Selasa, 07 Desember 2010

BIOGRAFI IBNU THUFAIL


Oleh : Wiwik Lailatul Muzdalifah

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Filsafat islam adalah slah satu kajian ilmu yang dimasukkan kedalam mata pekuliahan guna untuk memperluas kemampuan berfikir magasiswa.

Sehingga mempunyai kemampuan untuk memahami ajaran-ajaran islam komprehensif dan filosofis dan pada gilirannya trampil untuk menyampaikan kepada masyarakat secara lugas dan rasional sesuai dengana ilmu pengetahuan.

Salah satunya adalah ibn Thufail yang juga merupakan filosof yang pemikiranya di kenal oleh berbagai kalangan.

Keadaan inilah yang juga menjadi dasar apasaja pemikiran yang di bawah Ibn Tufail.

  1. Rumusan Masalah

1. Siapakah Ibn Thufail ?

2. Apa Filsafat Ibn Thufail pada filsafat Epistimologinya ?

3. Apa Konsep Ibn Tufail pada filsafat jiwanya ?

  1. Tujuan Penulisan.
  1. Untuk Mengetahui Biografi Ibn Thufail.
  2. Agar bisa mengetahui Epistimologi Ibn thufail.
  3. Untuk mengetahui dan memahami kons
  4. ep-konsep jiwa Ibn Tufail

BAB II

PEMBAHASAN

  1. biografi ibn thufail

Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Abd Al-Malik Ibn Muhammad Ibn Thufail Al-Qoisyi. Di barat beliau dikenal dengan sebutan Abubacer. Ia dilahirkan di guandix, 40 Mil di laut Granada pada 506 H (1110 M) dan meninggal di kota Marraqesh, maroko pada 581 H (1185 M). Sebagai seorang turunan suku Quasy, suku arab termuka, beliau dengan mudah mendapatkan fasilitas belajar, apalagi kecintaannya kepada buku-buku dan ilmu pengetahuan mengalahkan cintanya kepada manusia. Hal ini mengantarkannya menjadi seorang ilmuan dalam banyak bidang, seperti lazimnya ilmu pada masa itu, meliputi kedokteran, kesustraan, matematika, dan filsafat. Kedokteran dan filsafat di pelajarinya di Seville gordova

  1. Epistimologi

Ibn Thufail menujuke kepada jalan untuk sampai kepada obyek pengetahuan yang maha tinggi atau tuhan. Jalan pertama adalah wahyu, seperti ditempuh oleh asal, dal jalan kedua adalah filsafat, seperti yang dilakukan Hayy. Jalan pertama lebih pendek daripada jalan yang kedua.

Dari simpulan cerita dapat digambarkan bahwa ma’rifah melalui akal di tempuh dengan jalan keterbukaan, mengamati, meneliti, mencari, mencoba , membandingkan, klasifikasi, generalisasi, dan menyimpulkan. Jadi, ma’rifah merupakan suatu yang dilatih mulai dari yang kongkrit berlanjut kepada yang abztrak, dari yang khusus menuju global, seterusnya dilanjutkan dengan perenungan yang terus menerus.

Menghayati segi batinya denga dzauq, hasilnya hanya bisa di rasakan, sulit untuk dikatakan, tidak heran kalau ada shatahat dari mulut seorang sufi. Jadi proses yang di lalui ma’rifah semacam ini tidak mengikuti deduksi atau induksi, tetapi bersifat intuitif lewat cahaya suci.

  1. Jiwa

Konsepnya ibn thufail tentang sejiwa sejalan dengan yang dikemukakan oleh Al-Farabi, yakni ada tiga kategorin yaitu :

Pertama : jiwa fadhilah, yakni yang kekal dalam kebahagiaan karena mengenal tuhan dan terus mengarahkan perhatian dan renungan kepadan-nya.

Kedua : Jiwa fasiqoh, yakni jiwa yang kekal dalam kesengsaraan dan tempatnya di Neraka.

Ketiga : jiwa jahiliyah, yakni jiwa yang musnah karena karena tidak mengenal allah sama sekali, jiw jenis ini sama halnya dengan hewan melata.

Ibn thufail menawarkan tiga jenis amaliah yang harus di terapkan dalam hidup, ketiganya adalah :

1. Amaliah yang menyerupai hewan.

2. Amaliah yang menyerupai benda angkasa, dan

3. Amaliah yang menyerupai al-wajib al-wujud.

Ø Amaliah yang pertama sedikit unik, karena amialiah tersebut dibutuhkan tetapi juga menjadi penghalang untuk meningkat kepada amaliah berikutnya yang lebih tinggi, amaliah yang kedua adalah hubungan yang baik dengan dibawahnya, dengan dirinya dan dengan tuhannya.

Ø Amaliah ketiga ini akan mampu mengantar kepada kebahagiaan abadi sebagai sasaran akhir dari prinsip moral.

Ibn Thufail mengajarkan agar jiwa berhubungan atau musyahadah secara terus menerussejak dari kehidupandi dunia sampai kehidupan abadi. Upaya kearah itu dengan renungan kontemplatif dan fana-mistika. Manusia dapat berhubunga dan menyaksikan tuhannya tidak saja dengan akalnya, juga melalui rohaninya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Nam lengkap Ibn Thufail adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Abd Al-Malik Ibn Muhammad Ibn Thufail Al-Qaisyi. Di barat di kenal dengan Abubacer. Beliau dilahirkan di guadik, 40 Mil di timur lau Granada pada 506 H (1110 M) dan meninggal di kota marraqesh.

2. Ibn Thufai menunjukkann dua jalan untuk sampai kepada obyek pengetahuan yang maha tinggi atau tuhan. Jalan pertama adalah melalui wahyu, seperti di tempuh oleh asal.dan jalan kedua adalah filsafat, semisal yang dilakukan oleh hay.

3. Konsepnya Ibn Thufail tentang jiwa sejalan dengan yang dikemukakan oleh Al- Farabi, yakni ada tiga kategori yaitu :

a. Jwa fadhilah – yang kekal dalam kebahagiaan.

b. Jiwa fasiqih – jiwayang kekal dalam kesengsaraan.

c. Jiwa jahiliyah – jiwa yang musnah karena tidak mengenal allah sama sekali.

B. Kritik Saran

Tidak ada manusia yang sempurna dan tak luput sebagai seorang manusia pasti banyak salah dan khilaf, penulis dan penyajian makalah ini tentunya banyak sekali kesalahan dan kekurangan dan tentunya bukan disebabkan oleh siapa-siapa melainkan ketidak bisaan kami pribadi untuk itulah kami mengharap saran dan kritik agar kelak kemudian haru kami dapat perbaiki.

Dalam makalah yang mengkaji dengan Ibn Thufail dalam buku filsafat islam ini kami harap bisa bermanfaat bagi kita khususnya mahasiswa syari’ah, dengan demikian sedikit banyak hal ini maka akan membantu kita untuk memahamitentang apa yang terkandung dalam kajian Ibn Thufail.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta; Gaya Media Pratama, 2005.

0 komentar:

Poskan Komentar