TEKS

SELAMAT DATANG DAN JANGAN LUPA ISI BUKU TAMU & KOMENTAR YA.....

Friday, October 29, 2010

ISLAM DAN KEBUDAYAAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagaimana agama terakhir, Islam di ketahui memiliki karakteristik yang khas di bandingkan dengan agama-agama datang sebelumnya. Melalui berbagai linteratur yang berbicara tentang islam dapat di jumpai uraian mengenai pengertian agama Islam, berbagai aspek yang berkenaan dengan Islam itu perlu di kaji sejara seksama, Sehingga dapat dihasilkan pemahaman Islam yang komprahensip hal ini perlu dilakukan, karena kualitas pemahaman ke-Islaman seseorang akan mempengarui pola piker, sikap, dan tindakan ke-Islama yang bersangkutan, Kita barang kali sepakat terhadap kualitas ke-Islaman seseorang benar-benar komprahenship dan berkualitas. Dan untuk bagian ini kita akan membicarakan Islam kebudayaan hal ini perlu diketahui agar kita dapat menjawab pertanyaan atau persoalan Islam dan kebudayaan. Diantara pertanyaan apakah Islam itu kebudayaan ? pertanyaan ini penting di kaji agar kita dapat memahami Islam secara komprenhenship disamping itu kitapun akan mencoba untuk mengungkap hubungan antara Islam dan kebudayaan.


B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian islam dan kebudayaan ?

2. Apa hubungan antara islam dan kebudayaan ?

3. Bagaimana Islam dan kebudayaan Arab pra Islam ?


C. Tujuan

1. Menjelaskan pengertian Islam dan kebudayaan.

2. Menjelaskan tentang hubungan Islam dan kebudayaan.

3. Menjelaskan bagaimana Islam dan kebudayaan Arab pra Islam.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Islam dan Kebudayaan

1.1. Islam

Dari segi kebahasaan Isalm berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat sentosa dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk Aslama yang berarti berserah diri dalam kedamaian.

Adapun pengertian Islam dalam segi istilah adalah mengacu kepada agama yang bersumber pada wahyu yang datang dari Allah SWT bukan berasal dari manusia dan bukan pula berasal dari nabi Muhammad SAW.

1.2. Kebudayaan

Kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hokum, moral adat istiadat, dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dan ada juga kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batil (akal budi) manusia kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasi kebudayaan.

B. Hubungan Antara Islam dan Kebudayaan

Dari pengertian penjelasan di atas kata Islam dekat dengan arti agama begitu juga hubungan agama dan kebudayaan dalah dua bidang yang dapat di bedakan tetapi tidak dapat di pisahkan. Agam bernilai mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya, sekalipun berdasarkan agama dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Sebagian besar budaya di dasarkan pada agama, tidak pernah sebaliknya. Oleh karena itu agama adalah primer, dan budaya adalah sekunder. Budaya bisa merupakan ekspresi hidup keagamaan, dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa pada tingakat praktis, Agam Islam merupakan produk budaya karena ia tumbuh dan berkembang melalui pemikiran ulama’ dengan cara ijtihad, Disamping itu, Ia tumbuh dan berkembang karena terjadi interaksi social masyarakat.

C. Islam dan kebudayaan Arab pra Islam

Bangsa arab pra Islam di kenal sebagai bangsa yang memiliki kemajuan ekonomi letak geografisnya yang strategis membuat agama islam yang di turunkan (makkah)mudah tersebar diberbagai wilayah. Dan beberapa cirri-ciri utama tataran Arab pra Islam adalah sebagai berikut :

1. Mereka menganut faham kesukuan (Qobilah)

2. Memiliki tata social politik yang tertutup dengan partisipasi warga yang terbatas, factor keturunan lebih penting daripada kemampuan.

3. Mengenal hirarki social yang kuat.

4. Kedudukan perempuan cenderung di rendahkan.

Dilihat dari sumber yang di gunakan, hukum Arab pra Islam bersumber pada adat istiadat. Dalam bidang mua’malah, diantara kebiasaan mereka adal dibolehkan transaksi mubadalah (barter) jual beli, kerja sama pertanian (muzaroah) dan riba. Diantara ketentuan hukum keluarga Arab pra Islam adalah diperbolehkannya berpoligini dengan perempuan dengan jumlah tanpa batas. Serta anak kecil dan perempuan tidak dapat harta warisan.

BAB III

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

1. Islam adalah agama yang dirurunkan oleh Allah SWT dengan perantara wahyu yang di berikan kepada nabi Muhammad SAW untuk disebarkan untuk umat manusia dan kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta dan masyarakat.

2. Agama merupakan sumber kebudayaan dengan kata lain kebudayaan bentuk nyata dari agama islam itu sendiri.

3. Budaya hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi yang dimilikinya. Dan pada pra islam banyak yang mengandung atau berbau keislaman.

DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. Metedologi Study Islam. 1998. Jakarta : PT. Raja Grafindo.

Hakim Atang Abd Dan Mubarrok Jaih. 2010. Metodologi Study Islam. Bandung : PT.Remaja Rosda Karya.

TINJAUAN SELINTAS TENTANG MODERNISME ISLAM

Oleh : Ihsanuddin

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Manusia diciptakan secara sempurna sehingga dalam perkembangan kehidupan manusia akan selalu dituntut untuk berfikir dalam segala bidang, manusia akan menciptakan inovasi-inovasi terbaru yang mendorong untuk menuju kehidupan yang lebih baik dan maju,agama sendiri memperbolehkan dalam masalah ini,dari inilah agama terus menyesuaikan diri untuk selalu menjadi pengayom bagi pengikutnya.

Islam pun selalu berinovasi untuk mencari suatu pembaruan-pembaruan yang tidak bertentangan dengan syariat yang sesuai dengan kebutuhan zaman atau kita menyebutnya dengan MODERNISME ISLAM.

B. Rumusan masalah

1. Kapan dan siapakah pencetus awal modernisme dalam islam?

2. Bagamana tumbuhnya modernisme dalam islam?

3. Bagaimana islam melakukan proses modernisme?

4. Apa dampak modernisme islam?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Awal munculnya modernisme islam
Gerakan modernisme Islam berawal pada abad ke-19 dipelopori oleh Sayyid Jamaluddin al-Afghani (1839–1897). Meskipun lahir di Afghanistan, usianya dihabiskan di berbagai bagian Dunia Islam: India, Mesir, Iran, dan Turki. Dia mengembara ke Eropa, dari Saint Petersburg sampai Paris dan London. Di mana pun dia tinggal dan ke mana pun dia pergi, Jamaluddin senantiasa mengumandangkan ide-ide pembaharuan dan moderenisasi Islam.
Bersama muridnya, Syaikh Muhammad Abduh (1849–1905) dari Mesir, Jamaluddin pergi ke Paris untuk menerbitkan majalah Al-`Urwah al-Wutsqa (Le Lien Indissoluble), yang berarti “ikatan yang teguh”. Abduh menjadi pemimpin redaksi, dan Jamaluddin menjadi redaktur politik.

B. Pandangan sekilas tentang modernisme dalam Islam

Wacana modernisme Islam saat ini tampaknya semakin meredup dan sayup sayup, seiring munculnya wacana lain yang lebih aktual dan kontemporer dalam bidang ekonomi, sosial, maupun politik, yang jauh lebih menarik. Kalau pun masih eksis, wacana ini dinilai sudah tidak relevan lagi diperbincangkan karena konteks zaman telah lari kencang ke depan dan berubah drastis secara revolusioner. Kalangan ini, setidaknya, memberikan beberapa catatan penting:

Pertama, gerakan modernisme Islam lahir dalam konteks keterpurukan, ketertinggalan, dan sikap inferioritas kaum muslim di berbagai belahan dunia dalam menghadapi cengkeraman kolonialis-imperialisme Barat abad ke-20. Saat ini, negara Islam yang dulunya terjajah telah merdeka dan mulai bangkit dari keterpurukan. Bahkan, di beberapa negara, peradaban Islam semakin menguat.

Kedua, gerakan modernisme Islam, harus diakui, pada satu sisi identik dengan puritanisme. Sebut saja misalnya tokoh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dengan gerakan Wahhabiyah-nya di Arab Saudi yang kental dengan puritanismenya. Menurut mereka, apa pun yang tidak sesuai dengan ajaran otentik Al-Qur’an dan sunah Nabi, ia dianggap bid’ah dan harus dilenyapkan. Jauh sebelum ini, ada Ibnu Taimiyyah yang mendobrak kebekuan pintu ijtihad.

Pada sisi lain, modernisme Islam, menampilkan sosok seperti Muhammad ‘Abduh, Jamaludin al-Afghani, dan Rasyid Ridha, yang berpemikiran modernis. Ketiga tokoh ini bertarung dalam ranah pemikiran berbeda. Muhammad ‘Abduh lebih cenderung dalam teologi, al-Afghani dalam politik, dan Ridha dalam pendidikan. Tokoh-tokoh ini sama-sama berangkat dari persoalan keterpurukan umat yang harus diangkat. ‘Abduh menawarkan teologi rasional ala Muktazilah, al-Afghani menawarkan politik pan-Islamisme, dan Ridha dengan peningkatan mutu pendidikan umat lebih modern mengadopsi model pendidikan Barat.

Ketiga, modernisme, selain identik dengan puritanisme, juga banyak dicurigai sebagai agen Barat yang disusupkan ke dunia Islam. Kita kenal, misalnya, jargon modernisme adalah westernisasi (pembaratan). Domain yang berbeda jauh.

C.Islam dan modernisme

Meski Islam potensial menghadapi perubahan, tetapi aktualitas potensi tersebut membutuhkan peran pemeluknya. Ketidakmampuan pemeluk Islam dapat berimbas pada tidak berkembangnya potensi yang ada. Ungkapan yang sering dipakai para pembaru Islam untuk menggambarkan hal ini adalah “al-Islammahjubbial-muslimin”.

Dalam mengaktualisasikan potensi tersebut, pemeluk Islam difasilitasi dengan intitusi tajdid (pembaruan, modernisasi). Ada dua model tajdid yang dilakukan kaum muslim: seruan kembali kepada fundamen agama (al- Qur’an dan hadith), dan menggalakkan aktivitas ijtihad. Dua model ini merupakan respons terhadap kondisi internal umat Islam dan tantangan perubahan zaman akibat modernitas.

a. Model pertama disebut purifikasi, upayapemurnian akidah dan ajaran Islam dari percampuran tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan Islam.

b. Model kedua disebut dengan pembaruan Islam atau modernisme Islam (Achmad Jainuri; 1995, 38). Di sini, Tajdid memiliki peranan yang signifikan. Ketiadaan rasul pasca Muhammad SAW. bukan berarti tiadanya pihak-pihak yang akan menjaga otentitas dan melestarikan risalah Islam. Jika sebelum Muhammad SAW. peranan menjaga dan melestarikan risalah kerasulan selalu dilaksanakan oleh nabi atau rasul baru, pasca Muhammad SAW. peran tersebut diambil alih oleh umat Islam sendiri. Rasul Muhammad SAW. pernah menyatakan bahwa ulama` merupakan pewarisnya, dan di lain kesempatan ia menyatakan akan hadirnya mujaddid di setiap seratus tahun.

D.Dampak modernisme islam

Sebagian dari unsur kebudayaan dunia Barat adalah pemikiran modern. Dampak dari pemikiran modern terhadap kondisi umat Islam di Indonesia terjadi dalam dua wilayah sentral yang sangat menentukan dalam perjalanan kehidupan umat Islam selanjutnya. Dua pengaruh ini telah menimbukan permasalahan-permaslahan lain sebagai konsekuensi yang cukup pelik dan sulit. Satu permasalahan dengan lainnya saling terkait berkelindan sehingga untuk menyelesaikannya dituntut untuk dapat menemukan inti yang menjadi akar dari munculnya permasalahan-permasalahan lain.

Dampak pemikiran zaman modern telah merasuki cara berpikir sebagian umat Islam baik yang melanjutkan studi di Negara-negara Barat atau mereka yang studi di dalam negari tapi banyak mengakses khajanah-khajanah pemikiran dunia Barat. Cara berpikir yang diwariskan adalah cara berpikir rasionalistik-empirik. Artinya, cara berpikir yang didasarkan pada penalaran logis dan teori-teori ilmiah yang dihasilkan dari beberapa observasi. Ilmu-ilmu yang paling berpengaruh terhadap cara berpikir umat Islam adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kemanusiaan. Jenis ilmu-ilmu ini sering disitilahkan dengan ilmu-ilmu humaniora, misalnya psycologi, filsafat, sosiologi, dll.

BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan
Modernitas yang melanda dunia Islam, dengan segala efek positif- negatifnya, menjadi tantangan yang harus dihadapi umat Islam di tengah kondisi keterpurukannya. Umat Islam dituntut bekerja ekstra keras mengembangkan seagala potensinya untuk menyelesaikan permasalahannya.

Tajdid sebagai upaya menjaga dan melsetarikan ajaran Islam menjadi pilihan yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh umat Islam. Upaya tajdid harus terus dilakukan, tidak boleh berhenti meski memerlukan cost yang besar. Wallahu a`lam

DAFTAR PUSTAKA

1. Drs Ahmad Amir Aziz, MAg, Neo-Modernisme Islam Di Indonesia, 1999, Rineka Cipta, Jakarta.
2. Drs. H. Irfan anshory, Modernisme Islam di Indonesia , Artikel Pada Majalah "Suara Muhammadiyah" No.8, 16-30 April 2002:

Thursday, October 28, 2010

Definisi Dan Ruang Lingkup Psikologi Sosial

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Manusia dimanapun dia berada ,tidak dapat dipisahkandari lingkungan masyarakat. Oleh karena itu,sejak dahulu orang sudah menaruh minat yang besar pada tingkah laku manusia dalam lingkungan sosialnya. Minat yang besar ini tidak hanya muncul dari pengamat-pengamat awam,tapi juga dikalangan para sarjan dan cendekiawan.

Sekalipun demikian,psikologi social ,sebagai ilmu khusus yang mempelajari tingkah laku manusia dalam lingkungan sosialnya baru timbul kurang dari 100 tahun yang lalu (Mc. Dougall,1908 ; Ross,1908). Sebelum itu gejala perilaku manusia dalam masyarakat dipelajari oleh antropologi dan sosiologi.

Peranan antropologi dan sosiologi dalam psikologi social antara lain adalah untuk mengurangi atau setidak-tidaknya menjelaskan bias (penyimpangan0 yang terdapat dalam penelitian psikologi social sebagai akibat pengaruh kebudayaan dan kondisi masyarakat disekitar manusia yang diteliti.

Sasaran penelitian psikologi social sendiri adalah tingkah laku manusia sebagai individu. Inilah yang membedakan psikologi social dari antropologi dan sosiologi yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai bagian dari masyarakatnya.

  1. Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari psikologi social itu sendiri?

2. Apa ruang lingkup psikologi social?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi Psiologi Social

Bila dilihat dari sudut terminology maka kata psikologi terdiri 2 macam kata yakni psyche berarti jiwa dan logos yang kemudian menjadi logi berarti ilmu.maka kata psikologi (psychology) berari ilmu pengetahuan tentang jiwa,tidak terbatas pada jiwa manusia saja akan tetapi termasuk juga jiwa binatang dan sebagainya.

Dikalangan ahli psikologi pengertian dari kata psikologi tidak terdapat perbedaan,akan tetapi mereka berbeda dalam memberikan batasan atau definisi psikologi.perbedaan definisi yang diberikan oleh para ahli psikologi terhadap psikologi adalah akibat dari perbedaan sudut pandangan yang berasaskan pada perbedaan aliran-aliran paham dalam psikologi itu sendiri.[1]

“Psikologi” berasal dari perkataan yunani “psyche” yang artinya jiwa,dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan.jadi secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa ,baik mengenai macam-macam gejalanya ,prosesnya,maupun latar belakangnya.dengan singkat disebut ilmu jiwa.

Berbicara tentang jiwa ,terlebih dahulu kita dapat membedakan antara nyawa dan jiwa.nyawa adalah daya jasmaniah yang keberadaannya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan badaniah organic behavior.sedang jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak,yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan pribadi (personal behavior) dari hidup tingkat tinggi dan manusia.

Secara umum psikologi diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia.karena para ahli jiwa mempunyai penekanan yang berbeda maka definisi yang dikemukakan juga berbeda .

Diantara pengertian yang dirumuskan oleh para ahli itu antara lain sebagai berikut :

1. Menurut Dr. Singgih dirgagunarsa : psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia .

2. Plato dan aristotelea ,berpendapat psikologi adalah ilmu pengetahuan yang m,empelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya samoai akhir.

3. John Broadus Watson, memandang psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempejari tingkah laku tampak (lahiriah) dengan menggunakan metodi observasi yang objektif terhadap rangsangan dan jawaban (respons)[2]

Definisi psikologi social yang diberikan oleh para sarjan psikologi social menunjukan ruang lingkup psikologi social. Beberapa definisi diantaranya sebagai berikut:

“Social psychology is scientific study of the experience and behavior individuals in relation to social stimulus situations” (sheriff & sheriff,1956,hlm. 4)

“Social psychology can be defined as the scientific study of human interaction” (Watson ,1966,hlm. 1)

“Social psychology is the study of the individual human being as the interacts,largely symbolically, with his environment” (Dewey & Humber,1966,hlm,3)

Dari definisi tersebut diatas,kita dapat membedakan tiga wilayah study psiologi social sebagai berikut:

1) Studi tentang pengaruh social terhadap proses individual,misalnya studi tentang persepsi,motivasi,proses belajar,atribusi (sifat).

2) Studi tentang proses-proses individual bersama ,seperi bahasa,sikap social dean sebagainya.

3) Studi tentang interaksi kelompok ,misalnya kepemimpinan, komunikasi, otoriter, konformitas (keselarasan) ,kerja sama. persaingan, peran dan sebagainya .

Adapun psikologi social dapat didefinisikan sebagai berikut “ilmu yang mempelajari tingkah laku individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang social”

Dengan “ilmu peengetahuan” dimaksudkan bahwa psikologisosial hanya mempelajarisuatu gejala kondisi-kondisi yang terkontrol. Spekulasi-spekulasi yang bersifat armchair (didasarkan pada perkiraan-perkiraan saja) tidak berlaku untuk menyusun menyusun teori-teori social.

Istilah individu dalam definisi diatas menunjukan bahwa unit analisis dari psikologi social adalah individu,bukan masyarakat atau kebudayaan.

Akhirnya ,yang dimaksud dengan rangsangan-rangsangan social manusia dan seluruh hasil karya manusia yang ada disekitar individu. Termasuk dalam karya=karya manusia ini antara lain adalahnorma-norma,kelompok social, dan produk-produk social lainnya.

  1. Ruang lingkup psikologi social.

Ditinjau dari segi objeknya,psikologi dapat dibedakan dalam dua golongan besar,yaitu:

a. Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari manusia

b. Psikologi yang menyelidiki gdan mempelajari hewan,yang umumnya lebih tegas disebut psikologi hewan[3]

Kesulitan lain dalam pembentukan teori psikologi social adalah menentukan ruang lingkup suatu teori seperti berikut ini:

a. jangkauan penerapan (comprehensiveness), yaitu untuk berapa banyak (macam) fenomena atau kepribadian teori ini dapat diterapkan.

b. Keterbatasan ,yaitu sampai dimana perlu diberikan prasyarat pada kondisi dimana fenomena itu timbul agar suatu teori dapat dinyatakan berlaku.

c. Keumuman (generality),sampai dimana teori bias diperluas untuk mencakup situasi-situasi yang tidak tercakup dalam fenomena awal yang dijadikan dasar untuk penyusunan teori yang bersangkutan.[4]

Sebagaimana ilmu-ilmu yang lain,psikologi social bertujuan untuk mengerti suatu gejala atau fenomena.dengan mengerti suatu fenomena,kita dapat membuat peramalan-peramalan tentang kapan akan terjadinya fenomena tersebut dan bagaimana hal itu akan terjadi. Selanjutnya , dengan pengertian dan kemampuan peramalan itu,kita dapat mengendalikan fenomenaitu sampai batas-batas tertentu. Inilah sebetulnya tujuan dari ilmu,termasuk psikologi social. (namun,tentu saja tidak selalu kalau kita bisa mengontrol suatu gejala maka kita sudah mengerti betul tentang gejala itu. Seorang pengemudi mobil misalnya,dapat mengendalikan mobilnya tanpa ia mengrti betul tentang mekanisme yang menggerakkan mobil tersebut).

Psikologi yang dipelajari secara praktis dapat dipraktekan dalam bermacam-macam bidang ,misalnya dalam bidang pendidikan,dalam bidang indrusti atau perusahaan dan sebagainya. Psikologi yang berusaha mempelajari jiwa manusia, ternyata banyak mendapat kesulitan ,oleh karena objek penyelidikannya adlah abstrak ,yang tidak dapat diselidiki secara langsung,tetapi diselidiki keaktifannya yang terlibat melalui manifestasi tingkah laku atau perbuatan. Dapat dimisalkan bila kita mempelajari tentang angina,objeknya sendiri secara langsung tidak dapat dilihat ,namun dari keaktifannya ,bila ada daun yang bergerak atau debu beterbangan ,maka jelas ada ,seperti itu pulalah bila kita mempelajari jiwa.

Jadi dalam mempelajari psikologi ini,kita akan membatasi diri pada tingkah laku manusia,karena manusia adalah makhluk tuhan tertinggi derajatnya diantara makhluk-makhluk yang lain.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

1) Psikologi terdiri dari dua kata pyche dan logos,sedangkan psikologi social mempunyai banyak definisi oleh para sarjana psikologi social salah satunya yaitu, psikologi social adala studi tentang pengaruh social terhadap proses individual, misalnya studi tentang persepsi, motivasi, proses belajar atribusi (sifat).

2) - ruang lingkup terdiri dari - jangkauan

- keterbatasan

- keumuman

  1. Kritik Dan Saran

Dengan keterbatab dan kekurangan dari makalah penulis semoga bisa menjadi motivasi untuk memperbaiki makalah berikutnya,dan akhirnya sedikit dari makalah ini dapat di ambil manfaatnya terlebih terhadap pemakalah.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2009. Psikologi Umum. Jakarta: Rineka cipta

Sarwono, satlito wirawan. 2005. Teori-Teori Psikologi Social. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Arifin, H. 2004. Psikologi Dakwah. Jakarta: PT Bumi aksara



[1] Prof.H.M. Arifin,M.Ed. psikologi dakwah. 2004. PT. bumi aksara

[2] Drs.H.Abu ahmadi. Psikologi umum. 2009. Rineka cipta

[3] Drs. H. Abu ahmadi. Psikologi umum. 2009. Rineka cipta

[4] Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. Teori-teori psikologi social. 2005. PT Raja grafindo Persada