Selasa, 09 November 2010

PERBANDINGAN MODEL PENDIDIKAN SEKOLAH UMUM DAN PESANTREN

Oleh : Lukman Hakim, Nasrul

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Pendidikan di tengah medan kebudayaan (culture area), berproses merajut dua substansi aras kultural, yaitu di samping terartikulasi pada upaya pemanusiaan dirinya, juga secara berkesinambungan mewujud ke dalam pemanusiaan dunia di sekitarnya (man humanizes himself in humanizing the world around him) (J.W.M. Bakker, SJ; 2000: 22). Kenyataan ini nampaknya amat begitu diinsafi oleh para designer awal dan founding fathers bangsa ini, hingga kemudian cita-cita yang megkristal dalam tujuan pendidikan nasional (Mukaddimah UUD '45) kita, betul-betul terarah ke pengertian seperti itu.

Dalam prakteknya, pengejawantahan cita-cita pendidikan nasional, nampaknya tidak harus melulu ditempuh melalui jalur formal secara berjenjang (hierarchies), yang dilaksanakan mulai dari Pendidikan Pra-Sekolah (PP. No. 27 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Dasar (PP. No. 28 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Menengah (PP. No. 29 Tahun 1990) dan Pendidikan Perguruan Tinggi (PP. No. 30 Tahun 1990), akan tetapi juga mengabsahkan pelaksanaan pendidikan secara non-formal dan in-formal (pendidikan luar sekolah) (UU Sisdiknas, 2003). Artikulasi pendidikan terakhir ini, basisnya diperkuat mulai dari pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan swasta

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang diperkenalkan di Jawa sekitar 500 tahun yang lalu. Sejak saat itu, lembaga pesantren tersebut telah mengalami banyak perubahan dan memainkan berbagai macam peran dalam masyarakat Indonesia.

Pada zaman walisongo, pondok pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Juga pada zaman penjajahan Belanda, hampir semua peperangan melawan pemerintah kolonial Belanda bersumber atau paling tidak dapat dukungan sepenuhnya dari pesantren (Hasbullah 1999:149). Selanjutnya, pondok pesantren berperan dalam era kebangkitan Islam di Indonesia yang menurut Prof. Azyumardi Azra telah terlihat dalam dua dekade terakhir ini.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PERBANDINGAN MODEL PENDIDIKAN SEKOLAH UMUM DAN PESANTREN

A. Sekolah Umum

1. Kelebihan Sekolah Umum

a. Kurikulum

1) Memiliki kurikulum tetap dan mengikuti perkembangan serta menyesuaikan dengan standar pendidikan Nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.

2) Memiliki buku ajar yang permanent untuk proses belajar mengajar yang efektif.

3) Satuan Pelajaran yang sudah ditetapka menjadi acuan dalam proses belajar mengajar

b. Metode Pengajaran

1) Banyak metode yang dikembangkan dalam proses belajar mengajar diantaranya ceramah, bermain, Tanya jawab dan lain-lain yang disesuaikan dengan bidang studinya.

2) Ada sebagian sekolah mengadakan kegiatan belajar mengajar tidak di dalam kelas namun juga di luar ruang kelas.

c. Organisasi

1) Terdiri dari Kepala Sekolah, Pembantu Kepala Sekolah yang berjumlah 4 (Wakil Kepala Sekolah), Wali Kelas, Dewan Guru, Tenaga Kependidikan, Organisasi Siswa, Siswa.

2) Struktur organisasi yang solid.

d. Lingkungan Belajar

1) Proses Belajar Mengajar berlangsung selama 7 Jam min atau max 9 jam dalam sehari.

2) Dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas, termasuk ruang praktikum.

e. Komponen Warga Belajar

1) Guru yang tetap

2) Peserta Didik

3) Sekolah berjenjang

4) Wali Murid

2. Kekurangan Sekolah Umum

a. Kurikulum

1) Harus selalu mengikuti perkembangan yang disampaikan oleh pemerintah.

2) Kebanyakan tenaga pendidik merasa kewalahan terhadap perubahan kurikulum yang dilakukan pemerintah

b. Metode Pengajaran

1) Bangunan Sumber Daya Manusia dalam mengajar kurang maksimal.

2) Kebanyakan tenaga pendidik enggan melakukan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar dalam mencoba berbagai metode pengajaran

c. Organisasi

1) Organisasi siswa masih belum mandiri dalam melakukan aktifitas.

2) Efektifitas keorganisasian kadang terhalang oleh persepsi yang berbeda dengan visi dan misi berbeda

d. Lingkungan Belajar

1) Membutuhkan sarana prasarana yang lengkap

2) Membutuhkan biaya pendidikan yang mahal

e. Komponen Warga Belajar

1) Wali siswa kebanyakan kurang andil bagian dalam proses belajar mengajar

2) Tenaga pendidik kurang dalam menambah pengetahuan sehingga peserta didik merasa bosan dengan apa yang disampaikan.

B. Pesantren

1. Kelebihan Pesantren

a. Kurikulum

1) Pesantren mampu membuat dan menentukan kurikulum sendiri tanpa mengikuti standar pendidikan yang ditentukan oleh pemerintah.

2) Pesantren mampu memberikan nilai lebih dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan keilmuan yang dibutuhkan pesert didik

b. Metode Pengajaran

1) Mampu mengembangkan metode-metode baru dalam menanamkan konsep maupun mempraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

2) Peserta didik dapat belajar langsung dari pengalaman yang timbul sehari-hari dan menanyakan (studi) kasus dengan dewan guru terkait.

3) Proses belajar mengajar dilakukan 24 jam sehari semalam, sehingga kekurangan yang terjadi akan tertanggulangi secara langsung

c. Organisasi

1) Kyai sebagai sentral keputusan dapat membangun kesolidan sebuah organisasi

2) Organisasi Santri lebih mandiri dan mudah dikembangkan, bahkan sedikit bimbingan dari dewan guru.

d. Lingkungan Belajar

1) Dukungan lingkungan terhadap proses belajar mengajar langsung diperoleh peserta didik dari pendidik

2) Bimbingan dan asuhan pendidik langsung pada peserta didik karena dilakukan di dalam asrama.

e. Komponen Warga Belajar

1) Asrama, Kyai, Tempat Belajar, Ruang Praktikum, Santri, Guru, wali santri.

2) Semua komponen mampu mengaplikasikan dan menjadikan hidup adalah belajar dan ibadah

2. Kekurangan Pesantren

a. Kurikulum

1) Kurikulum selalu berubah tanpa ada pemberitahuan, dan sekehendak kyai

2) Tidak adanya standar tetap keberhasilan seorang santri dikatakan telah lulus atau tamat menempuh pendidikan pesantren

b. Metode Pengajaran

1) Aktifitas santri untuk bertanya kurang

2) Santri terlalu difokuskan pada hafalan dan konsep-konsep pada setiap mata pelajaran

c. Organisasi

1) Kebebasan santri menentukan kegiatan menjadikan santri berlaku kebablasan dalam menentukan sikap dan tindakan

d. Lingkungan Belajar

1) Kebersihan lingkungan terkadang diabaikan

e. Komponen Warga Belajar

1) Dikarenakan setiap santri diwajibkan belajar mandiri dapat mengakibatkan seorang santri malas dan bahkan terjerumus kedalam keburukan, karena kurangnya bimbingan dari para guru atau ustadz.

BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Kekurangan dan Kelebihan setiap lembaga bila dipadukan akan menjadi lembaga pendidikan yang saling mendukung. Rangkuman keterpaduan dua jenis pendidikan penulis sebutkan secara ringkas sebagai berikut:

1. Figur perubahan yang merubah dengan arif dan bijak bukan demokrasi liberal.

2. Inovasi dengan segala bentuk dan lapisan yang menjadi warga belajar dan lingkungan belajar.

3. Saling mendukung dan bekerjasama serta samakerja dalam memajukan dan mengembangan kurikulum pendidikan

Demikianlah sekilas gambaran tentang perbandingan pendidikan di sekolah Umum dan sekolah Pesantren. Tentunya disana-sini terdapat kekurangan dan masih perlu penyempurnaan. Untuk itu kepada pembaca penulis ucapkan terima kasih dan semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. (editor) 2001. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembanga Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo

http://muhtadinabrori.blogspot.com/2008/11/studi-perbandingan.html

0 komentar:

Poskan Komentar