TEKS

SELAMAT DATANG DAN JANGAN LUPA ISI BUKU TAMU & KOMENTAR YA.....

Wednesday, November 10, 2010

DASAR, PRINSIP, DAN PENDEKATAN BIMBINGAN KONSELING

1.1. Asas asas bimbingan konseling

Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu, juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan, sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan, serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri.

Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik, maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali.

Asas- asas bimbingan dan konseling tersebut adalah :

1. Asas Kerahasiaan

Asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini, guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin,

2. Asas Kesukarelaan

Asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu.

3. Asas Keterbukaan

Asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). Agar peserta didik (klien) mau terbuka, guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan.

4. Asas Kegiatan

Asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya.

5. Asas Kemandirian

Asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling; yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri, dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.

6. Asas Kekinian

Asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang.

7. Asas Kedinamisan

Asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

8. Asas Keterpaduan

Asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Dalam hal ini, kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaik-baiknya.

9. Asas Kenormatifan

Asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma, baik norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih jauh lagi, melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.

10. Asas Keahlian

Asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

11. Asas Alih Tangan Kasus

Asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain. Demikian pula, sebaliknya guru pembimbing (konselor), dapat mengalih-tangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten, baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah.

12. Asas Tut Wuri Handayani

Asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju

1.2. Asas-Asas Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah

Asas-asas bimbingan dan konseling adalah ketentuan-ketentuan yang harus ditetapkan dalam peyelenggaraan pelayanan, agar kegiatan pelayanan tersebut dapat terlakasana dengan baik serta mendapat hasil yang memuaskan bagi konseli.

Asas dari pada bimbingan konseling yaitu sesuatu kegiatan yang harus ditetapkan sejak awal dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling, agar kegiatannya terlaksana dengan baik dan menuju hasil yang diinginkan oleh kedua individu antara konselor dan konseli.

Asas-asas dasar bimbingan dan konseling terdiri dari dua kelompok, yaitu sebagai berikut:

a) Asas yang berhubungan dengan peserta Individu

1. Tiap individu mempunyai kebutuhan

Tiap individu mempunyai mempunyai berbagai kebutuhan, baik yang bersifat jasmanai maupun kejiwaan (rohani).

2. Ada perbedaan diantara Individu-Individu.

Setiap anak didik memiliki cirri-ciri yang khas, baik fisik maupun mentalnya, sehingga dianntara anak-anak itu selalu ada perbedaan. Perbedaan ini disebut perbedaan perorangaan.

3. Tiap Individu ingin menjadi dirinya sendiri.

Selaras ddengan sas perbedan perorangan diantara individu-individu maka setiap peserta didik ingin menjadi dirinya sendiri sesuai dengan pribadi dan pembawaannya masing-masing.

4. Tiap peserta didik mempunyai dorongan untuk menjadi matang.

Kematangan yang dimaksud disini terutama ialah kematangan jiwa, emosi dan social.dalam memberikan laynan-lyanan, petugas bimbingan mesti mendasarkan pendekatan-pendekatan pada dorongan ini dan bukan pada keinginan ataupun gagasan-gagasan sendiri.

b) Asas yang berhubungan dengan pekerjaan bimbingan.

1. Pekerjaan bembingan berlangsung dalam situasi hubungan antara pembimbing dan klien

Pekerjaan bembingan berlangsung dalam situasi hubungan antara pembimbing dan klien, Maka kunci keberhasilan bimbiangan itu terletak pada bagaimana hubungan itu diciptakan.

2. Penyelenggaran bimbingan memerlukan kerahasiaan.

Dalam usaha bimbingan perlu tertanam rasa percaya mempercayai, untuk itu pembimbing harus dapat menjaga kerahasiaan yang terbimbing, terutama sekali jika diberikan layanan khusus berupa konseling, agar klien tetap menaruk kepercayaan konselor.

3. Pekerjaan bimbingan disekolah memerlukan pendekatan bersama antara pembimbing dan staf sekolah yang lain.

Pekerjaan ini adalah usaha membantu pencapaian tujuan pendidikan maka perlu adanya kerjasama dengan pihak lain dalam lingkungan sekolah khususnya guru.

1.3. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling

Prinsip-prinsip yang dimaksud disisni ialah hal-hal yang dapat menjadi pegangan didalam proses bimbingan dan konseling. Perisip-prinsip bimbingan dan konseling secara garis besar dikelompokkan menjadi dua kelompok Prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus:

A. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling umum:

1. Karena bimbingan ini berhubungan dengan bersikan dan tingkah laku individu, perlu diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek keperibadian yang unik karena dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman.

2. Perlu dikenal dan dipahami karakteristik individual dari individu yang dibimbing.

3. Bimbingan diarahkan kepada bantuan yang diberikan supaya individu yang bersangkutan mampu membantu dirinya sendiri daloam menghadapi kesulitannya.

4. Bimbingan dimulai dengan indentifikasi kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang dibimbing.

5. Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan sekolah yang bersangkutan.

6. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal pelaksanaan program bimbingan hrus dipimpin oleh seseorang petugas yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan dapat bekerjasa dengan pembantunya, untuk penenangan masalah.

7. Pelaksanaan layanan bimbingan ini harus diadakan penelitian secara teratur.

B. Kode Etik Bimbingan Dan Konseling

Kode etik adalah pola ketentuan / aturan / tata cra yang menjadi pedoman menjalani tugas dan aktivitas suatu profesi.

Di samping rumusan kode etik bimbingan dan konseling yang dirumusakan oleh ikatan petugas bimbingan Indonesia, yaitu:

1. Pembimbing menghormati harkat klien.

2. Pembimbing menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi.

3. Pembimbing tidak membedakan klien.

4. Pembimbing dapat menguasai dirinya, dalam arti kata kekurangan-kekurangannya dan perasangka-prasangka pada dirinya.

5. Pembimbing mempunyai sifat renda hati sederhana dan sabar.

6. Pembimbing terbuka terhadap saran yang diberikan pada klien.

7. Pembimbing memiliki sifat tanggung jawab terhadab lembaga ataupun orang yang dilayani.

8. pembimbing mengusahakan mutu kerjanya sebaik mungkin.

9. tingkah laku orang , serta tehnik dan prosedur layanan bimbingan guna memberikan layanan sebaik-baiknya.

10. seluruh catatan tentang klien bersifat rahasia.

11. suatu tes hanya boleh diberikan kepada petugas yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya.

Beberapa rumusan kode etik bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:

1. Pembimbing yang memegang jabatan harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan kinseling.

2. pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang baik.

3. pekerjaan pembimbing harus harus berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang maka seorang pembimbing harus:

a. Dapat menyimpan rahasia klien

b. Menunjukkan penghargaan yang sama pada berbagai macam klien.

c. Pembimbing tidak diperkjenan menggunakan tena pembantu yang tidak ahli.

d. Menunjukkan sikap hormat kepada klien

e. Meminta bantuan alhi diluar kemampuan stafnya.

1.4. Pendekatan-Pendekatan Bimbingan Dan Konseling

Menurut pandangan Gerald Corey (2005), menguraikan berbagai pendekatan dalam bimbingan dan konseling sebagai berikut.

1. Pendekatan Psikoanalitik

Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis fdan pengalaman-pengalaman dini. motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang. adapun perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.

2. Pendekatan Eksistensial-Humanistik

Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan untuk menyadari diri, kebebasan untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan tanggug jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencrian makna yang unik didalam dddunia yang tak bermakna, ketika sendirian dan ketika berada dalam hubungan dengan orang lain, keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan untuk mengaktualkan diri.

3. Pendekatan Clien-Centered

Pendekatan ini memandang manusia secara positif bahwa manusia memiliki suatu kecenderungan ke arah berfungsi penuh.dalam konteks hubungan konseling, mengalami perasaan yang sebelumnya diingkari. klien mengaktualkan potensi danbergerak kearah peningkatan kesadaran, spontanitas, kepercayaan kepada diri, dan keterarahan.

4. Pendekatan Gestalt

Manusia terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran perasaan serta tingkah laku. pandangannya anati deterministik dalam arti individu dipandang memiliki kesanggupanuntuk menyadaribagaimana pengaruh masa lampau berkaitan dengan kesulitan sekarang.

5. Pendekatan Analisis Transaksional

Manusia dipandang memiliki kemampuan memilih. apa yang sebelumnya ditetapkan, bisa ditetapkan ulang. meskipun manusia bisa menjadi korban dari putusan-putusan bingung dan sekenario kehidupan, aspek-aspek yang mengalihkan diri bisa diubah dengan kesadaran.

6. Pendekatan Tingkah Laku

Manusia dibentuk dan dikondisikan oleh pengondisian sosial budaya. pandangannya deterministik, dalam arti, tingkah laku dipandang sebagai hasil belajar dan pengondisian.

7. Pendekatan Rasional Emotif

Manusia dilahirkan dengan potensi untuk berpikir rasional, tetapi juga dengan kecenderungan-kecenderungan kearah berpikir curang. mereka cenderung untuk menjadi korban dari keyakinan-keyakinan yang rasional dan untuk mereindoktrinasi dengan keyakinan-keyakinan yang irasional itu, tetapi berorientasi kognitif-tingkah laku-tindakan, dan menekankan berpikir, menilai, menganilisis, melakukan, dan memutuskan ulang. modelnya adalah didaktif direktif, tetapi dilihat sebagai proses reduksi.

8. Pendekatan Realitas

Pendekatan realitas berlandaskan motivasi pertumbuhan dan anti deterministik.

DAFTAR PUSTAKA

Salahudin Anas. Bimbingan dan Konseling. Bandung: Pustaka Setia. 2010.

www.google.com

PERBANDINGAN MODEL PENDIDIKAN SEKOLAH UMUM DAN PESANTREN

Oleh : Lukman Hakim, Nasrul

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Pendidikan di tengah medan kebudayaan (culture area), berproses merajut dua substansi aras kultural, yaitu di samping terartikulasi pada upaya pemanusiaan dirinya, juga secara berkesinambungan mewujud ke dalam pemanusiaan dunia di sekitarnya (man humanizes himself in humanizing the world around him) (J.W.M. Bakker, SJ; 2000: 22). Kenyataan ini nampaknya amat begitu diinsafi oleh para designer awal dan founding fathers bangsa ini, hingga kemudian cita-cita yang megkristal dalam tujuan pendidikan nasional (Mukaddimah UUD '45) kita, betul-betul terarah ke pengertian seperti itu.

Dalam prakteknya, pengejawantahan cita-cita pendidikan nasional, nampaknya tidak harus melulu ditempuh melalui jalur formal secara berjenjang (hierarchies), yang dilaksanakan mulai dari Pendidikan Pra-Sekolah (PP. No. 27 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Dasar (PP. No. 28 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Menengah (PP. No. 29 Tahun 1990) dan Pendidikan Perguruan Tinggi (PP. No. 30 Tahun 1990), akan tetapi juga mengabsahkan pelaksanaan pendidikan secara non-formal dan in-formal (pendidikan luar sekolah) (UU Sisdiknas, 2003). Artikulasi pendidikan terakhir ini, basisnya diperkuat mulai dari pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan swasta

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang diperkenalkan di Jawa sekitar 500 tahun yang lalu. Sejak saat itu, lembaga pesantren tersebut telah mengalami banyak perubahan dan memainkan berbagai macam peran dalam masyarakat Indonesia.

Pada zaman walisongo, pondok pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Juga pada zaman penjajahan Belanda, hampir semua peperangan melawan pemerintah kolonial Belanda bersumber atau paling tidak dapat dukungan sepenuhnya dari pesantren (Hasbullah 1999:149). Selanjutnya, pondok pesantren berperan dalam era kebangkitan Islam di Indonesia yang menurut Prof. Azyumardi Azra telah terlihat dalam dua dekade terakhir ini.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PERBANDINGAN MODEL PENDIDIKAN SEKOLAH UMUM DAN PESANTREN

A. Sekolah Umum

1. Kelebihan Sekolah Umum

a. Kurikulum

1) Memiliki kurikulum tetap dan mengikuti perkembangan serta menyesuaikan dengan standar pendidikan Nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.

2) Memiliki buku ajar yang permanent untuk proses belajar mengajar yang efektif.

3) Satuan Pelajaran yang sudah ditetapka menjadi acuan dalam proses belajar mengajar

b. Metode Pengajaran

1) Banyak metode yang dikembangkan dalam proses belajar mengajar diantaranya ceramah, bermain, Tanya jawab dan lain-lain yang disesuaikan dengan bidang studinya.

2) Ada sebagian sekolah mengadakan kegiatan belajar mengajar tidak di dalam kelas namun juga di luar ruang kelas.

c. Organisasi

1) Terdiri dari Kepala Sekolah, Pembantu Kepala Sekolah yang berjumlah 4 (Wakil Kepala Sekolah), Wali Kelas, Dewan Guru, Tenaga Kependidikan, Organisasi Siswa, Siswa.

2) Struktur organisasi yang solid.

d. Lingkungan Belajar

1) Proses Belajar Mengajar berlangsung selama 7 Jam min atau max 9 jam dalam sehari.

2) Dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas, termasuk ruang praktikum.

e. Komponen Warga Belajar

1) Guru yang tetap

2) Peserta Didik

3) Sekolah berjenjang

4) Wali Murid

2. Kekurangan Sekolah Umum

a. Kurikulum

1) Harus selalu mengikuti perkembangan yang disampaikan oleh pemerintah.

2) Kebanyakan tenaga pendidik merasa kewalahan terhadap perubahan kurikulum yang dilakukan pemerintah

b. Metode Pengajaran

1) Bangunan Sumber Daya Manusia dalam mengajar kurang maksimal.

2) Kebanyakan tenaga pendidik enggan melakukan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar dalam mencoba berbagai metode pengajaran

c. Organisasi

1) Organisasi siswa masih belum mandiri dalam melakukan aktifitas.

2) Efektifitas keorganisasian kadang terhalang oleh persepsi yang berbeda dengan visi dan misi berbeda

d. Lingkungan Belajar

1) Membutuhkan sarana prasarana yang lengkap

2) Membutuhkan biaya pendidikan yang mahal

e. Komponen Warga Belajar

1) Wali siswa kebanyakan kurang andil bagian dalam proses belajar mengajar

2) Tenaga pendidik kurang dalam menambah pengetahuan sehingga peserta didik merasa bosan dengan apa yang disampaikan.

B. Pesantren

1. Kelebihan Pesantren

a. Kurikulum

1) Pesantren mampu membuat dan menentukan kurikulum sendiri tanpa mengikuti standar pendidikan yang ditentukan oleh pemerintah.

2) Pesantren mampu memberikan nilai lebih dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan keilmuan yang dibutuhkan pesert didik

b. Metode Pengajaran

1) Mampu mengembangkan metode-metode baru dalam menanamkan konsep maupun mempraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

2) Peserta didik dapat belajar langsung dari pengalaman yang timbul sehari-hari dan menanyakan (studi) kasus dengan dewan guru terkait.

3) Proses belajar mengajar dilakukan 24 jam sehari semalam, sehingga kekurangan yang terjadi akan tertanggulangi secara langsung

c. Organisasi

1) Kyai sebagai sentral keputusan dapat membangun kesolidan sebuah organisasi

2) Organisasi Santri lebih mandiri dan mudah dikembangkan, bahkan sedikit bimbingan dari dewan guru.

d. Lingkungan Belajar

1) Dukungan lingkungan terhadap proses belajar mengajar langsung diperoleh peserta didik dari pendidik

2) Bimbingan dan asuhan pendidik langsung pada peserta didik karena dilakukan di dalam asrama.

e. Komponen Warga Belajar

1) Asrama, Kyai, Tempat Belajar, Ruang Praktikum, Santri, Guru, wali santri.

2) Semua komponen mampu mengaplikasikan dan menjadikan hidup adalah belajar dan ibadah

2. Kekurangan Pesantren

a. Kurikulum

1) Kurikulum selalu berubah tanpa ada pemberitahuan, dan sekehendak kyai

2) Tidak adanya standar tetap keberhasilan seorang santri dikatakan telah lulus atau tamat menempuh pendidikan pesantren

b. Metode Pengajaran

1) Aktifitas santri untuk bertanya kurang

2) Santri terlalu difokuskan pada hafalan dan konsep-konsep pada setiap mata pelajaran

c. Organisasi

1) Kebebasan santri menentukan kegiatan menjadikan santri berlaku kebablasan dalam menentukan sikap dan tindakan

d. Lingkungan Belajar

1) Kebersihan lingkungan terkadang diabaikan

e. Komponen Warga Belajar

1) Dikarenakan setiap santri diwajibkan belajar mandiri dapat mengakibatkan seorang santri malas dan bahkan terjerumus kedalam keburukan, karena kurangnya bimbingan dari para guru atau ustadz.

BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Kekurangan dan Kelebihan setiap lembaga bila dipadukan akan menjadi lembaga pendidikan yang saling mendukung. Rangkuman keterpaduan dua jenis pendidikan penulis sebutkan secara ringkas sebagai berikut:

1. Figur perubahan yang merubah dengan arif dan bijak bukan demokrasi liberal.

2. Inovasi dengan segala bentuk dan lapisan yang menjadi warga belajar dan lingkungan belajar.

3. Saling mendukung dan bekerjasama serta samakerja dalam memajukan dan mengembangan kurikulum pendidikan

Demikianlah sekilas gambaran tentang perbandingan pendidikan di sekolah Umum dan sekolah Pesantren. Tentunya disana-sini terdapat kekurangan dan masih perlu penyempurnaan. Untuk itu kepada pembaca penulis ucapkan terima kasih dan semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. (editor) 2001. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembanga Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo

http://muhtadinabrori.blogspot.com/2008/11/studi-perbandingan.html