rahim hanya di ketahui dengan haid.

3. Fuqaha Anshor berpendapat bahwa quru’ adalah suci terdiri dari Imam Mahit dan Syaf i’. alasanya adalah menjadi pedoman bagi kosongnya rahim dimana masa suci pada haid bukan bukan berarti berpegang pada haid terakhir maka tiga yang di syaratkan harus lengkap masa suci diantara 2 haid.

Nabi SAW bersabda :

مرة فليراجعها حتى يحيض شمّ تطهر ثحيض حتى تطهر شمّ يطلقها

ان شآء قبل ان يمسّها

Artinya : “ suruhlah dia, hendaklah ia merujuk istrinya sehinggah ia haid, kemudian suci kemudian haid lagi kemudian menceraikanya juka mau sebelum ia menyentuhnya. Demikian itulah iddah yang diperintahkan oleh Alloh SWT untuk menceraikan istri[4]

b. Perempuan yang dicampuri dan tidak haid baik ia perempuan belum balig atau perempuan tua yang tidak haid, maka iddahnya untuk 3 bulan menurut penggalan, jika tertalak dapat bertemu pada permulaan bulan

والىء يئسن من المحيضى من نسائكم ان ارتبتم فعرّتهن ثلثة اشهر واّلئ لم يحض (الطلاق :4)

Artinya : “ Dan (pr) yang putus asa dari haid diantara (pr) jika kamu ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka untuk tiga bulan, dan begitu pula (pr) yang tidak haid.” (Q.S. At Talak : 28 :4) [5]

c. Perempuan-perempuan yang tertalak dan belum di setubuhi, perempuan ini, tidak ada iddahnya.

Firman Allah SWT :

ياايهاالذين امنوااذانكحتم المؤمنت ثمّ طلقتموهنّ من قبل ان لاتمسوهنّ فما لكم عليهنّ من عرة تعتر ونها (لللاحزاب :94)

Artinya : ‘’Hai orang-orang yang beriman apabila kamu menikahi perempuan@ yang beriman, kemudian k-moe ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimoe yang kamu minta menyempurnakanya (Q.S Al Ahzab (22):49)

Jika perempuan belum pernah di setubuhi dan di tinggal mati maka iddahnya seperti iddahnya orang i’lah di setubuhi’’[6]

Firman Alloh SWT :

والذين يتوفّون منكم ويذرون ازوجا يتربصن بانفسهنّ اربعة اثهر وعشرا

Artinya : “ orang-orang yang meniggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaknya para istri itu) menangguhkan dirinya (عدة) untuk 4 bulan 10 hari” (Q.S. Al-Baqoroh 2 : 234)[7]

2. Iddah Hamil

Yaitu iddah yang terjadi apabila perempuan-perempuan yang diceraikan itu sedang hamil, iddahnya samapai melahirkan.

Firman Alloh SWT :

واولت للأجمال اجملهن ان يضعن حملهنّ ومن يتق الله يجعل له من امره يسرا (الطلاق :4)

Artinya :“ dan (pr yang hamil waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandunganya . dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Alloh menjadikan baginya kemudian dalam urusnya”. (Q.S. At-talaq 28 : 4)[8]

Contoh :

Apabila ia hamil dengan anak kembar maka iddahnya belum habis sebelum anak kembarnya lahir semua jika (pr) itu keguguran maka iddahnya ialah: sesudah melahikan baik baginya hidup, mati, sempurna badanya / cacat, ruhya telah ditiup /belum.

3. Iddah Wafat

Adalah: Iddah yang terjadi apabila seseorang (perempuan) di tinggal mati suaminya.iddahnya selama 4 bulan 10 hari.

Firman Allah SWT :

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا (البقرة : 234)

Artinya : “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari”. (Q.S. Al-Baqoroh: 234)[9]

4. Iddah wanita yang kehilangan suami.

Seseorang perempuan yang kehilangan suaminya (tidak di ketahui keberadaan suami, apakah dia telah mati atau hidup) maka wajiblah di menunggu selama 4 tahun lamanya sesudah itu hendaknya dia beriddah bulan 10 hari.

عن عمر رضي الله عنه قال : أيما امرأة فقدت زوجها لم ندر أين هو فإنها تنتظر أربعة سنين ثم تعتد أربعة أشهر وعشرا ثم تحل.

Artinya: “ Dari Umar R.A berkata: bagi perempuan yang kehilangan suaminya dan ia tidak mengetahui dimana ia berada sesungguhnya perempuan itu wajib menunggu 4 tahun, kemudian hendaknya ia beriddah 4 bulan 10 hari barulah ia boleh menikah. (H.R Malik)[10].

5. Iddah perempuan yang di Ila’

Bagi perempuan yang di ila’ timbul perbedaan pendapat apakah ia harus menjalani iddah atau tidak.

a. Jumhur Fuqoha’ mengatakan bahwa ia harus menjalani Iddah.

b. Zabir bib Zaid berpendapat bahwa ia tidak wajib iddah.

Perbedaan pendapat ini di sebabkan iddah itu menghabungkan antara iddah dan maslahat bersama-sama. Oleh karena itu bagi fuqoha’ yang lebih memperhatikan segi kemaslahatan, mereka tidak memandang perlu adanya iddah, sedangkan fuqoha’ yang lebih mempewrhatikan segi ibadah maka mereka mewajibkan iddah atasnya.

C. KEDUDUKAN HUKUM IDDAH

Apabila iddahnya adalah iddah tala’ maka suami berhak merujuk kembali. Akan tetapi, apabila ia hendak menikah dengan laki-laki lain, maka ia harus menunggu sampai iddahnya habis.

D.HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI DALAM MASA IDDAH

Fuqoha’ telah sepakat dalam masa iddah tala’ roj’I berhak mendapat nafka dan tempat tinggal. Istri-istri yang di talak dalam keadaan hamil masih berhak mendapat nafkah dan tempat tinggal.

Firman Allah SWT:

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ (الطلاق : 6)

Artinya : “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin” (Q.S. At-Thalaq :6)[11]

E. PERSELISIHAN PENDAPAT FUQOHA’ BAGI ISTRI YANG DI TALAK BA’IN TIDAK DALAM KEADAAN HAMIL.

NO

ULAMA’

TEMPAT TINGGAL

NAFKAH

1

Kufah

Boleh

Boleh

2

Imam Ahmad, Daud,
Abu, Saur, Ishaq

Tidak boleh

Tidak boleh

3

Syafi’i

Boleh

Tidak boleh

4

Imam Abu Anifah

Boleh

Tidak boleh

أن رسول الله ص.م. قال: إنما السكن والنفقة لمن زوجها

Artinya : ”sesungguhnya rosululloh bersabda tempat tinggal dan nafkah hanyalah bagi istri yang dapat di ruju’ oleh suaminya” (Al-Hadist)[12]

F. KELUAR RUMAH BAGI ISTRI YANG BERIDDAH

para ahli fiqih berpendapat tentang hukum perempuan keluar rumah dlam masa iddah sebagai berikut

No

ULAMA’

SIANG

MALAM

1

Hambali

Boleh

Tidak Boleh

2

Hanafi

Tidak Boleh

Tidak Boleh

عن جبر عبدالله رضي الله عنهما قا ل : طلقت حالتى, فااردت ان تجرنخلها فرجرها ان تخرج فات النبى صلى الله عليه وسلم فقل : بال فجري نخالك,فاءنك عسى ان تقى اوتفعلى معرّوفا

Artinya : " jabir bin Abdullah R.A berkata 'Bibiku dicerai ole suaminya lalu ia ingin memetik buah kurmanya tapi dia dilarang oleh seorang laki-laki agar tidak keluar rumah. Bibiku kemudian datang kepada rosul untuk menanyakan hal itu beliau menjawabnya : Ia, boleh. Petiklah buah kurmamu semoga kamu bisa bersedekah atau berbuat kebaikan"[13].

BAB III

PERBEDAAN PARA ULAMA SEBAGAI BERIKUT

No

SYAFI'I

MALIKI

HAMBALI

HANAFI

1

Dianggap belum keluar dari iddah walaupun ia sudah melahirkan

Telah keluar dari iddah walaupun bayi yang keluar berbentuk embrio

Dianggap belum keluar dari iddah walaupun sudah melahirkan

Dianggap belum keluar dari iddah walaupun sudah melahirkan

2

4 Tahun

5 Tahun

4 Tahun

2 Tahun

3

Tidak mewajibkan wanita itu untuk tidak bersholek ketika menjalani iddah wafatnya

Tidak mewajibkan wanita itu untuk tidak bersholek menjalani iddah wafatnya.

Tidak mewajibka wanita itu untuk tidak bersholek ketika menjalani iddah wafatnya

Tidak ada iddah bagi wanita yang bukan muslimah yang bersuami non muslim.

4

Boleh mengawini saudara perempuan bekas istrinya sebelum berakhir masa iddahnya adalah talak Bain

Boleh mengawini saudara perempuan bekas istrinya sebelum berakhir masa iddahnya adalah talak Bain

Tidak boleh melakukan perkawinan terhadap saudara perempuan (istri) atau kawin lagi sesudah wanita yang ditalaknya itu menyelesaikan masa iddahnya baik talak Raji' msupun talak ba'in

5

Wanita tersebut tidak berhak atas waris sekalipun suaminya meninggal ketika dia masih menjalani iddah seperti wanita yang di talak bain dalam keadaan sehat

Wanita itu tetap berhak atas waris sekalipun ia telah bersuami.

Berhak atas waris itu selama wanita tersebut belum bersuami lagi meskipun sudah keluar iddahnya dan waktu berjalannya lama.

Wanita tersebut berhak atas warkis selama masih dalam keadaan iddah dan suaminya berusaha mengindarkan diri dari pewarisan istri dan talak itu dijatuhkan tidak berdasarkan persetujuan istri.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Iddah menurut istilah adalah lamanya (pr) menungguh dan tidak ble menikah

setelah kematian suami atau setelah bercerai dengan suami.

2. Macam-macam iddah yaitu : iddah talak, iddah hamil, iddah wafat, iddah

wanita kehilangan suami, iddah(pr) yang di ila'

3. Kedudukan hukum :

a. Talak raji' berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal

b. Talak bain adalah suami tidak berhak merujuk kembali.

B.Hikmah

1. Untuk mengetahui bersihnya rahim seorang (pr), sehinggah tidak tercampur

antara keturunan seorang yang lain

2. Memberi kesempatan kepada suami istri yang berpisah untuk kembali

kepada kehidupan semula, jika mereka menganggap hal tersebut baik.

4. Kebaikan perkawinan tidak dapat terwujud sebelum kedua suami istri sama-sama hidup lama dalam ikatan akadnya.

C. Saran

Harapan kami semoga dengan selesainya makalah ini dapat memenuhi kebutuhan materi bacaan, terutama bagi para mahasiswa PBA, namun tidak menutup kemungkinan makalah ini bisa sesempurna mungkin, maka dari itu kritik dan saran dari para pembaca kami harapkan terutama dari Bapak dosen pengampuh.

DAFTAR PUSTAKA

Mughniyah, Muhammad Jawad.2006, Fiqih lima mazhab. Jakarta : Lentera.

Sabiq, sayyid. 2007. Fiqih sunnah jilid tiga. Jakarta : Pena pundi aksara.

Abidin, slamet.. Fiqih munakahat, Bandung 2003: PT. Hidayatullah

Al-Quran dan terjemahan Depag RI, 2005



[1] Al-Quran dan terjemahan Depag RI, 2005 QS. (al-Baqoroh [2]: 228

[2] Abidin, slamet Kumpulan hadits Bukhari Muslim dan terjemahan. Al- Munakahat Bab Iddah, Hal 158 PT Hidayatullah, Bandung, 2003.

[3] Al-Quran dan terjemahan Depag RI, 2005 QS. (al-Baqoroh [2]: 228

[4] Abidin, slamet Kumpulan hadits Bukhari Muslim dan terjemahan. Al- Munakahat Bab Iddah, Hal 161 PT Hidayatullah, Bandung, 2003

[5] Al-Quran dan terjemahan Depag RI, 2005 QS. (Q.S. At Talak : 28 :4)

[6] Al-Quran dan terjemahan Depag RI, 2005 QS. (Q.S Al-Ahzab : 94)

[7] Al-Quran dan terjemahan Depag RI, 2005 QS(Q.S. Al-Baqoroh 2 : 234)

[8] Al-Quran dan terjemahan Depag RI, 2005 QS. (Q.S. At-talaq 28 : 4)

[9] Al-Quran dan terjemahan Depag RI, 2005 QS. (Q.S. At Talak : 28 :4)

[10] Abidin, slamet Kumpulan hadits Bukhari Muslim dan terjemahan. Al- Munakahat Bab Iddah, Hal 155 PT Hidayatullah, Bandung, 2003.

[11] Al-Quran dan terjemahan Depag RI, 2005 QS. (Q.S. At Talak : 6)

[12] Abidin, slamet Kumpulan hadits Bukhari Muslim dan terjemahan. Al- Munakahat Bab ruju’, Hal 163 PT Hidayatullah, Bandung, 2003

[13] Abidin, slamet Kumpulan hadits Bukhari Muslim dan terjemahan. Al- Munakahat Bab Talak, Hal 155 PT Hidayatullah, Bandung, 2003.

0 komentar:

Poskan Komentar