Senin, 08 Oktober 2012

SKRIPSI PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PAI SISWA KELAS VII DI SMP ASSA’ADAH BUNGAH GRESIK


BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang Masalah
Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi seluruh umat Islam. Sebagaimana yang kita ketahui dalam lima ayat yang pertama kali diturunkan, di situ tertera adanya perintah untuk “membaca”.
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-Alaq : 1-5)[1]

1
 
Iqra’ dalam ayat di atas oleh Quraish Shihab diartikan dengan bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak tertulis.[2] Pengulangan kata Iqra’ pada ayat tersebut menjelaskan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali dengan mengulang-ulang bacaan. Dari ayat tersebut jelas kiranya bahwa kita harus senantiasa membaca yaitu membaca apa saja yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Ayat di atas juga memberikan penjelasan tentang perlunya alat dalam melakukan kegiatan. Seperti halnya kalam yang diperlukan bagi pengembangan dan pemeliharaan ilmu pengetahuan. Kalam tersebut tidak terbatas hanya pada arti sebagai alat tulis yang banyak digunakan kalangan para santri di lembaga-lembaga pendidikan tradisional, melainkan juga mencakup berbagai peralatan yang dapat menyimpan berbagai informasi, mengakses dan menyalurkannya secara tepat dan akurat.[3] Termasuk di dalamnya adalah perpustakaan sebagai tempat untuk menyimpan berbagai informasi.
Membaca (sebagaimana disebutkan dalam surat al-‘Alaq di atas) merupakan bagian dari proses pendidikan.[4] Pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling bekerja sama dan salah satu komponen dalam pendidikan adalah sumber belajar.[5]
Perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang berpengaruh besar dalam dunia pendidikan. Khususnya perpustakaan sekolah, mempunyai peranan yang sangat dominan dalam pembangunan di bidang pendidikan. Salah satu peranan perpustakaan sekolah adalah meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan adanya perpustakaan diharapkan siswa dapat mengembangkan ketrampilan untuk mencari informasi bagi keperluan mereka secara mandiri.
Hal ini tentunya dengan cara memanfaatkan perpustakaan semaksimal mungkin, dengan cara membaca dan memahami buku-buku yang tersedia, baik buku pelajaran, keagamaan maupun umum.
Pasal 45 UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa “Setiap satuan pendidikan formal dan non-formal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional dan kejiwaan peserta didik”.[6]
Salah satu sarana pendidikan yang berpengaruh terhadap hasil pendidikan adalah perpustakaan, di mana perpustakaan ini harus memungkinkan tenaga kependidikan dan para peserta didik memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan membaca bahan pustaka yang mengandung ilmu pengetahuan yang diperlukan.
Perpustakaan sekolah sebagai sarana pendidikan yang amat penting harus diselenggarakan secara efektif dan efisien.[7] Lebih-lebih jika kita lihat perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi sekarang ini sedemikian pesatnya, maka peranan perpustakaan sebagai sumber informasi sangat kuat dan mutlak diperlukan di sekolah-sekolah. Sedemikian pentingnya perpustakaan, sehingga diibaratkan sebagai jantung pendidikan yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang langsung mempengaruhi hasil pendidikan.
Oleh karena itu baik secara struktural maupun operasional perpustakaan sekolah perlu penanganan lebih serius. Akan tetapi pada kenyataannya belum seluruh sekolah di negeri ini yang memiliki perpustakaan yang memadai, dan yang lebih penting adalah bagaimana agar murid-murid memiliki kegemaran membaca dan mampu memanfaatkannya secara optimal perpustakaan yang ada betapapun sedikitnya koleksi.[8] Berdasarkan penjelasan di atas, menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis untuk mengkaji tentang Peran Perpustakaan Sekolah Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI Siswa Kelas VII dengan obyek penelitian SMP Assa’adah Bungah Gresik. Hal ini dengan berbagai pertimbangan diantaranya yaitu:
1.      Perpustakaan merupakan pusat informasi yang ada di sekolah dan mempunyai peranan cukup besar dalam pendidikan khususnya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, sehingga perlu adanya perhatian khusus dalam menanganinya.
2.      Mengingat pentingnya peranan perpustakaan di sebuah sekolah, akan tetapi selama ini kelihatannya belum begitu banyak penelitian yang membahas tentang perpustakaan sekolah secara spesifik.
3.      Penulis mengambil obyek di SMP Assa’adah Bungah Gresik, sebab SMP Assa’adah Bungah Gresik merupakan salah satu SMP model yang ada di gresik yang sudah memiliki perpustakaan yang memadai.

1.2       Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi pokok-pokok permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1.     Bagaimanakah perpustakaan sekolah di SMP Assa’adah Bungah Gresik?
2.    Bagaimanakah prestasi belajar PAI siswa kelas  VII di SMP Assa’adah Bungah Gresik?
3.    Bagaimna peran  perpustakaan sekolah SMP Assa’adah Bungah Gresik dalam meningkatkan prestasi belajar PAI siswa?
1.3       Tujuan Penelitian
Sebagaimana perumusan masalah di atas, maka penelitian ini dimaksudkan untuk:
1.     Bersifat Umum
a.    Untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah di Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA) Suci-Manyar-Gresik.
b.    Untuk melaksanakan salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi Khususnya Di bidang Penelitian.
2.    Bersifat Khusus
a.    Mengetahui bagaimana keberadaan perpustakaan di SMP Assa’adah Bungah Gresik.
b.    Mengetahui bagaimana prestasi belajar PAI siswa kelas VII di SMP Assa’adah Bungah Gresik.
c.    Mengetahui peranan yang diberikan perpustakaan sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar PAI siswa SMP Assa’adah Bungah Gresik.

1.4       Manfaat Penelitian
Adapun hasil dari penelitian ini nantinya dapat diharapkan menjadi acuan dalam pengembangan perpustakaan sekolah pada umumnya dan perpustakaan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam pada khususnya, baik negeri maupun swasta. Hal ini mengingat masih sedikit lembaga pendidikan Islam yang mempunyai perpustakaan sekolah yang memadai. Oleh karena itu dengan penelitian ini diharapkan dapat menggugah hati para pengelola sekolah ataupun pengelola perpustakaan untuk mengembangkan perpustakaan sekolahnya semaksimal mungkin.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1      Landasan Teori
2.1.1          Pengertian Perpustakaan
2.1.1.1            Pengertian Perpustakaan Sekolah
Secara etimologis istilah perpustakaan berasal dari kata dasar “pustaka” yang berarti buku, kitab.[9] Dalam bahasa asing dikenal dengan istilah library (Inggris), liber atau libri (Latin), bebliotheek (Belanda), bebliothek (Jerman), bibilotheque (Perancis), biblioteca (Spanyol) dan biblia (Yunani).[10] Istilah Pustaka ini kemudian ditambah awalan “per” dan akhiran “an” menjadi perpustakaan.
Perpustakaan mengandung arti (a) tempat, gedung yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan dan sebagainya, (b) koleksi buku, majalah dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari dan dibicarakan.[11]
Dari kata dasar itu kemudian menimbulkan istilah turunan lain seperti: bahan pustaka, pustakawan, kepustakaan, dan ilmu pengetahuan.[12] Ada beberapa definisi perpustakaan, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.   
6
 
Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari satu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya.[13]
b.    Darmono memberikan definisi perpustakaan sebagai salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan.[14]
c.    Menurut Sumardji, perpustakaan adalah koleksi yang terdiri dari bahan-bahan tertulis, tercetak maupun grafis lainnya seperti film, slide, piringan hitam, tape, dalam ruangan atau gedung yang diatur dan diorganisasikan dengan sistem tertentu agar dapat digunakan untuk keperluan studi, penelitian, pembacaan dan lain sebagainya.[15]
d.    Menurut Milburga, dkk., perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk dipergunakan secara berkesinambungan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.[16] Pengertian perpustakaan sekolah merupakan turunan dari pengertian perpustakaan secara umum. Carter V. Good sebagaimana yang dikutip oleh Ibrahim Bafadal memberikan definisi perpustakaan sekolah sebagai koleksi yang diorganisasikan di dalam suatu ruang agar dapat digunakan oleh murid-murid dan guru-guru, yang dalam penyelenggaraannya diperlukan seorang pustakawan yang bisa diambil dari salah seorang guru.[17] 
Bafadal sendiri berpendapat bahwa perpustakaan sekolah adalah kumpulan bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan buku (non book material) yang diorganisasikan secara sistematis dalam suatu ruang sehingga dapat membantu murid-murid dan guru-guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Menurut Milburga, dkk, perpustakaan sekolah ialah suatu unit kerja dari sebuah lembaga persekolahan yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka penunjang proses pendidikan yang diatur secara sistematis, untuk dipergunakan secara berkesinambungan sebagai sumber informasi untuk memperkembangkan dan memperdalam pengetahuan, baik oleh pendidik maupun yang dididik di sekolah tersebut.[18]
Pendapat dari para ahli di atas, meskipun terlihat ada sedikit perbedaan akan tetapi sebenarnya mengarah pada satu pengertian. Dari ketiga pendapat di atas, yang memberikan penjelasan paling lengkap adalah pendapat dari Bafadal, sebab dalam definisi tersebut sudah dijelaskan bahwa koleksi yang ada di perpustakaan bukan hanya buku, akan tetapi juga koleksi non buku (non book material). Hal inilah yang membedakan pendapat Ibrahim Bafadal dengan pendapat-pendapat yang lain yang hanya menyebutkan “bahan pustaka” sebagai koleksi yang ada di perpustakaan.
Penyebutan “bahan pustaka” yang belum jelas ini dikhawatirkan akan memberikan pemahaman yang kurang tepat tentang bahanbahan pustaka yang ada di perpustakaan. Dari beberapa definisi di atas dapat penulis simpulkan bahwa secara garis besar perpustakaan adalah salah satu unit kerja / lembaga tertentu yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, mengelola dan mengatur koleksi bahan pustaka baik yang tertulis, tercetak, maupun grafis lainnya, seperti film, slide, piringan hitam, tape, yang diatur dan diorganisasikan secara sistematis untuk dipergunakan secara berkesinambungan sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan bagi setiap pemakainya.
Dengan demikian pengertian perpustakaan sekolah tidak jauh beda dengan pengertian perpustakaan umum, hanya saja tempatnya di sebuah lembaga pendidikan. Jadi, perpustakaan sekolah ialah suatu unit kerja dari lembaga pendidikan yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola dan mengatur koleksi bahan pustaka baik yang tertulis, tercetak maupun grafis lainnya (seperti film, slide, piringan hitam, tape) yang diatur dan diorganisasikan secara sistematis untuk dipergunakan secara berkesinambungan sehingga dapat membantu murid-murid dan guruguru dalam proses belajar mengajar.

2.1.1.2            Jenis-Jenis Perpustakaan
Pada umumnya jenis perpustakaan yang berkembang di Indonesia kurang lebih sama dengan yang berkembang di Negara lain, yang berbeda mungkin adalah perkembangannya. Hal ini dikarenakan perkembangan perpustakaan sangat tergantung kepada masyarakat setempat dan penyelenggaranya. Karena ada bermacam-macam golongan manusia yang memanfaatkan perpustakaan dan perpustakaan dapat diarahkan untuk bermacam-macam tujuan atau kebutuhan, maka ada beberapa jenis perpustakaan . Sulistyo-Basuki mengklasifikasikan perpustakaan menjadi 2, yaitu:
a.    Menurut fungsinya, perpustakaan dibagi menjadi perpustakaan khusus dan perpustakaan umum.
b.    Menurut jenisnya menghasilkan kelompok perpustakaan khusus, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan nasional, dan perpustakaan pribadi.[19]
Secara lebih lanjut, perpustakaan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a.    Berdasarkan jenis koleksinya
1.     Perpustakaan umum, yaitu perpustakaan yang koleksinya terdiri dari berbagai bidang ilmu pengetahuan (bersifat umum)
2.    Perpustakaan khusus, yaitu perpustakaan yang koleksinya hanya khusus mengenai bidang ilmu pengetahuan tertentu, misalnya perpustakaan kedokteran, perpustakaan ilmu dan tekhnologi, perpustakaan musik, perpustakaan hukum, perpustakaan theologi, perpustakaan teknik mengarang dan sebagainya.[20]
3.    Perpustakaan Digital
Sebenarnya perpustakaan digital bukan merupakan salah satu jenis perpustakaan tersendiri, akan tetapi merupakan pengembangan dalam sistem layanan perpustakaan. Misalnya pada perpustakaan khusus atau perpustakaan perguruan tinggi.
Di dalam sistem tersebut tidak tampak secara fisik sumber informasi atau koleksi bahan pustaka, karena informasi tersebut sudah diubah bentuknya menjadi digital. Para pemakai perpustakaan dapat mengaksesnya melalui suatu peralatan tertentu. Oleh karena itu perpustakaan digital ada yang menyebut sebagai suatu perpustakaan maya (virtual library). Cara akses informasi seperti itu sudah banyak digunakan, karena sangat praktis dan efektif, namun belum secara luas dapat dipakai oleh semua orang. Sebab memerlukan teknologi tinggi dan relative mahal, sehingga belum semua perpustakaan mampu menyediakan fasilitas tersebut.[21]
b.    Berdasarkan pemakainya
Berdasarkan pemakai atau pengguna jasa layanannya, perpustakaan dapat dibedakan menjadi:
1)    Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang dikelola oleh sekolah dan berfungsi untuk sarana kegiatan belajar mengajar, penelitian sederhana, menyediakan bahan bacaan guna menambah ilmu pengetahuan, sekaligus rekreasi yang sehat disela-sela kegiatan belajar.[22] Pengguna perpustakaan ini terbatas pada civitas akademika yaitu guru, siswa dan karyawan sekolah.

2)   Perpustakaan Perguruan Tinggi
Perpustakaan Perguruan Tinggi yaitu perpustakaan yang dikelola oleh perguruan tinggi dengan tujuan membantu tercapainya tujuan perguruan tinggi.
Keberadaan, tugas dan fungsi perpustakaan tersebut adalah dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.[23] Seperti halnya perpustakaan sekolah, pengguna perpustakaan perguruan tinggi tersebut yaitu mahasiswa, dosen, dan karyawan. Perpustakaan di perguruan tinggi biasanya masih dibagi lagi menjadi perpustakaan fakultas dan jurusan sesuai dengan fakultas dan jurusan yang ada di perguruan tinggi tersebut.
3)   Perpustakaan Umum
Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang. menjadi pusat kegiatan belajar, pelayanan informasi, penelitian dan rekreasi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Perpustakaan umum merupakan satu-satunya perpustakaan yang masih dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu: (1) Perpustakaan umum kabupaten/ kota, (2) Perpustakaan umum kecamatan, (3) Perpustakaan umum desa/ kelurahan, (4) Perpustakaan cabang, (5) Perpustakaan taman bacaan rakyat / perpustakaan umum taman masyarakat dan (6) Perpustakaan keliling.[24]

c.    Berdasarkan pengelola/pemiliknya
1)    Perpustakaan Internasional
Perpustakaan Internasional yaitu perpustakaan yang dikelola oleh dua negara atau lebih, yang koleksi dan pemakainya bersifat internasional.[25] Contohnya ialah perpustakaan PBB dan perpustakaan ASEAN.
2)   Perpustakaan Nasional
Perpustakaan nasional berkedudukan di Ibu Kota negara, berfungsi sebagai perpustakaan deposit nasional dan terbitan asing dalam ilmu pengetahuan, sebagai koleksi nasional, menjadi pusat bibliografi nasional, pusat informasi dan referensi serta penelitian, pusat kerjasama antar perpustakaan di dalam dan luar negeri.[26] Perpustakaan nasional dikelola oleh pemerintah pusat.
3)   Badan Perpustakaan Daerah
Badan Perpustakaan Daerah disebut juga Perpustakaan Wilayah. Berkedudukan di Ibu Kota propinsi, sebagai pusat kerjasama antar perpustakaan di wilayah propinsi, semua terbitan di wilayah, pusat penyelenggaraan referensi, informasi dan penelitian dalam wilayah propinsi serta menjadi unit pelaksana teknis pusat pembinaan perpustakaan. Badan Perpustakaan Daerah dikelola oleh Pemerintah daerah setempat, di bawah naungan perpustakaan nasional.
4)   Perpustakaan Kantor Perwakilan Negara-Negara Asing
Perpustakaan Kantor Perwakilan Negara-negara Asing yaitu perpustakaan yang dimiliki dan diselenggarakan oleh lembaga-lembaga atau kantor perwakilan negara-negara asing. Perpustakaan tersebut dapat ditemukan pada kedutaan besar negara-negara sahabat, atau lembaga-lembaga tertentu. Contoh: perpustakaan British Counsil, perpustakaan Lembaga Kebudayaan Jepang, Pusat Kebudayaan Perancis, dan lain-lain.[27]
5)   Perpustakaan Lembaga Keagamaan
Perpustakaan Lembaga Keagamaan adalah perpustakaan yang dimiliki dan dikelola oleh lembaga-lembaga keagamaan. Misalnya perpustakaan Masjid, perpustakaan Gereja, dan lainlain.
6)   Perpustakaan Pribadi
Perpustakaan Pribadi adalah perpustakaan yang dimiliki dan dikelola oleh perorangan atau orangorang tertentu.[28]
7)   Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah dikelola oleh sekolah sebagai sarana penunjang kegiatan belajar mengajar.
8)   Perpustakaan Perguruan Tinggi
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang dikelola oleh perguruan tinggi sebagai penunjang pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.

2.1.1.3            Fungsi dan Peranan Perpustakaan Sekolah
Fungsi perpustakaan adalah suatu tugas atau jabatan yang harus dilakukan di dalam perpustakaan tersebut. Sesuai dengan unsur pengertian bahwa di dalam perpustakaan terdapat koleksi yang digunakan untuk keperluan studi, penelitian, bacaan umum dan lainlainnya, maka perpustakaan mempunyai pelbagai macam fungsi.
Milburga, dkk membagi fungsi perpustakaan sekolah menjadi 7, yaitu:
a.    Membantu para siswa melaksanakan penelitian dan membantu menemukan keterangan-keterangan yang lebih luas dari pelajaran yang didapatnya di dalam kelas.
b.    Memupuk daya kritis pada siswa.
c.    Membantu memperkembangkan kegemaran dan hobi siswa.
d.    Tempat untuk melestarikan kebudayaan.
e.    Sebagai pusat penerangan.
f.    Menjadi pusat dokumentasi.
g.    Sebagai tempat rekreasi.[29]
Sementara dalam “Perpustakaan Nasional” disebutkan bahwa secara garis besar perpustakaan sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:
a.    Sebagai pusat belajar mengajar.
b.    Membantu anak didik memperjelas dan memperluas pengetahuannya tentang suatu pelajaran di kelas dan mengadakan penelitian di perpustakaan.
c.    Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca yang menuju kebiasaan mandiri.
d.    Membantu anak untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemarannya.
e.    Membiasakan anak mencari informasi di perpustakaan.
f.    Sebagai tempat rekreasi.
g.    Memperluas kesempatan belajar bagi murid-murid.[30]
Dari kedua pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perpustakaan sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:
a.    Fungsi edukatif
Di perpustakaan sekolah disediakan buku-buku baik fiksi maupun non fiksi. Adanya buku-buku ini dapat membiasakan murid-murid belajar mandiri dan dapat meningkatkan interest membaca murid-murid.[31]
b.    Fungsi informatif
Perpustakaan yang sudah maju tidak hanya menyediakan bahan-bahan pustaka yang berupa buku-buku, akan tetapi juga bahan-bahan yang bukan berupa buku.[32] Semuanya itu akan memberikan informasi atau keterangan yang diperlukan oleh murid-murid. Perpustakaan sebagai informasi ini menambah wawasan tentang segala yang bermanfaat.
c.    Fungsi tanggung jawab administratif
Hal ini dapat dilihat dalam kegiatan sehari-hari di perpustakaan, yaitu melalui pencatatan adanya peminjaman dan pengembalian. Adanya sanksi jika ada keterlambatan ataupun menghilangkan buku juga membantu mendidik murid-murid untuk bertanggung jawab dan tertib administrasi.[33]
d.    Fungsi riset
Sebagaimana penjelasan di muka bahwa perpustakaan menyediakan banyak bahan pustaka. Dengan adanya bahan pustaka yang lengkap murid-murid dan guru-guru dapat melakukan riset, yaitu mengumpulkan data atau keterangan-keterangan yang diperlukan.[34]
e.    Fungsi cultural
Perpustakaan bertugas menyimpan khasanah budaya bangsa atau masyarakat tempat perpustakaan berada serta meningkatkan nilai dan apresiasi budaya dari masyarakat sekitar perpustakaan melalui penyediaan bahan pustaka.[35]
f.    Fungsi rekreatif
Perpustakaan diharapkan dapat mengembangkan minat rekreasi melalui berbagai bacaan dan pemanfaatan waktu senggang.[36] Perpustakaan sekolah dapat digunakan sebagai tempat mengisi waktu luang pada waktu istirahat dengan membaca buku-buku cerita, novel, roman, majalah, surat kabar, dan sebagainya.
Di samping fungsi perpustakaan sebagaimana yang dijelaskan di atas, perpustakaan juga mempunyai peranan. Peranan perpustakaan merupakan bagian dari tugas pokok yang harus dijalankan di dalam perpustakaan. Setiap perpustakaan yang dibangun akan bermakna jika dapat menjalankan peranannya sebaikbaiknya.
Peranan tersebut berhubungan dengan keberadaan, tugasdan fungsi perpustakaan. Peranan perpustakaan yang paling utama adalah memberi informasi dari berbagai ilmu dan disiplin ilmu. Peranan yang dapat dijalankan oleh perpustakaan antara lain adalah:
a.    Perpustakaan merupakan media atau jembatan yang menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan para pemakainya
b.    Sebagai sarana untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai dan antara penyelenggara perpustakaan dengan masyarakat yang dilayani.
c.    Sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca dan budaya baca melalui penyediaan berbagai bahan bacaan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.
d.    Sebagai fasilitator, mediator, dan motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta pengalamannya.
e.    Perpustakaan merupakan agen perubahan, agen pembangunan dan agen kebudayaan umat manusia.
f.    Sebagai lembaga pendidikan non formal bagi anggota masyarakat dan pengunjung perpustakaan.
g.    Sebagai pembimbing dan memberikan konsultasi kepada pemakai atau melakukan pendidikan pemakai (user education).
h.    Menghimpun dan melestarikan koleksi bahan pustaka agar tetap dalam keadaan baik.
i.     Sebagai ukuran (barometer) atas kemajuan masyarakat dilihat dari intensitas kunjungan dan pemakaian perpustakaan.
j.     Secara tidak langsung perpustakaan yang berfungsi dan dimanfaatkan dengan baik dapat ikut berperan dalam mengurangi dan mencegah kenakalan remaja.[37]

2.1.1.4            Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar
Dalam arti luas, sumber belajar (learning resources) adalah segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar.[38]
Menurut Hamalik, sumber belajar adalah semua yang dipakai noleh siswa (sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan para siswa lainnya) untuk memudahkan belajar.[39]
Dale sebagaimana yang dikutip oleh Rohani menyatakan bahwa: Sumber belajar adalah pengalaman-pengalaman yang pada dasarnya sangat luas, yakni seluas kehidupan yang mencakup segala sesuatu yang dapat dialami, yang dapat menimbulkan peristiwa belajar. Maksudnya adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.[40]
Berangkat dari pengertian di atas, selanjutnya AECT (Assosiation for Education Communication and Technology) sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Rohani mengklasifikasikan sumber belajar menjadi 6, yaitu:
a.    Pesan (messages), yaitu informasi yang ditransmisikan (diteruskan) oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti dan data. Termasuk ke dalam kelompok pesan adalah semua bidang atau mata kuliah yang harus diajarkan kepada peserta didik.
b.    Orang (peoples), yaitu manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, penyaji pesan. Dalam kelompok ini misalnya seorang Guru, Dosen, Tutor, peserta didik, tokoh masyarakat atau orang-orang lain yang mungkin berinteraksi dengan peserta didik.
c.    Bahan (materials), yaitu perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri. Berbagai program media termasuk kategori bahan, misalnya transparansi, slide, film, film-strip, audio, video, buku, modul, majalah, bahan instruksioal terprogram dan lain-lain.
d.    Alat (devices), yaitu perangkat keras yang digunakan untuk penyampaian pesan yang tersimpan dalam bahan. Misalnya, proyektor slide, overhead, video tape, pesawat radio, pesawat televisi dan lain-lain.
e.    Teknik (techniques), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. Contohnya instruksional terprogram, belajar sendiri, belajar tentang permainan simulasi, demonstrasi, ceramah, Tanya jawab, dan lain-lain.
f.    Lingkungan (setting), yaitu situasi sekitar di mana pesan disampaikan. Lingkungan bisa bersifat fisik (gedung sekolah, kampus, perpustakaan, laboratorium, studio, auditorium, museum, taman) maupun lingkungan non fisik (suasana belajar dan lain-lain).[41]
Wijaya, dkk., membedakan sumber belajar menjadi lima jenis, yaitu orang, benda-benda material, ruang dan tempat (setting), alat dan perabot, serta kegiatan.[42]
Selain klasifikasi di atas AECT juga membedakan sumber belajar menjadi dua, yaitu:
a.    Sumber belajar yang dirancang (by design) untuk tujuan belajar seperti misalnya guru, dosen, pelatih, ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, bengkel kerja, simulator, modul.
b.    Sumber belajar yang dimanfaatkan (by utilization) yaitu dimanfaatkan untuk tujuan belajar. Contohnya pejabat, tokoh masyarakat, orang ahli di lapangan, pabrik, pasar, rumah sakit, surat kabar, radio, televisi dan lain-lain.[43]
Dari beberapa penjelasan di atas, jelas kiranya bahwa perpustakaan termasuk di dalamnya koleksi, pengunjung dan pustakawan termasuk dalam sumber belajar. Sumber-sumber belajar tersebut saling melengkapi satu sama lain, meskipun bisa juga secara sendiri-sendiri berperan menimbulkan proses belajar. Misalnya para pengunjung banyak mendapat informasi penting dari para pustakawan, sehingga untuk saat itu mereka tidak memerlukan informasi jenis lainnya yang tersimpan dalam jenis sumber lain.
Perpustakaan mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai pusat sumber belajar yang tersedia untuk penyimpanan dan untuk pemanfaatan sumber belajar yang berupa cetak maupun non cetak.[44]
Perpustakaan yang lengkap dan dikelola dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih mengembangkan dan mendalami pengetahuan yang diperolehnya di kelas melalui belajar mandiri, baik pada waktu-waktu kosong di sekolah maupun di rumah. Disamping itu, juga memungkinkan guru untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri, dan juga dapat mengajar dengan metode bervariasi. Misalnya belajar individual.[45]
Menurut Arsyad, agar perpustakaan dapat berfungsi sebagai sumber belajar secara efektif, maka diperlukan ketrampilan-ketrampilan sebagai berikut:
a.    Keterampilan mengumpulkan informasi, yang meliputi keterampilan [1] mengenal sumber informasi dan pengetahuan, [2] menentukan lokasi sumber informasi berdasarkan sistem klasifikasi perpustakaan, cara menggunakan katalog dan indeks, [3] menggunakan bahan pustaka baru, bahan referensi seperti ensiklopedia, kamus, buku tahunan, dan lain-lain.
b.    Keterampilan mengambil intisari dan mengorganisasikan informasi, seperti [1] memilih informasi yang relevan dengan kebutuhan dan masalah, dan [2] mendokumentasikan informasi dan sumbernya.
c.    Keterampilan menganalisis, menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi, seperti [1] memahami bahan yang dibaca, [2] membedakan antara fakta dan opini, dan [3] menginterpretasi informasi baik yang saling mendukung maupun yang berlawanan.
d.    Ketrampilan menggunakan informasi, seperti [1] memanfaatkan intisari informasi untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah, [2] menggunakan informasi dalam diskusi, dan [3] menyajikan informasi dalam bentuk tulisan.[46]
Berbicara mengenai perpustakaan sebagai pusat sumber belajar tentunya berkaitan dengan belajar berdasarkan sumber (resource based learning) yaitu segala bentuk belajar yang menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara individual atau kelompok dengan segala kegiatan yang bertalian itu.[47]
Sumber belajar yang sejak lama digunakan dalam proses belajar mengajar adalah buku-buku dan hingga sekarang buku-buku masih memegang peranan yang amat penting. Oleh karena itu, ahli perpustakaan mempunyai peranan yang penting sekali dalam resource based learning ini. Belajar Berdasarkan Sumber (BBS) ini memanfaatkan sepenuhnya segala sumber informasi sebagai sumber bagi pelajaran termasuk alat-alat audio-visual dan member kesempatan untuk merencanakan kegiatan belajar dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia. Di sini siswa harus diajarkan tekhnik melakukan kerja lapangan, menggunakan perpustakaan serta buku referensi, sehingga mereka lebih percaya pada diri sendiri dalam belajar.
Dari keterangan-keterangan di atas, jelas kiranya bahwa perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang berpengaruh dalam proses belajar-mengajar. Selain itu perpustakaan juga merupakan pusat sumber belajar yang berfungsi menyimpan berbagai macam sumber belajar.

2.1.2          Pengertian Prestasi Belajar
2.1.2.1            Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan kelompok kata yang berasal dari kata prestasi dan belajar. Adapun kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestati’e. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha”.[48] Dalam Kamus Psikologi disebutkan bahwa:
Prestasi atau achievement adalah: (1) Pencapaian atau hasil yang telah dicapai, (2) Sesuatu yang telah dicapai, (3) Satu tingkat khusus dari kesuksesan karena mempelajari tugas-tugas atau tingkat tertentu dari kecakapan/keahlian dalam tugas-tugas sekolah/akademis. Secara pendidikan atau akademis, prestasi merupakan satu tingkat khusus perolehan/hasil keahlian dalam karya akademis yang dinilai oleh guru-guru, lewat tes-tes yang dibakukan atau lewat kombinasi kedua hal tersebut.[49]
Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau kecakapan.[50] Ada beberapa pendapat para ahli berkenaan dengan pengertian belajar, yaitu:
a.       Menurut Crow
“Learning is modification of behaviour accompanying growth processes that are brought about through adjustment to tensions initiated sensory stimulation”.[51] Belajar yaitu perubahan tingkah laku yang diiringi dengan proses pertumbuhan yang ditimbulkan melalui penyesuaian diri terhadap keadaan lewat rangsangan.
b.      Menurut Morgan
“Learning is relatively permanent change in behavior that is a result of past experience”.[52] Belajar yaitu perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang merupakan hasil dari pengalaman.
c.       Menurut Wittig
“Learning can be defined as any relatively permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as a result of experience”.[53]
Belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam / keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
d.      Menurut Slameto
 “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.[54]
e.       Menurut Sudjana
“Belajar adalah suatu perubahan pada diri seseorang dalam hal pengalaman, keterampilan, pemahaman, serta perubahan-perubahan lain.”[55]
Dari beberapa definisi tentang belajar di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu perubahan pada tingkah laku seseorang. Proses perubahan ini bisa dari belum mampu menjadi mampu, dari tidak tahu menjadi tahu dan proses perubahan ini terjadi selama jangka waktu tertentu.[56]
Menurut Slameto, perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Perubahan terjadi secara sadar
b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
d. Perubahan dalam belajar bersifat sementara
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.[57]
Selain itu belajar juga merupakan pengembangan dari potensi yang dimiliki oleh setiap orang sejak lahir. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat ar-Rum ayat 30 yaitu:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
Artinya : Maka hadapkanlah wajah-wajah dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar-Rum: 30).[58]

Menurut Moedjiono dan Dimyati, prestasi belajar / hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi dari tindak belajar dan mengajar.[59] Sedangkan menurut Muchtar Buchari prestasi belajar yaitu hasil yang telah dicapai / ditunjukkan oleh murid sebagai hasil belajarnya, baik berupa angka maupun huruf serta tindakannya yang mencerminkan hasil yang telah dicapai masing-masing anak dalam prestasi tertentu.[60]
Prestasi belajar siswa secara formal dapat dilihat dari buku raport. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Winkel dalam buku “Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah”: “Buku Raport merupakan alat untuk melaporkan hasil belajar di sekolah kepada orangtua murid, tetapi raport dapat digunakan juga sebagai alat menyimpan data tentang hasil belajar dalam berbagai mata pelajaran selama murid belajar di sekolah itu”.[61]
Dengan demikian secara sederhana prestasi belajar dapat diartikan sebagai penguasaan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa sebagai hasil dari interaksi belajar mengajar yang ditunjukkan dengan nilai tes dalam bentuk raport. Prestasi belajar merupakan salah satu indikator dari sebuah keberhasilan. Prestasi belajar terasa penting untuk dipermasalahkan karena mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu:[62]
a.    Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik
b.    Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu
c.    Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inofasi pendidikan
d.    Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.

2.1.2.2            Bentuk-Bentuk Prestasi Belajar
Setiap proses belajar mengajar, keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa, di samping dari prosesnya. Bentuk hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa penting diketahui oleh guru, agar guru dapat merancang / mendesain pengajaran secara tepat dan penuh arti.
Howard Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yaitu [a] ketrampilan dan kebiasaan, [b] pengetahuan dan pengertian, [c] sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah.
Gagne mengemukakan lima kategori tipe hasil belajar, yaitu [a] verbal information, [b] intelektual skill, [c] cognitive strategy, [d] attitude, dan [e] motor skill. Sementara Benyamin Bloom berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang hendak kita capai digolongkan menjadi tiga bidang, yakni [a] bidang kognitif, [b] bidang afektif, dan [c] bidang psikomotor. Masing-masing bidang dibagi lagi menjadi beberapa tingkatan.[63]
Oleh karena sistem pendidikan kita menganut teori yang dikemukakan oleh Benyamin Bloom, maka hasil belajar dibedakan menjadi tiga, yaitu:[64]
a.    Tipe hasil belajar bidang kognitif
1.   Knowledge (pengetahuan, ingatan)
Tipe hasil belajar ini merupakan tipe hasil belajar tingkat rendah. Tipe ini mencakup pengetahuan hafalan termasuk pula pengetahuan yang sifatnya factual disamping pengetahuan mengenai hal-hal yang perlu diingat kembali, seperti batasan, peristilahan, pasal, hukum, rumus dan lain-lain. Tipe hasil belajar ini penting sebagai prasyarat untuk menguasai dan mempelajari tipe hasil belajar lain yang lebih tinggi.
2.  Comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh)
Tipe hasil belajar ini lebih tinggi satu tingkat dari tipe hasil belajar pengetahuan. Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep. Ada tiga macam pemahaman, yaitu pemahaman terjemahan, pemahaman penafsiran dan pemahaman ekstrapolasi.
3.  Aplication (penerapan)
Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan dan mengabstraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi yang baru. Aplikasi bukan ketrampilan motorik tapi lebih banyak ketrampilan mental.
4.  Analysis (menguraikan, menentukan hubungan)
Analisis adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti, atau mempunyai tingkatan / hirarki. Analisis merupakan tipe hasil belajar yang kompleks yang memanfaatkan unsur tipe hasil belajar sebelumnya yaitu pengetahuan, pemahaman dan aplikasi. Analisis sangat diperlukan bagi siswa sekolah menengah, apalagi di perguruan tinggi.
5.  Synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru)
Sintesis merupakan lawan dari analisis. Sintesis adalah kesanggupan menyatukan unsur atau bagian menjadi satu integritas. Sintesis memerlukan kemampuan hafalan, pemahaman, aplikasi dan analisis.
6.  Evaluation (menilai)
Tipe hasil belajar ini dikategorikan paling tinggi dan mengandung semua tipe hasil belajar yang lain. Evaluasi adalah kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan judgment yang dimilikinya dan kriteria yang dipakainya. Di sini ditekankan pada pertimbangan sesuatu nilai, mengenai baik tidaknya, tepat tidaknya, dengan menggunakan kriteria tertentu.
b.    Tipe hasil belajar bidang afektif
Bidang afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti atensi / perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan lain-lain.
Ada beberapa tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar, yaitu:
1.     Receiving / Attending (sikap menerima), yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang pada siswa, baik dalam bentuk masalah, situasi, ataupun gejala.
2.    Responding (memberikan respons), yaitu reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar.
3.    Valuing (penilaian), yakni berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi.
4.    Organization (organisasi), yaitu pengembangan nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lain dan kemantapan, serta prioritas nilai yang telah dimilikinya.
5.    Characterization (karakteristik nilai), yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang sedang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.[65]
c.    Tipe hasil belajar bidang psikomotor
Hasil belajar bidang ini tampak dalam bentuk ketrampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu (seseorang). Tipe hasil belajar ini mempunyai 6 tingkatan keterampilan, yaitu:
1.     Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar)
2.    Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar
3.    Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif motorik dan lain-lain.
4.    Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, ketepatan.
5.    Gerakan-gerakan skill, mulai dari ketrampilan sederhana sampai pada ketrampilan yang kompleks.
6.    Kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi seperti gerakan ekspresif, interpretatif.[66]
Tipe hasil belajar yang dikemukakan di atas sebenarnya tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhubunganm satu sama lain bahkan ada dalam kebersaman. Jika dalam kurikulum-kurikulum sebelumnya (kurikulum 1997-1999), penekanannya pada bidang afektif, akan tetapi pada kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi[67] sekarang ini ditekankan pada perpaduan ketiga ranah tersebut. Pengetahuan tentang ketiga tipe hasil belajar ini sangat penting bagi guru sebagai dasar dalam pencapaian sebuah kompetensi.

2.1.3          Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan suatu ketrampilan dan penguasaan mata pelajaran di mana penguasaan mata pelajaran tersebut dinilai dengan angka sebagai perwujudan yang telah dicapai oleh siswa dalam belajarnya. Prestasi merupakan hasil dari proses interaksi dari berbagai komponen / faktor. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan / prestasi seseorang.
Menurut Slameto, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar terdiri dari faktor intern dan faktor ekstern.
2.1.3.1           Faktor Intern
Faktor intern merupakan faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor intern terdiri dari faktor jasmaniah, factor psikologis dan faktor kelelahan.
Faktor jasmaniah meliputi: faktor kesehatan dan cacat tubuh.
Faktor psikologis meliputi: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan. Sedangkan faktor kelelahan meliputi kelelahan jasmani dan rohani.

2.1.3.2           Faktor Ekstern
Faktor ekstern merupakan faktor yang ada di luar individu, yang terdiri dari: faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga yang berupa: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, serta latar belakang kebudayaan.
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.
Sedangkan faktor masyarakat yang berpengaruh terhadap prestasi belajar antara lain: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.[68]
Wasty Soemanto berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hal belajar terdiri dari 3 macam, yaitu:[69]
a.    Faktor-faktor stimuli belajar
Terdiri dari: panjangnya bahan pelajaran, kesulitan bahan pelajaran, berartinya bahan pelajaran, berat ringannya tugas dan suasana lingkungan eksternal (cuaca, waktu, kondisi tempat dan lain-lain).
b.    Faktor-faktor metode belajar
Terdiri dari: kegiatan berlatih (praktek), overlearning dan drill, resitasi selama belajar, pengenalan tentang hasil-hasil belajar, belajar dengan keseluruhan dan dengan bagian-bagian, penggunaan modalitas indra, penggunaan dalam belajar, bimbingan dalam belajar dan kondisi-kondisi insentif.
c.    Faktor-faktor individual
Terdiri dari: kematangan, faktor usia kronologis, faktor perbedaan jenis kelamin, pengalaman sebelumnya, kapasitas mental, kondisi kesehatan jasmani, kondisi kesehatan rohani, dan motivasi.
Muhibbin Syah membagi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menjadi 3, yaitu:[70]
a.    Faktor internal, yang terdiri dari aspek fisiologis jasmaniah) dan aspek psikologis (rohaniah). Aspek psikologis terdiri dari inteligensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, dan motivasi siswa.
b.    Faktor eksternal siswa, terdiri dari lingkungan sosial (guru, staf administrasi dan teman-teman sekelas, orang tua, dan keluarga siswa), dan lingkungan non sosial (gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal, alat-alat belajar, cuaca, waktu belajar, dan sebagainya).
c.    Faktor pendekatan belajar.
Dimyati dan Mudjiono membagi faktor-faktor yang mempengaruh belajar menjadi dua, yaitu:[71]
a.   Faktor Intern Belajar
Faktor intern ini terdiri dari: sikap terhadap mengajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, mengolah bahan belajar, menyimpan perolehan hasil belajar, rasa percaya diri siswa, inteligensi dan keberhasilan siswa, kebiasaan mengajar serta cita-cita siswa.
b.  Faktor ekstern Belajar
Faktor ekstern ini terdiri dari guru sebagai pembina siswa belajar, sarana dan prasarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan sosial siswa di sekolah, serta kurikulum sekolah.
Ngalim Purwanto membuat ikhtisar tentang faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, yaitu sebagai berikut:[72]


 

                  











2.2       Kerangka Konseptual
 








Dalam hal ini penulis akan mempertegas kembali judul  yang di angkat yaitu Peran Perpustakaan Sekolah terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI Siswa Kelas VII di SMP Assa’adah Bungah Gresik
a.  Pengertian Perpustakaan:
Secara etimologis istilah perpustakaan berasal dari kata dasar “pustaka” yang berarti buku, kitab. Dalam bahasa asing dikenal dengan istilah library (Inggris), liber atau libri (Latin), bebliotheek (Belanda), bebliothek (Jerman), bibilotheque (Perancis), biblioteca (Spanyol) dan biblia (Yunani). Istilah Pustaka ini kemudian ditambah awalan “per” dan akhiran “an” menjadi perpustakaan.
Perpustakaan mengandung arti (a) tempat, gedung yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan dan sebagainya, (b) koleksi buku, majalah dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari dan dibicarakan.

b.  Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan kelompok kata yang berasal dari kata prestasi dan belajar. Adapun kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestati’e. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha”. Dalam Kamus Psikologi disebutkan bahwa:
Prestasi atau achievement adalah: (1) Pencapaian atau hasil yang telah dicapai, (2) Sesuatu yang telah dicapai, (3) Satu tingkat khusus dari kesuksesan karena mempelajari tugas-tugas atau tingkat tertentu dari kecakapan/keahlian dalam tugas-tugas sekolah/akademis. Secara pendidikan atau akademis, prestasi merupakan satu tingkat khusus perolehan/hasil keahlian dalam karya akademis yang dinilai oleh guru-guru, lewat tes-tes yang dibakukan atau lewat kombinasi kedua hal tersebut.
Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan.

2.3       Penelitian yang Relevan
Sebelum melakukan penelitian ini, peneliti telah menelusuri beberapa hasil penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan penenlitian yang peneliti lakukan ini. Dari beberapa contoh judul penelitian terdahulu memang memiliki keterkaitan dari segi masalah yaitu mencari tau tentang Peran Perpustakaan Sekolah Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI. Oleh karena itu peneliti memilih masalah tentang “Peran Perpustakaan Sekolah terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI Siswa Kelas VII di SMP Assa’adah Bungah Gresik.
BAB III
METODOLOGI PENETILIAN

3.1       Metodologi Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (sebagaimana yang dikutip oleh Moleong), metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.[73] Sementara itu, Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.
Penulis menggunakan metode kualitatif sebab (1) lebih mudah mengadakan penyesuaian dengan kenyataan yang berdimensi ganda, (2) lebih mudah menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dan subyek penelitian, (3) memiliki kepekaan dan daya penyesuaian diri dengan banyak pengaruh yang timbul dari pola-pola nilai yang dihadapi.[74]
3.1.1          Metode Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan beberapa metode yang lazim digunakan dalam berbagai penelitian ilmiah, yaitu library research dan field research.

39
 
 

1)    Library research / studi kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu usaha untuk memperoleh data dengan cara mengadakan research kepustakaan.[75] Dengan memanfaatkan perpustakaan yang berarti dengan melakukan penelusuran kepustakaan dan menelaahnya. Manfaat yang diperoleh dari penelusuran kepustakaan ialah: (1) Menggali teori-teori dasar dan konsep yang telah diketemukan oleh para ahli terdahulu, (2) Mengikuti perkembangan penelitian dalam bidang yang akan diteliti, (3) Memperoleh orientasi yang lebih luas mengenai topik yang dipilih, (4) Memanfaatkan data sekunder dan (5) Menghindari duplikasi penelitian.[76] Metode ini dilakukan untuk mendapatkan landasan teori yang diperlukan berdasarkan buku-buku atau literatur yang terkait dengan skripsi ini.
2)   Field research / studi lapangan
Studi lapangan merupakan penelitian yang dilakukan di kancah lapangan terjadinya gejala-gejala.[77] Studi lapangan digunakan untuk memperoleh data yang ada di lapangan sehubungan dengan pengembangan perpustakaan dan prestasi belajar yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini. Untuk mempermudah dalam melaksanakan studi lapangan, penulis menggunakan beberapa metode untuk memperoleh data-data yang diperlukan, yaitu:


a.    Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.[78] Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang situasi dan kondisi umum SMP Assa’adah Bungah Gresik, khususnya pada perpustakaannya. Metode ini juga digunakan untuk mengetahui sarana dan prasarana yang ada, letak geografis serta untuk mengumpulkan data-data statistik lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Misalnya menyangkut jumlah siswa, jumlah guru, dan sebagainya. Metode observasi juga penulis gunakan untuk mengetahui peran dari perpustakaan ini terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Hal ini dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung ke perpustakaan. Dengan demikian akan diketahui apakah perpustakaan tersebut sudah dimanfaatkan oleh para guru dan murid secara maksimal atau belum.
b.    Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, dan sebagainya.[79] Metode ini dipergunakan untuk memperoleh data tentang keadaan guru, jumlah siswa, keadaan perpustakaan, jumlah koleksi, sarana dan prasarana perpustakaan serta data-data lain yang bersifat dokumen. Metode ini dimaksudkan sebagai tambahan untuk bukti penguat.
c.    Interview
Interview disebut juga metode wawancara, yaitu pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula.[80] Metode wawancara menghendaki komunikasi langsung antara penyelidik dengan subyek (responden).[81]
Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan keadaan umum SMP Assa’adah Bungah Gresik temasuk gambaran umum perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik. Dengan metode ini diharapkan juga dapat diperoleh data tentang tanggapan/pendapat mengenai keadaan Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik dan pengembangannya, serta untuk mengetahui sejauhmana peran Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik yang sudah berkembang berpengaruh terhadap hasil belajar PAI siswa.
Adapun sebagai sumber informasinya adalah:
1.     Kepala sekolah SMP Assa’adah Bungah Gresik
2.    Koordinator Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik
3.    Pegawai Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik
4.    Guru dan siswa-siswi SMP Assa’adah Bungah Gresik
5.    Pihak-pihak lain yang berkaitan dengan Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik.

3.1.2        Metode Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (meaning).[82]
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia baik dari hasil wawancara, pengamatan, maupun dari hasil dokumentasi. Data yang dioperoleh tersebut tentunya banyak sekali.
Setelah dibaca, dipelajari dan ditelaah kemudian langkah selanjutnya ialah dengan mengadakan reduksi data dengan cara membuat abstraksi yaitu membuat rangkuman inti dari proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunnya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu dilakukan sambil membuat koding. Adapun data-data yang diperoleh dari angket selanjutnya diolah dengan cara ditabulasi dan diprosentasekan. Setelah itu di-cross-check dengan data-data lain yang diperolah dari observasi maupun interview. Tahap akhir dari analisis data ini adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data.[83]
Sejalan dengan pendapat Moleong, Miller dan Huberman sebagaimana yang dikutip oleh Heribertus B. Sutopo menyebutkan, bahwa untuk menganalisis data yang bersifat deskriptif kualitatif[84] digunakan analisis interaktif yang terdiri dari 3 komponen, yaitu (1) reduksi data, (2) sajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi, yang digambarkan dalam suatu proses siklus.[85]
 







Untuk membuat kesimpulan, penulis menggunakan metode induktif, yaitu suatu pengambilan keputusan dengan menggunakan pola pikir yang berangkat dari fakta-fakta yang sifatnya khusus kemudian digeneralisasikan kepada hal-hal yang bersifat umum.[86] Dalam metode induktif ini, orang mencari ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu dari berbagai fenomena kemudian menarik kesimpulan bahwa ciri-ciri atau sifat-sifat itu terdapat pada jenis fenomena.[87]


3.1.3          Tempat Dan Waktu Penelitian
3.1.3.1        Tempat penelitian
Tempat penelitian adalah SMP Assa’adah Bungah Gresik.
3.1.3.2        Waktu penelitian
Waktu penelitian adalah penulis mengagendakan 22 Juni 2012 s/d 22 Agustus 2012.

3.2    Sistematika Penulisan Skripsi
Secara garis besar, skripsi ini mencakup tiga bagian yang masing-masing terdiri dari bab dan sub-bab, yaitu:
1.     Bagian muka
Bagian ini berisi halaman judul, halaman pengesahan, halaman motto, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel/gambar dan lampiran.
2.    Bagian isi/batang tubuh skripsi, terdiri dari:
Bab I merupakan pendahuluan. Bab ini merupakan gambaran secara global mengenai seluruh isi dari skripsi ini yang meliputi: Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Telaah Pustaka, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan Skripsi.
Bab II merupakan landasan teori. Bab ini berisi teori yang berkaitan dengan skripsi, yaitu pertama, Perpustakaan Sekolah yang meliputi: Pengertian Perpustakaan Sekolah; Jenis-jenis perpustakaan; Fungsi dan Peranan Perpustakaan sekolah yang terdiri dari fungsi edukatif, fungsi informatif, fungsi tanggung jawab administratif, fungsi riset, fungsi rekreatif, dan fungsi kebudayaan; serta berisi tentang perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Yang kedua adalah Prestasi Belajar yang terdiri dari pengertian prestasi belajar, bentuk-bentuk prestasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.
Bab III Berisi Laporan Hasil Penelitian, yaitu peran perpustakaan sekolah terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa di SMP Assa’adah Bungah Gresik. Bab ini terdiri dari empat sub bab. Pertama, Gambaran Umum SMP Assa’adah Bungah Gresik yang meliputi tinjauan historis; letak geografis; struktur organisasi sekolah; keadaan guru, siswa dan karyawan; sarana dan prasarana; serta pelaksanaan pendidikan. Kedua, situasi Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik yang meliputi: gambaran umum perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik, pengelolaan, layanan, sarana dan prasarana, serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik. Ketiga, prestasi belajar PAI siswa SMP Assa’adah Bungah Gresik, dan yang keempat adalah hasil angket peran perpustakaan sekolah SMP Assa’adah Bungah Gresik dalam meningkatkan prestasi belajar PAI siswa.
Bab IV berisi analisis dari hasil penelitian, yang terdiri dari analisis keberadaan perpustakaan sekolah di SMP Assa’adah Bungah Gresik dan analisis peran perpustakaan sekolah SMP Assa’adah Bungah Gresik terhadap peningkatan prestasi belajar PAI siswa.
Bab V Merupakan penutup yang berisi kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.
3.    Bagian akhir
Bagian akhir yang berisi daftar pustaka, beberapa lampiran dan daftar riwayat hidup.
3.3     Gambaran Umum Hasil Penelitian
3.3.1 Letak Geografis
SMP Assaadah berada di lingkungan pondok pesantren, yaitu Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin. Dengan demikian lingkungan tersebut sangat mendukung terwujudnya warga sekolah yang beriman, bertaqwa, berakhlakul karimah, terhindar dari perbuatan-perbuatan asusila, kriminal yang menyimpang dari nilai-nilai agama. Di samping itu SMP Assaadah berada di kota pelajar, yaitu daerah yang penuh dengan lembaga pendidikan, seperti MA Assaadah, MA Negeri, SMK Assaadah, SMK Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah, SMP Negeri, SMA Assaadah, MTs Assaadah I, MTs Assaadah II serta beberapa pondok pesantren yang memungkinkan terciptanya suasana belajar yang kondusif.
3.3.2 Sejarah Berdirinya Sekolah
Negara Republik Indonesia bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan ini bisa tercapai manakala dunia pendidikan cukup memadai baik segi kwalitas maupun kwantitas. Maka itu, pemerintah mendirikan banyak sekolah di berbagai tempat dalam berbagai jenjang.
Di Desa Bungah, dimotori oleh tokoh-tokoh pendidikan yang berasal dari Desa Bungah. Mereka mengadakan rapat dan dengan jiwa besar bermusyawarah, untuk mencapai mufakat. Akhirnya memutuskan berdirinya sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP), hal ini dengan pertimbangan dari segi kualitas dan kuantitas pendidikan yang ada.
Keputusan rapat dari tokoh-tokoh pendidikan tentang akan didirikannya Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang akan berlokasi di Desa Bungah, akhirnya berkat keinginan masyarakat untuk memajukan pendidikan di wilayah Desa Bungah, pendirian Sekolah SMP tersebut disetujui oleh Pemerintah Setempat.
Akhirnya berdasarkan persetujuan dari masyarakat itulah, tokoh-tokoh pendidikan yang ada di Desa Bungah mengajukan permohonan tentang pendirian sekolah kepada Bupati Kepala Daerah Tingkatn II Gresik. Berkat perjuangan dari tokoh-tokoh pendidikan di Desa Bungah yang bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan, Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, dan dukungan dari Kepala Desa Bungah serta dukungan penuh dari masyarakat, akhirnya SMP mulai beroprasi.
3.3.3 Keadaan Guru dan Karyawan
Guru atau tenaga pendidik merupakan pelaksana program pendidikan, yang bertugas serta bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan secara sadar terhadap pertumbuhan dan perkembangan kepribadian serta kemampuan anak didik. Sedangkan kependidikan disini merupakan seluruh karyawan yang ikut serta mengurus dan mengatur administrasi yang ada di sekolah tersebut. Adapun keadaan guru SMP Asaa’adah dapat dilihat pada tabel dibawah ini.












Tabel 3.1
Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan
SMP Assa’adah Bungah Gresik
NO
NAMA
BIDANG STUDY
1
Munir, S.Pd
Pkn
2
Drs. H. M. Machfud, M.Pd.I
Aswaja, Bahasa Indoesia
3
Ahmad Nawadlir, S.Pd
Aswaja, Matematika
4
H. Asnafi Arif, S.Ag
Bahasa Indonesia
5
Djani Wahono, S.Pd
Bahasa Daerah
6
Drs. Ahmad Munadhil
Sejarah, Ekonomi
7
Drs. Nur Hamid
PAI
8
Ainul Ma'arif, S.Pd
Seni Budaya
9
Rif'atun Nisa', S.Pd.
Bahasa Indonesia
10
M. Rodli, S.Pd
Fisika
11
Drs. Ilmal Yaqin
Olah Raga
12
M. Su'udi, S.P
Tik
13
Dra. Nurul Ahillah
Ipa ( Praktek ), Biologi
14
Drs. Abdurrohman, M.Pd
PAI
15
Dra. Hj. Suhuwah
Matematika
16
Ismatul Faizah, S.Pd
Bahasa Indonesia
17
Hj. Siti Zaenab, S.Pd
Bahasa Inggris
18
Zaenab Asyhar, S.Pd
Ketermpilan
19
Abdul Karim, S.Ag
PAI
20
Wasi'atur Rohmah, S.Pd
Bahasa Inggris
21
Dra. Fathonah
Pkn
22
Diana Novita
Bahasa Inggris
23
Nur Hamidah
Seni Budaya
24
Nur Syamsyuddin, S.Pd
Ipa
25
Wahyuni, S.Pd
Matematika
26
Fathur Rohman, S.Pd.I
PAI
27
Eni Kusniati, S.Pd
Geografi
28
Hj. Lilik Mughiroh
PAI, Asaja, Ubudiyah
29
M. Saikhu, S.Pd.I
Ubudiyah, Bahasa Arab
30
Firman Pribadi
Bp / Bk
31
Rohmatul Muayyadah, S.Pd.I
Bahasa Arab
32
Atho' Imade, S.Pd.
Olah Raga
34
M. Muhajir, S.Pd.I
Bendahara
35
Malikan
Cleaning service
36
Mufasikin
TU Bag Perpustakaan

3.3.4  Keadaan Siswa
Jumlah siswa SMP Assa’adah Bungah Gresik pada tahun 2012 ini sebanyak 402 siswa. Adapun perinncian jumlah keadaan siswa disajikan dalam tabel 5.2. Sebagai berikut.
Tabel 3.2
Data Keadaan Siswa SMP Assa’adah Bungah Gresik
Tahun pelajaran 2011 - 2012
Tahun Pelajaran
Kelas VII
Kelas VIII
Kelas IX
Jumlah Kls
VII + VIII + IX
Siswa
Siswa
Siswa
Siswa

2011/2012
145
140
117
402
3.3.5  Visi Dan Misi
Visi Sekolah      :
vBeriman, bertaqwa, menguasai IPTEK dan berprestasi serta berwawasan lingkungan hidup.
Misi Sekolah      :
v  Mewujudkan kesadaran terhadap islam ahlusunnah waljamah
v  Mewujudkan peserta didik 
v  Keadaan Fasilitasyang menguasai IPTEK, mempunyai daya juang tinggi, kreatif dan inovatif.
v  Mewujudkan budaya 5S dan BERSARI
v  Mewujudkan standar penilaian yang relevan
3.3.6  Struktur Organisasi
Struktur organisasi sekolah merupakan suasana dan personalia yang ada dalam lingkup tersebut. Dengan adanya struktur organisasi sekolah tersebut akan dapat memudahkan dan menempatkan personalia untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diembannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama-sama. Dan tanpa adanya tujuan organisasi dalam lembaga pendidikan maka tujuan pendidikan tidak mungkin tercapai.
Adapun struktur organisasi SMP Assa’adah Bungah Gresik adalah sebagai berikut :




Gambar 3.1
Struktur Organisasi Lembaga Pendidikan
SMP Assa’adah Bungah Gresik Tahun Ajaran 2011 – 2012
Rounded Rectangle: DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN GRESIK
Rounded Rectangle: KEPALA SEKOLAH
MUNIR, S.Pd.
Rounded Rectangle: WALI KELAS

Rounded Rectangle: GURU Rounded Rectangle: BP / BK

Ach. Nawadlir, S.Pd.
Rounded Rectangle: SISWA
 

















Sumber Data : dokomentasi SMP ASSA”ADAH Bungah



3.4    Hasil Penelitian
Dalam sub bab ini, penulis akan menyajikan hasil penelitian yang diperoleh dengan menggunakan metode observasi, interview, dan dokumentasi. Adapun permasalahan yang akan diselidiki melalui kegiatan ini adalah Peran Perpustakaan Sekolah terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI Siswa Kelas VII di SMP Assa’adah Bungah Gresik.
3.4.1 Peranan Perpustakaan Sekolah SMP Assa’adah Bungah Gresik
Perpustakaan sekolah merupakan sarana yang ada disekolah guna menunjang berlangsungnya Proses belajar mengajar dans ebagai sumber informasi. Perpustakaan sebagai sarana pendidikan untuk menunjang pencapaian tujuan pendidikan sekiranya perlu digalakkan disetiap jenjang pendidika n baik SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi. Diantara peranan perpustakaan sekolah SMP Assa’adah Bungah Gresik adalah :
1.     Sebagai tempat informasi
Peranan perpustakaan sekolah sebagai tempat sumber informasi dengan tujuan agar para siswa lebih mudah dalam mencari informasi-informasi yang diperlukan dan dengan diperolehnya informasi tersebut akan menambah pengetahuan.
2.     Sebagai tempat refreshing (Hiburan)
Perana perpustakaan sekolah SMP Assa’adah Bungah Gresik selanjutnya adalah sebagai tempat rekreasi (mencari hiburan) untuk mengetahui peranan perpustakaan sebagai tempat rekreasi (mencari hiburan) dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Ach. Nawadlir, S.Pd. selaku Waka Kesiswaan di SMP Assa’adah Bungah Gresik.
Peranan perpustakaan sekolah sebagai tempat rekreasi (mencari hiburan) dengan tujuan agar para siswa yang merasa bosan berada di kelas, mempunyai masalah. Perpustakaan sekolah dapat dijadikan tempat untuk menghibur, dengan berada diperpustakaan bias menuangkan semua masalah yang berada dalam pikiran dengan berada diperpustakaan para siswa bias mencari dan meminjam, membaca buku yang di inginkan dan menyelesaikan tugas yang mungkin guru berikan terhadap para siswa.
3.    Peranan perpustakaan sekolah juga dapat dilihat dari banyaknya siswa yang dating keperpustakaan untuk membaca maupun meminjam buku untuk tugas para siswa
Berkenaan dengan peranan perpustakaan sekolah yang dilihat dari banyaknya siswa yang berkunjung keperpustakaan, peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Munir, S.Pd. selaku kepala sekolah di SMP Assa’adah Bungah Gresik, dalam petikan wawancara tersebut beliau mengatakan :
“Menurut saya peranan perpustakaan sekolah itu dapat dilihat dari banyaknya siswa yang dating ke perpustakaan, dengan banyaknya siswa yang datang keperpustakaan baik itu membaca dan meminjam buku untuk tugas mereka maka peranan perpustakaan sekolah dapat diketahui, dengan begitu perpustakaan sekolah bukan dijadikan hanya sebagai gudang buku saja”.

4.    Pernanan perpustakaan sekolah juga didukung dari cara pelayanan, pengelolahan perpustakaan yang baik, pengadaan buku yang bagus dan fasilitas yang memadai.
Berkenaan dengan peranan perpustakaan sekolah didukung dari cara pelayanan, pengelolahan perpustakaan yang baik, pengadaan buku yang bagus dan fasilitas yang memadai, peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Mufasikin selaku TU Bagian Perpustakaan, dalam kutipan wawancaranya adalah sebagai berikut :
“Menurut saya pelayanan, pengelolahan perpustakaan yang baik, pengadaan buku yang bagus, fasilitas yang memadai, dapat menarik minat para siswa untuk lebih berkunjung ke perpustakaan baik untuk membaca atau mencarai jawaban atas tugas yang di berikan pada mereka.

3.4.2 Data Prestasi Belajar Siswa Kelas VII SMP Assa’adah Bungah Gresik dalam Pendidikan Agama Islam
Dalam penggalian data mengenai prestasi belajar, peneliti mengambil datanya dari dokumentasi sekolah yang mana data tersebut berupa nilai raport siswa SMP Assa’adah Bungah Gresik Tahun Pelajaran 2011- 2012 Semester Genap
Langkah penelitian ini berpijak pada standar ketuntasan belajar minimal (SKBM) dari setiap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang telah ditentukan sekolah. Di SMP Assa’adah Bungah Gresik menetapkan SKBM Pendidikan Agama Islam sebesar 70, sehingga dapat di ambil sebuah kesimpulan bahwa siswa yang mendapat nilai lebih dari 70 maka dikategorikan baik. Sebagai mana daftar nilai yang terdapat pada tabel di bawah ini.





Tabel 3.3
Nilai prestasi belajar Pendidikan Agama Islam
Tahun Pelajaran 2011- 2012
No
Nama Responden
Nilai
Kategori
1
M. Syaeruddin
82
Baik
2
Wahyu Ajeng Puspitasari
80
Baik
3
Faniatul Baniyah
82
Baik
4
Alfian Gilang Ahmada
85
Baik
5
M. Yusuf Brilian
84
Baik
6
Fadlillah
80
Baik
7
Nur Indah K.W
80
Baik
8
Nofita Setiawati
82
Baik
9
Febiola Rizka
82
Baik
10
Halimatus Sa’diyah
80
Baik
11
Siti Mardianah
86
Baik
12
Mawardatun N.
80
Baik
13
Erlina Dwi Nur Vita
84
Baik
14
Tifan Firdausi Dwi P.
82
Baik
15
Nurliyatus Suroiyah
81
Baik
16
Muh WahyudiM. Al Farizi
82
Baik
17
M. Zidan E.A
85
Baik
18
M. Sholikhul Hadi
81
Baik
19
Moh. Milladun Hakimin
79
Baik
20
Najibur Rochman
80
Baik
21
Moh. Lutfi Mahendra
81
Baik
22
Lukman Baihaqi
80
Baik
23
Zukhruf Wabil Abuba
86
Baik
24
Alfin Faisal Z.
82
Baik
25
Machmudi
81
Baik
26
M. Irfan
87
Baik
27
Moh. Rizal Nurrudin
80
Baik
28
Arif Radika
85
Baik
29
Ahmad Mufid A.
84
Baik
30
Arina Saraswati
85
Baik
31
Binta Mahsunawi A.
75
Baik
32
Ayu Aghisnatul A.
72
Cukup
33
Widyawati Nur Sholikhah
78
Baik
34
Novi Dwi Rahmawati
76
Baik
35
Adelia Yovita
74
Baik
Jumlah
2843


3.4.3 Peran Perpustakaan Sekolah Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI Siswa di SMP Assa’adah Bungah Gresik
Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa peranan perpustakaan merupakan bagian dari tugas pokok yang harus dijalankan oleh sebuah perpustakaan. Setiap perpustakaan yang dibangun akan bermakna jika dapat menjalankan peranannya dengan sebaik-baiknya. Salah satu peran yang dapat diberikan oleh perpustakaan adalah meningkatkan prestasi belajar siswa. termasuk di dalamnya meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran PAI.
Pendidikan merupakan suatu proses yang memerlukan kerjasama dari beberapa  komponen yang saling mempengaruhi. Salah satu komponen yang harus diperhatikan dan memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar di sekolah adalah adanya sarana dan prasarana yang lengkap, termasuk di dalamnya adalah adanya perpustakaan sekolah. Peran yang dapat diberikan oleh perpustakaan diantaranya melalui peminjaman buku-buku yang diperlukan oleh siswa. Buku-buku tersebut tentunya tidak sebatas pada buku-buku pelajaran, akan tetapi juga buku-buku lain yang dapat menunjang proses belajar siswa. Peminjaman buku-buku yang diperlukan ini sangat membantu proses belajar mengajar di dalam kelas. PBM menjadi lebih efektif karena guru sudah tidak perlu lagi mencatat di depan kelas. Guru tinggal mengulas pelajaran dan merangsang siswa dengan pertanyaan-pertanyaan.
Perpustakaan sekolah juga dapat meningkatkan cara pengajaran guru yaitu melalui penggunaan koleksi yang ada sebagai media pengajaran. Koleksi yang ada di perpustakaan sangat membantu guru dalam mempersiapkan pengajarannya dengan baik. Selain itu perpustakaan juga dapat mendorong para guru untuk memberikan tugas kepada para siswa dalam mencari suatu informasi ke perpustakaan. Hal inilah yang nantinya akan mendorong siswa untuk belajar dan mencapai hasil yang baik, serta meningkatkan kepercayaan diri siswa untuk mandiri dalam mencari informasi. Ini salah satu bukti bahwa secara langsung maupun tidak langsung perpustakaan sekolah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Hal lain yang tak kalah penting sehubungan dengan peran perpustakaan di sekolah adalah kualitas tingkat kunjungan siswa. Kualitas kunjungan ini dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukan oleh para siswa ketika mereka mengunjungi perpustakaan; apakah mereka membaca, meminjam, melihat-lihat buku, ataukah hanya mengobrol dengan sesama siswa. Kualitas kunjungan di Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik  sudah bagus, karena rata-rata aktivitas yang dilakukan siswa tidak hanya mengobrol atau melihat-lihat buku, akan tetapi rata-rata dari mereka adalah membaca kemudian meminjam buku. Berdasarkan observasi penulis, sebagian besar bahan bacaan yang dibaca di perpustakaan adalah bahan-bahan pustaka yang tidak dapat dipinjamkan (seperti: kamus, koran, majalah, dan ensiklopedi). Sedangkan bahan bacaan yang sering dipinjam adalah bahan pustaka non fiksi. Hal tersebut dikarenakan untuk buku-buku pelajaran sudah dipinjamkan secara paket selama satu semester. Aktivitas yang dilakukan oleh para siswa ketika di perpustakaan dengan membaca merupakan salah satu indikator bahwa perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah sekolah. Karena dengan membaca dan memahami buku, pengetahuan siswa, terutama pengetahuan dan penguasaan bahan pelajaran akan bertambah. Oleh karena itu membaca buku, terutama buku pelajaran diharapkan menjadi kewajiban rutin siswa, karena dengan membaca akan menambah wawasan ilmu dan pengetahuan hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh The Liang Gie. “Aktivitas membaca yang terampil akan membuka jendela pengetahuan yang luas, gerbang kearifan yang dalam dan lorong keahlian yang lebar di masa depan”[88]
Persoalan lain yang juga perlu diperhatikan adalah sejauh mana Perpustakaan di SMP Assa’adah Bungah Gresik  dimanfaatkan sebagai tempat Proses Belajar Mengajar (PBM). Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perpustakaan juga merupakan sumber belajar, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tempat belajar. Pemanfaatan perpustakaan untuk PBM di SMP Assa’adah Bungah Gresik  sudah mulai dijalankan meskipun belum secara maksimal. Berdasarkan penelitian, yang sering memanfaatkan perpustakaan untuk PBM adalah guru-guru PAI. Untuk pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), biasanya para siswa disuruh mencari bahan-bahan pelajaran yang akan diajarkan dari beberapa karangan kemudian dibuat rangkuman. Untuk selanjutnya dipresentasikan di depan kelas dan didiskusikan bersama-sama. Dengan demikian akan terlihat jelas siswa yang sering mengunjungi perpustakaan dan siswa yang tidak. Untuk dapat menguasai materi tersebut tentunya siswa harus membaca, dan tempat membaca yang paling lengkap dan paling murah tidak lain adalah di perpustakan.
Dari pemaparan di atas jelas kiranya bahwa perpustakaan sekolah di SMP Assa’adah Bungah Gresik  sangat berperan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Apalagi dengan diberlakukannya kurikulum 2004 (KBK) sekarang ini yang mana penilaian hasil belajarnya tidak hanya dilihat dari hasil, akan tetapi juga dilihat dari prosesnya. Jika demikian maka pemanfaatan perpustakaan juga masuk pada salah satu kriteria penilaian.
















BAB IV
PEMBAHASAN

4.1     Peranan Perpustakaan Sekolah SMP Assa’adah Bungah Gresik 
Peranan perpustakaan sekolah SMP Assa’adah Bungah Gresik   adalah sebagai tempat informasi dalam menyelesaikan tugas sekolah dan tempat refreshing (Mencari Hiburan).
Perpustakaan sekolah adalah suatu unit atau sarana yang ada disekolah. Setiap sekolah (jenjang pendidikan) diharuskan mempunyai sarana perpustakaan. Dengan adanya perpustakaan sekolah, para siswa akan lebih mudah dalam mencari informasi.
Perpustakaan dan sekola sangat berhubungan, sekolah tanpa perpustakaan akan membuat para guru sulit untuk mengetahui tingkat minat baca dalam meningkatkan prestasi para siswa. Walaupun kita tahu untuk menambah pengetahuan itu tidak hanya dengan perpustakaan. Adanya perpustakaan sekola itu dengan tujuan agar para siswa lebih mudah dalam mencari informasi, menambah wawasan pengetahuan yang tadinya tidak tahu menjadi tahu dan dapat juga sebagai refreshing.

4.2     Prestasi Belajar Siswa Kelas VII SMP Assa’adah Bungah Gresik dalam Pendidikan Agama Islam.
61
 
Dalam penggalian data mengenai prestasi belajar, peneliti mengambil datanya dari dokumentasi sekolah yang mana data tersebut berupa nilai raport siswa SMP Assa’adah Bungah Gresik Tahun Pelajaran 2011- 2012 Semester Genap
Langkah penelitian ini berpijak pada standar ketuntasan belajar minimal (SKBM) dari setiap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang telah ditentukan sekolah. Di SMP Assa’adah Bungah Gresik menetapkan SKBM Pendidikan Agama Islam sebesar 70, sehingga dapat di ambil sebuah kesimpulan bahwa siswa yang mendapat nilai lebih dari 70 maka dikategorikan baik.

4.3     Peran Perpustakaan Sekolah Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI Siswa di SMP Assa’adah Bungah Gresik
Pendidikan merupakan suatu proses yang memerlukan kerjasama dari beberapa  komponen yang saling mempengaruhi. Salah satu komponen yang harus diperhatikan dan memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar di sekolah adalah adanya sarana dan prasarana yang lengkap, termasuk di dalamnya adalah adanya perpustakaan sekolah. Peran yang dapat diberikan oleh perpustakaan diantaranya melalui peminjaman buku-buku yang diperlukan oleh siswa. Buku-buku tersebut tentunya tidak sebatas pada buku-buku pelajaran, akan tetapi juga buku-buku lain yang dapat menunjang proses belajar siswa. Peminjaman buku-buku yang diperlukan ini sangat membantu proses belajar mengajar di dalam kelas. PBM menjadi lebih efektif karena guru sudah tidak perlu lagi mencatat di depan kelas. Guru tinggal mengulas pelajaran dan merangsang siswa dengan pertanyaan-pertanyaan.
Perpustakaan sekolah juga dapat meningkatkan cara pengajaran guru yaitu melalui penggunaan koleksi yang ada sebagai media pengajaran. Koleksi yang ada di perpustakaan sangat membantu guru dalam mempersiapkan pengajarannya dengan baik. Selain itu perpustakaan juga dapat mendorong para guru untuk memberikan tugas kepada para siswa dalam mencari suatu informasi ke perpustakaan. Hal inilah yang nantinya akan mendorong siswa untuk belajar dan mencapai hasil yang baik, serta meningkatkan kepercayaan diri siswa untuk mandiri dalam mencari informasi. Ini salah satu bukti bahwa secara langsung maupun tidak langsung perpustakaan sekolah berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Hal lain yang tak kalah penting sehubungan dengan peran perpustakaan di sekolah adalah kualitas tingkat kunjungan siswa. Kualitas kunjungan ini dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukan oleh para siswa ketika mereka mengunjungi perpustakaan; apakah mereka membaca, meminjam, melihat-lihat buku, ataukah hanya mengobrol dengan sesama siswa. Kualitas kunjungan di Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik  sudah bagus, karena rata-rata aktivitas yang dilakukan siswa tidak hanya mengobrol atau melihat-lihat buku, akan tetapi rata-rata dari mereka adalah membaca kemudian meminjam buku. Berdasarkan observasi penulis, sebagian besar bahan bacaan yang dibaca di perpustakaan adalah bahan-bahan pustaka yang tidak dapat dipinjamkan (seperti: kamus, koran, majalah, dan ensiklopedi). Sedangkan bahan bacaan yang sering dipinjam adalah bahan pustaka non fiksi. Hal tersebut dikarenakan untuk buku-buku pelajaran sudah dipinjamkan secara paket selama satu semester. Aktivitas yang dilakukan oleh para siswa ketika di perpustakaan dengan membaca merupakan salah satu indikator bahwa perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah sekolah. Karena dengan membaca dan memahami buku, pengetahuan siswa, terutama pengetahuan dan penguasaan bahan pelajaran akan bertambah. Oleh karena itu membaca buku, terutama buku pelajaran diharapkan menjadi kewajiban rutin siswa, karena dengan membaca akan menambah wawasan ilmu dan pengetahuan hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh The Liang Gie. “Aktivitas membaca yang terampil akan membuka jendela pengetahuan yang luas, gerbang kearifan yang dalam dan lorong keahlian yang lebar di masa depan”
Persoalan lain yang juga perlu diperhatikan adalah sejauh mana Perpustakaan di SMP Assa’adah Bungah Gresik  dimanfaatkan sebagai tempat Proses Belajar Mengajar (PBM). Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perpustakaan juga merupakan sumber belajar, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tempat belajar. Pemanfaatan perpustakaan untuk PBM di SMP Assa’adah Bungah Gresik  sudah mulai dijalankan meskipun belum secara maksimal. Berdasarkan penelitian, yang sering memanfaatkan perpustakaan untuk PBM adalah guru-guru PAI. Untuk pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), biasanya para siswa disuruh mencari bahan-bahan pelajaran yang akan diajarkan dari beberapa karangan kemudian dibuat rangkuman. Untuk selanjutnya dipresentasikan di depan kelas dan didiskusikan bersama-sama. Dengan demikian akan terlihat jelas siswa yang sering mengunjungi perpustakaan dan siswa yang tidak. Untuk dapat menguasai materi tersebut tentunya siswa harus membaca, dan tempat membaca yang paling lengkap dan paling murah tidak lain adalah di perpustakan.
Dari pemaparan di atas jelas kiranya bahwa perpustakaan sekolah di SMP Assa’adah Bungah Gresik  sangat berperan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Apalagi dengan diberlakukannya kurikulum 2004 (KBK) sekarang ini yang mana penilaian hasil belajarnya tidak hanya dilihat dari hasil, akan tetapi juga dilihat dari prosesnya. Jika demikian maka pemanfaatan perpustakaan juga masuk pada salah satu kriteria penilaian
















BAB V
PENUTUP

5.1     Kesimpulan
Setelah penulis mengadakan penelitian dan menganalisa data yang diperoleh baik data yang diperoleh dari literatur maupun data dari lapangan, dengan pembahasan skrispsi yang berjudul “Peran Perpustakaan Sekolah Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar PAI Siswa di SMP Assa’adah Bungah Gresik  ”, maka dapat ditarik suatu kesimpulan, yakni sebagai berikut:
1.     Keberadaan sebuah perpustakaan di sekolah merupakan suatu keharusan. Hal ini mengingat pentingnya perpustakaan yang diibaratkan sebagai jantung pendidikan dan mempunyai peranan yang penting dalam proses belajar mengajar. Keberadaan perpustakaan sekolah di SMP Assa’adah Bungah Gresik   sudah diakui kemajuannya. Secara keseluruhan keadaan Perpustakaan SMP Assa’adah Bungah Gresik   sudah memenuhi standar perpustakaan yang baik. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, diantaranya adalah penambahan referensi sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, penambahan sarana dan prasarana, peningkatan layanan dan peningkatan sumber daya manusia 
2.   
66
 
Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis dapat diketahui bahwa hasil prestasi belajar PAI siswa di SMP Assa’adah Bungah Gresik   sudah bagus. Hal ini dapat kita lihat dari nilai rata-rata dari pelajaran-pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu 70. Berdasarkan kriteria penilaian 0-10, nilai 70 ini masuk pada kategori baik. Ini salah satunya disebabkan oleh peran perpustakaan sekolah baik berupa peminjaman buku-buku yang dibutuhkan siswa maupun dari layanan lain yang tersedia di perpustakaan tersebut.
3.    Peran perpustakaan dalam rangka peningkatan prestasi belajar PAI di SMP Assa’adah Bungah Gresik diantaranya melalui tersedianya koleksi bahan pustaka dan layanan peminjaman serta layanan administrasi. Koleksi bahan pustaka yang lengkap membantu para siswa untuk lebih mendalami apa yang telah mereka pelajari di dalam kelas. Adapun peminjaman buku-buku baik yang sifatnya paket tahunan/semesteran maupun secara individul juga sangat berperan dalam proses belajar siswa. Selain itu perpustakaan di SMP Assa’adah Bungah Gresik   juga sudah dimanfaatkan untuk Kegiatan Belajar Mengajar dengan baik, terutama untuk pelajaran-pelajaran PAI dan mata pelajaran umum lainnya.

5.2     Saran-Saran
Setelah pembahasan tema skripsi ini, sesuai harapan penulis agar pikiran-pikiran dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1.     Saran untuk Sekolah
Pihak sekolah merupakan pihak yang berpengaruh terhadap maju tidaknya perpustakaan sekolah. Kepala sekolah sebagai wakil dari pihak sekolah hendaknya mempunyai perhatian yang serius terhadap perpustakaan terutama berkaitan dengan pengadaan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan. Perpustakaan sekolah dapat menjalankan fungsinya dengan baik jika ditunjang dengan fasilitas yang lengkap, dan ini menjadi tugas dari pihak sekolah.
2.    Saran untuk Pengelola Perpustakaan
Pembina perpustakaan sebagai koordinator harus dapat berkoordinasi dengan pihak sekolah dengan baik dan juga harus sering berkoordinasi dengan staf-stafnya untuk mengetahui apa kekurangan dan kebutuhan dari perpustakaan mereka. Demi perbaikan perpustakaan ke depan, jika dirasa perlu pihak perpustakaan dapat menyebarkan angket kepada para pengunjung untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh para pengunjung. Selain pembina perpustakaan, staf perpustakaan juga dapat meningkatkan kualitas layanannya agar para siswa dapat lebih tertarik untuk mengunjungi perpustakaan. Untuk dapat menarik minat siswa mengunjungi perpustakaan, petugas perpustakaan bisa membuat kegiatan-kegiatan yang menarik bagi siswa. Contohnya dengan mengadakan pameran, seminar, perlombaan dan lain-lain.
3.    Saran untuk Para Guru
Guru merupakan suri tauladan bagi para siswa. Sehubungan dengan pemanfaatan perpustakaan, guru seharusnya dapat memberikan contoh bagi para siswa dalam mengunjungi perpustakaan. Seringnya guru mengunjungi perpustakaan dapat menjadikan motivasi para siswa dalam mengunjungi perpustakaan. Selain itu guru juga dapat lebih meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar, selain di kelas. Pembinaan minat baca siswa juga dapat dilakukan oleh guru ketika mereka sedang mengajar.
4.    Saran untuk Para siswa
Siswa merupakan salah satu faktor penentu sukses tidaknya perpustakan di sekolah. Mengingat pentingnya peran perpustakaan, hendaknya siswa dapat membuat jadwal kunjungannya ke perpustakaan. minimal 1-2 kali dalam satu minggu. Para siswa hendaknya juga dapat memanfaatkan perpustakaan dengan baik dengan membaca dan meminjam bahan-bahan pustaka yang disediakan secara maksimal.

5.3     Penutup
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan anugerah berupa rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis menyadari, meskipun telah berusaha menyusun skripsi ini semaksimal mungkin, namun di sini masih menerima upaya penyempurnaan.
Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat konstruktif evaluatif dari semua pihak sangat penulis harapkan sebagai penyempurnaan segala kekurangan dan kekhilafan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat. Aamiin.







DAFTAR PUSTAKA
Al-Barry, Dahlan. 1994. Kamus Ilmiah Populer, Arkoala : Surabaya.

Arifin, Zainal. 1991. Evaluasi Instruksional, Prinsip, Teknik, Prosedur, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Arno F. Wittig, 1981. Theory and Problems of Psichology of Learning, Mc. Grow Hill Book Company.
Arsyad, Azhar. 2003. Media Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Aziz, Sholeh Abdul dan Madjid, Abdul Aziz Abdul. 1979. Al-Tarbiyah wa Thuruqu al-Tadris, Mesir: Darul Ma’arif.
B. Suryosubroto, 1984. Dimensi-Dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah, Yogyakarta: Bina Aksara.
Bafadal, Ibrahim. 2001. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara.
Basuki, Sulistiyo. 1993. Materi Pokok Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.
Basuki, Sulistiyo. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.
Buchori, Muhtar. 1983. Teknik-Teknik Evaluasi dalam Pendidikan, Bandung: Jemmars.
C. Larasati Milburga, et.all. , 1986. Membina Perpustakaan Sekolah, Yogyakarta: Kanisius.
Cece Wijaya, et.al. , 1992. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Crow and Crow, 1956. Human Development and Learning, New York: American Book Company.
Darmono, 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Dimyati dan Moedjiono, 1999. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.
E. Mulyasa, 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, Implementasi dan Inovasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
E. Mulyasa, 2004. Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan Implementasi.
Fahmi, Mushthafa. Psychologiat al-Ta’allum, Mesir: Dar Mishr li al-Thab’ah, tt.

Fatah Syukur NC, 2004. Teknologi Pendidikan, Semarang: RaSAIL.

Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan, Bandung : Citra Aditya Bakti.

70
 
Nata, Abuddin. 2002. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayat al-Tarbawiy), Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Noor, Muhammad dkk., 1996. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: CV. Toha Putra.
P. Chaplin, James. 2004. Kamus Lengkap Psikologi,Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
P. Sumardji, 1991. Perpustakaan Organisasi dan Tatakerjanya, Yogyakarta: Kanisius.
Percival, Fred dan Ellington, Henry. 1998. Teknologi Pendidikan, Jakarta: Erlangga.
Perpustakaan Nasional RI., 1996. Perpustakaan Sekolah, Petunjuk Untuk Membina, Memakai dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah, Jakarta : Perpustakaan Nasional RI.
Purwanto, Ngalim. 2000. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rohani, Ahmad. 1997. Media Instruksional Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta.

S. Nasution, 2000. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara.
Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar, Bandung: Alfabeta.
Sardiman, 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Shihab, M. Quraish. 1997. Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudlu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan.
Slameto, 1995. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru.
Sudjatmo, 2002. Pengantar Perpustakaan, Semarang: Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sutarno NS, 2003. Perpustakaan dan Masyarakat, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya.
T. Morgan, Cliffort, 1971. Introduction to Psychology, Mc. Hill Book Company.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia, edisi 3, Jakarta: Balai Pustaka.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Tim Redaksi Fokusmedia, 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (nomor 20 tahun 2003), Bandung: Fokusmedia.
W.S. Winkel SJ, 1996. Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo.

W.S. Winkel, 1978. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah, Jakarta: Gramedia.
Wasty. Soemanto, 1998. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.


[1] Muhammad Noor, et, al., Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Toha Putra, 1996), hlm. 479.
[2] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudlu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 433-434.
[3] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayat al-Tarbawiy), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 52.
[4] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm. 3.
[5] Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 102.
[6] Tim Redaksi Fokusmedia, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (nomor 20 tahun 2003), (Bandung: Fokusmedia, 2003), hlm. 27-28.
[7] Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. 82.
[8] B. Suryosubroto, Dimensi-Dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah, (Yogyakarta: Bina Aksara, 1984), hlm. 97
[9] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 802.
[10] Sudjatmo, Pengantar Perpustakaan, (Semarang: Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002), hlm. 1-2.
[11] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Umum Bahasa Indonesia, edisi 3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), cet.2, hlm. 912.
[12] Fatah Syukur NC, Teknologi Pendidikan, (Semarang: RaSAIL, 2004), hlm. 102.
[13] Ibrahim Bafadal, Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm. 3.
[14] Darmono, Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah, (Jakarta: Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2001), hlm. 2.
[15] P. Sumardji, Perpustakaan Organisasi dan Tatakerjanya, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 13.
[16] C. Larasati Milburga, et.all., Membina Perpustakaan Sekolah, (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm. 17.
[17] Ibrahim Bafadal, op.cit., hlm. 4.
[18] C. Larasati Milburga, et.al., op.cit., hlm. 54.
[19] Sulistiyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud, 1993), hlm. 91.
[20] P. Sumardji, op. cit., hlm. 14-15.
[21] Sutarno NS, Perpustakaan dan Masyarakat, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), hlm. 49-50.
[22] Ibid., hlm. 37.
[23] Ibid., hlm. 35.
[24] Sutarno NS, op.cit., hlm. 33.
[25] Sulistiyo Basuki, Materi Pokok Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud, 1993), hlm. 149.
[26] C. Larasati Milburga, et,al., op.cit., hlm. 33.
[27] Sutarno NS, op.cit., hlm. 45.
[28] Ibid., hlm. 47.
[29] C. Larasati Milburga, et,al., op.cit., hlm. 61-62.
[30] Perpustakaan Nasional RI., Perpustakaan Sekolah, Petunjuk Untuk Membina, Memakai dan Memelihara Perpustakaan di Sekolah, (Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 1996), hlm. 7.
[31] Ibrahim Bafadal, op.cit., hlm. 6-7.
[32] Ibrahim Bafadal, op.cit., hlm. 7.
[33] Ibid., hlm. 7-8.
[34] Ibid., hlm. 8.
[35] Fatah Syukur NC, op.cit., hlm. 104.
[36] Darmono, op.cit., hlm. 4.
[37] Sutarno NS, op.cit., hlm. 55-56.
[38] Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 102.
[39] Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1994), hlm. 195.
[40] Ahmad Rohani, loc.cit.
[41] Ibid., hlm. 108-109.
[42] Cece Wijaya, et.al., Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 34-35.
[43] Ahmad Rohani, op.cit., hlm. 109.
[44] Fred Percival dan Henry Ellington, Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Erlangga, 1998), hlm. 126.
[45] E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan Implementasi,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 52.
[46] Azhar Arsyad, Media Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 100-101.
[47] S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hlm. 18.
[48] Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional, Prinsip, Teknik, Prosedur, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), cet. III, hlm. 2-3.
[49] James P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 5.
[50] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 102.
[51] Crow and Crow, Human Development and Learning, (New York: American Book Company, 1956), hlm. 251.
[52] Cliffort T. Morgan, Introduction to Psychology, (Mc. Hill Book Company, 1971), hlm. 187.
[53]Arno F. Wittig, Theory and Problems of Psichology of Learning, (Mc. Grow Hill Book Company, 1981), hlm. 2.
[54] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hlm. 2.
[55] Nana Sudjana, CBSA Dalam proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1989), hlm. 5.
[56] W.S. Winkel SJ, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Grasindo, 1996), hlm. 50.
[57] Slameto, op.cit., hlm. 3-5.
[58] Muhammad Noor, dkk., Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Toha Putra: 1996), hlm. 220.
[59] Dimyati dan Moedjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm. 3.
[60] Muhtar Buchori, Teknik-Teknik Evaluasi dalam Pendidikan, (Bandung: Jemmars, 1983), hlm. 178.
[61] W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah, (Jakarta: Gramedia, 1978), hlm. 100
[62] Zainal Arifin, op.cit., hlm. 3.
[63] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1989), hlm. 45-46.
[64] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 23.
[65] Ibid., hlm. 53-54.
[66] Ibid., hlm. 54.
[67] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, Implementasi dan Inovasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 39.
[68] Slameto, op.cit., hlm. 54-72.
[69] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 113 121.
[70] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 132-139.
[71] Dimyati dan Mudjiono, op.cit., hlm. 239-254.
[72] Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 107.
[73] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 3.
[74] S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), cet.4, hlm. 41.
[75] Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I, (Yogyakarta: Andi Ofset, 1997), hlm. 9
[76] Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, Metode Penelitian Survei, (Jakarta: LP3ES, 1989), hlm. 70.
[77] Sutrisno Hadi, op.cit., hlm. 10.
[78] S. Margono, op.cit., hlm. 10
[79] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 206.
[80] S. Margono, op.cit., hlm. 167.
[81] Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan Suatu Tinjaun Dasar, (Surabaya: SIC, 1996), hlm. 67
[82] Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), hlm. 104.
[83] Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 190.
[84] Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 5-6.
[85] Heribertus B. Sutopo, Metode Penelitian Kualitatif, (Surakarta: Depdikbud RI UNS, 1996), hlm. 86
[86] Sutrisno Hadi, op.cit., hlm. 42.
[87] Saiful Sagala, op.cit., hlm. 77.
[88] The Liang Gie, Cara Belajar Efisien, (Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna, 1994), hlm. 58.

0 komentar:

Poskan Komentar