Jumat, 29 Oktober 2010

EPISTEMOLOGI DAN ONTOLOGI DAKWAH

Oleh : Fahri Husaini & Nihayatus Sa’idah

A. Epistemologi dakwah

Kata epistemologi dari bahasa yunani, episteme (pengetahuan, ilmu pengetahuan) dan logos (pengetahuan, informasi). Dapat dikatakan, pengetahuan tentang pengetahuan. Adakalanya disebut “teori pengetahuan”.[1] Dalam kamus ilmiah popular juga diterangkan bahwa epistemologi termasuk cabang dari filsafat yang menyelidiki sumber serta kebenaran pengetahuan,[2] Dan dakwah dilihat dari segi bahasa yang berarti mengajak, dan secara istilah mengajak manusia kepada jalan yang diridhoi allah.

Dari dua pengertian diatas maka epistimologi dakwah adalah kajian filosofis tentang terhadap sumber, metode, esensi, dan validitas (kebenaran ilmu) dakwah. Sumber menjelaskan asal usul ilmu dakwah, sedangkan metode menguraikan cara memperoleh ilmu tersebut dari sumbernya.

Model-Model Epistemologi Islam

Dalam kajian pemikiran Islam terdapat juga beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model system berpikir dalam Islam, yakni : bayâni, irfâni dan burhâni, yang masing-masing mempunyai pandangan yang sangat berbeda tentang pengetahuan.[3]

Epistimologi Bayani.

Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidaklangsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks.[4]

Epistemologi Irfani.

Pengetahuan irfani tidak didasarkan atas teks seperti bayani,tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas olehTuhan. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan, (1) persiapan, (2) penerimaan, (3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan.

Tahap pertama, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak (1)Taubat, (2)Wa r a `,menjauhkan diri dari segala sesuatu yangsubhât, (3)Zuhud, tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia. (4)Faqir, mengosongkan seluruh fikiran dan harapan masa depan, dan tidak menghendaki apapun kecuali Tuhan swt, (5)Sabar, menerimasegala bencana dengan laku sopan dan rela. (6)Tawakkal, percayaatas segala apa yang ditentukan-Nya. (7)Ridla, hilangnya rasaketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya gembira dan sukacita.[5]

Kedua, tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara illuminatif. Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri (musyâhadah) sebagai objek yang diketahui.Namun, realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut,keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalahk esadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya (ittihâd)[6] yang dalam kajian Mehdi Yazdi disebut ‘ilmu huduri’ atau pengetahuan swaobjek (self-object-knowledge).

Ketiga, pengungkapan, yakni pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan. Namun, karena pengetahuan irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan.

Persoalannya, bagaimana makna atau dimensi batin yang diperoleh dari kasyf tersebut diungkapkan? Pertama, diungkapkan dengan cara I`tibâr atau qiyas irfani. Yakni analogi (penyepadanan) makna batin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna zahir yang ada dalam teks.15 ke dua, diungkapkan lewat syathahât[7], suatu ungkapan lisan tentang perasaan (al-wijdân) karena limpahan pengetahuan langsung dari sumbernya dan dibarengi dengan pengakuan, seperti ungkapan ‘Maha Besar Aku’ dari Abu Yazid Bustami (w. 877 M), atau Ana al-Haqq dari al-Hallaj (w. 913 M).16 Karena itu, menjadi tidak beraturan dan diluar kesadaran.

Epistemologi Burhani.

Berbeda dengan bayani dan irfani yang masih berkaitan dengan teks suci, burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks. Burhani menyandarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Perbandingan ketiga epistemologi ini adalah bahwa bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi furû` kepada yang asal; irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan, burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya.[8]

Tiga epistemologi Islam ini mempunyai ‘basis’ dan karakter yang berbeda. Pengetahuan bayani didasarkan atas teks suci, irfani pada intuisi sedang burhani pada rasio. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk bayani, karena hanya mendasarkan diri pada teks, ia menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Kenyataannya, pemikiran Islam saat ini yang masih banyak didominasi pemikiran bayani fiqhiyah kurang bisa merespondan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Tentang burhani, ia tidak mampu mengungkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta[9]. Misalnya, burhani tidak mampu menjelaskan seluruh eksistensi diluar pikiran seperti soal warna, bau, rasa atau bayangan.[10]

Jadi ketiga hal tersebut harus disatukan dalam sebuah pemahaman. Maksudnya, ketiga model tersebut diikat dalam sebuah jalinan kerjasama untuk saling mendukung dan mengisi kekurangan masing-masing sehingga terciptalah Islam yang 'Shalih li Kulli Zaman wa Makan', Islam yang aktual dan kontekstual dalam semua tingkat peradaban. Kita harus mengambil filsafat, bukan sekedar sejarahnya melainkan lebih pada aspek metodologinya dengan dibantu ilmu-ilmu kontemporer sehingga ia mampu memberikan sumbangan yang signifikan terhadap perkembangan keilmuan Islam kedepan.[11]

B. Ontologi dakwah

Secara bahasa kata ontologi dibagi menjadi dua yaitu ontos: seatu yang berwujud, dan logos: “ilmu atau teori”. Secara istilah adalah ontologi adalah ilmu teori tentang wujud hakikat yang ada.

Maka ontologi dalam Dakwah Islam adalah pemahaman atau pengkajian tentang wujud hakikat dakwah Islam dari segi hakikat dakwah islam dalam mengkaji problem ontologism dakwah yang juga menjadi perhatian filsafat dakwah selain ilmu-ilmu lainnya.[12]

C. Sumber Ilmu Dakwah

Salah satu aspek epistemilogi dakwah adalah kajian tentang asal usul ilmu dakwah. Tuhan adalah sumber eksistensi manusia oleh karena itu manusia menjadi representasi dunia wujud yang eksistensinya berasal dari tuhan. Artinya, kajian terhadap sumber ilmu dakwah tidak mungkin terlepas dari koherensi[13] relasional antara manusia dan wahyu.

Al-Quran (Q.S,3:31) menyebutkan, “Dan dia mengajarkan kapada adam keseluruhan nama-nama segala sesuatu.” Ketika kemampuan mengeja nama benda itu diujikan kepada para malaikat, mereka menjawab: “Maha Suci engkau, kami tidak mempunyai ilmu selain yang engkau ajarkan, engkau maha mengetahui dan maha bijaksana (Q.S.3:32). Informasi mengenai adam mampu mengeja nama-nama benda membuktikan kemampuan manusia mengenal tuhan, dunia, dirinya dan juga sejarah. Dengan kemampuan tersebut manusia memiliki ilmu sehingga dapat dikatakan ilmu itu bersumber dari wahyu melalui kesadaran kognisi.

Meskipun demikian , suatu hal yang perlu disadari bahwa jangkauan ilmu manusia terbatas dan tidak sempurna. Karena jangkauan ilmu manusia terbatas, maka manusia dianugerahkan kemampuan kesadaran kognisi untuk menyelidiki rumusan hukum regulitas[14] yang melekat dalam karya dan krestifitas tuhan yang berupa alam semesta dan manusia.[15]

Terkait dengan dakwah sebagai suatu disiplin ilmu mengetahuan maka kemampuan kesadaran kognisi manusia yang tereksistensi dari wahyu adalah sumber ilmu dakwah. Dalam konteks keilmuan dakwah sering diartikan sebagai ajakan atau seruan kepada nilai-nilai kebaikan (al-kair) melalui menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar untuk memperoleh keberuntungan.” Ini Berarti bahwa nilai-nilai kebaikan adalah inti seruan dakwah sekaligus juga inti ilmu dakwah.

D. Hakikat Dakwah

Merujuk pada makna yang terkandung dalam al Quran surat al Nahl (16:125), dakwah islam dapat dirumuskan sebagai kewajiban uslim mukallaf untuk mengajak, menyeru dan memanggil orang yang berakal menjalani jalan Tuhan (din al-Islami) dengan cara hikmah, mauidzoh hasanah (super motivasi positif), dan mujadalah yang ahsan (cara yang metodologis) dengan respon positif atau negatif dari orang yang berakal yang diajak, di sepanjang zaman dan disetiap ruang.

Hakikat dakwah Islam tersebut adalah perilaku keislaman muslim yang melibatkan unsur dai, maudhu’ atau pesan, wasilah atau media, uslub atau metode, mad’u dan respon serta dimensi hal-maqom atau situasi dan kondisi.

Hakikat Dakwah Islam ini menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk utama dalam proses menda’wahkan islam, yaitu :

1. Melalui ahsanul qaul

2. Ahsan ‘amal, dan

3. Keterpaduan bentuk ahsan qaul dan ahsan ‘amal (contoh yang baik)

mengacu pada uraian yang telah dikemukakan di atas, maka hakikat da’wah islam ialah proses internalisasi(pendalaman/penghayatan), transmisi (pemindahan), difusi(perpindahan), institusionalisasi dan transformasi dien al islam dalam totalitas kehidupan manusia mukallaf guna mencapai tujuan hidup dunia akhirat. [16]

E. Kebutuhan Manusia Terhadap Dakwah

Manusia ketika di alam arwah telah melakukan syahadah yang dusebut perjanjian ketuhanan dan fitrah Allah (din al Islam). Dengan demikian, manusia mamiliki banyak kebutuhan dalam dirinya seperti kebutuhan dakwah (kebutuhan spiritual) yang diperlukan untuk mengaktualkan syahadah ila Allah kedalam kenyataan hidup manusia sebenarnya, seperti kebutuhan materialnya, baik itu makan minum , berpakaian ataupun seks. Ataupun bukan kebutuhan material, seperti kebutuhan rasa aman, bahagia, dihargai, dicintai dan lain-lain.

F. Dakwah

Pada dasarnya, dakwah adalah upaya yang dilakukan oleh manusia yang yang berangkat dari kesadaran tauhidullah untuk membawa kembali ummat kepada tauhidullah. Manusia pada dasarnya fitri dan harus kembali kepada fitri, yang dikarenakan oleh kotoran-kotoran kekufuran, kesyirikan serta dosa dan perbuatan maksiat lainnya. Esensi tauhid, menyadar kepada diri kita, bahwa Allah itu maha esa, tidak tertandingi, tidak bisa disamakan, tempat bergantung segala macam makhluk, serba sempurna, serba maha, dan lain sebagainya.

Tauhidullah sesungguhnya mengisyaratkan adanya lima paket pengertian:
Pertama : tauhidullah, mengajarkan kita akan keyakinan atau beriman tentang adanya unity of Godhead (kesatuan ketuhanan).

Kedua : kesatuan ketuhanan ini pada konsekuensi logis berikutnya menimbulkan unity of creation (kesatuan pencipataan).

Ketiga : konsekuensi berikutnya, karena umat manusia merupakan makhluk Allah, maka tentu kita harus percaya akan adanya unity of mankind (kesatuan kemanusian).

Keempat : karena adanya kesatuan kemanusiaan, tentu ada unitu of guidance (kesatuan pedoman hidup bagi orang beriman).

Kelima : karena adanya unity of guidance, maka kita di alam fana ini akan bermuara pada akhir yang sama. Sehingga tujuan hidup umat manusia seharusnya sama secara konseptual dan teoritis, yaitu adanya unity of the purpose of life (satu kesatuan tujuan hidup).

G. Dakwah Yang Tercerahkan

Seoarang dai yang akan bertugas menyebarkan nilai-nilai Tuhan, niscaya memiliki seperangkat metode untuk menyampaikan nilai-nilai Tuhan tadi. Untuk itu, diperlukan dai-dai yang kreatif dan tercerahkan.wacana utama bagi setiap kepemimpinan dakwah melingkupi tiga dimensi. Yaitu: kebersihan atau kejernihan hati, kecerdasan pikiran, dan keberanian mental. Yang semuanya itu harus dimiliki oleh para dai dalam mengemban risalah Ilahi.[17]

H. Kesimpulan

Espitemologi Dakwah

Epistimologi dakwah suatu kajian filosofis tentang terhadap sumber, metode, esensi, dan validitas (kebenaran ilmu) dakwah, Sumber menjelaskan asal usul ilmu dakwah, sedangkan metode menguraikan cara memperoleh ilmu tersebut dari sumbernya.

Ketiga model epistimologi Islam, Bayani, Irfani, dan Burhani, harus diikat dalam sebuah jalinan kerjasama untuk saling mendukung dan mengisi kekurangan masing-masing sehingga terciptalah Islam yang 'Shalih li Kulli Zaman wa Makan', Islam yang aktual dan kontekstual dalam semua tingkat peradaban. Kita harus mengambil filsafat, bukan sekedar sejarahnya melainkan lebih pada aspek metodologinya dengan dibantu ilmu-ilmu kontemporer sehingga ia mampu memberikan sumbangan yang signifikan terhadap perkembangan keilmuan Islam kedepan.

Ontologi Dakwah

Ontologi Dakwah Islam adalah pemahaman atau pengkajian tentang wujud hakikat dakwah Islam dari segi hakikat dakwah islam dalam mengkaji problem ontologism dakwah yang juga menjadi perhatian filsafat dakwah selain ilmu-ilmu lainnya. Hakikat da’wah islam ialah proses Internalisasi (pendalaman/penghayatan), transmisi (pemindahan), difusi(perpindahan), institusionalisasi dan transformasi dien al islam dalam totalitas kehidupan manusia mukallaf guna mencapai tujuan hidup dunia akhirat.

Daftar Pustaka

§ Hasnun Jauhari Ritonga” Landasan Epistemologi Komunikasi Islam” dalam http://manajemendakwah-iainsu-medan.blogspot.com, 2010

§ Ulil Albaab “Kajian Ontologi Dakwah Islamiyah” dalam http://pgr3gp.blogspot.com, 2009

§ Dr. P. Hardono Hadi, Epistemolgi Filsafat Pengetahuan, Penerbit Kanisius (anggota IKAPI) Yogyakarta, 2002

§ Lorens Bagus ”Kamus Filsafat” dalam www.pustaka78.com, 2009

§ M. Dahlan Yacub Al Barry ”Kamus Ilmiah Populer “ Penerbit Arkola, Yogyakarta, 2001

§ Al-Jabiri, Bunyah al-Aql al-Arabi, (Beirut, al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, 1991).

§ Al-Jabiri, Isykâliyât al-Fikr al-Arabi al-Mu`ashir, (Beirut, Markaz Dirasah al-Arabiyah, 1989), 59.

§ Mehsi Aminrazavi, Pendekatan Rasional Suhrawardi,

§ Osman Bakar, Tauhid dan Sains, (Bandung, Pustaka Hidayah, 1996), 29.

§ Khudori Soleh “Model-Model Epistimologi Islam” dalam http://www.scribd.com

§ Hamdan MaghribiFilsafat dan Metodologi Pemikiran Islam” dalam

http://albi4ever.blogspot.com, 2007

§ Nasrullah Menapak Jalan Spiritual, (Bandung, Pustaka Hidayah, 1997)

§ Mehdi Hairi Yazdi, Ilmu Hudhuri, terj. Ahsin Muhamd, (Bandung, Mizan, 1994)



[1] Lorens Bagus ”Kamus Filsafat” dalam www.pustaka78.com/01 januari 2009/diakses 25 Oktober 2010

[2] M. Dahlan Yacub Al Barry ”Kamus Ilmiah Populer “ Penerbit Arkola, Yogyakarta, 2001

[3] Lihat al-Jabiri, Bunyah al-Aql al-Arabi, (Beirut, al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, 1991). Al-

Jabiri ini Guru Besar Filsafat Islam pada Universitas Muhammad V, Rabat, Maroko.

[4] Al-Jabiri,Ibid, 38.

[5] Al-Qusyairi (w. 1072 M) mencatat ada 49 tahapan yang harus dilalui, Abu Said ibn Abu al-Khair mencatat 40 tahapan, Abu Nashr al-Tusi mencatat 7 tingkatan, sedang Thabathabai menulis 24 jenjang. Lihat, al-Qusyairi,al-Risâlah, (Beirut, Dar al-Khair, tt), 89-350; Husein Nashr, Tasawuf Dulu & Sekarang, terj. Abd Hadi, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 1994), 89-96; Muthahhari, Menapak Jalan Spiritual, terj. Nasrullah, (Bandung, Pustaka Hidayah, 1997), 120-155.

[6] Mehdi Hairi Yazdi, Ilmu Hudhuri, terj. Ahsin Muhamd, (Bandung, Mizan, 1994), 51-53.

Uraian tentang kasyf, lihat al-Qusyairi,al-Risâlah, 75.

[7] Syatahat dalam istilah tariqat khususiah sufiah ialah terkeluarnya perkataan dari mulut pengamal tariqat khususiah sufiah, dimana perkataan itu keluar dari mulutnya tanpa dapat ditahannya atau dalam erti yang lain ia keluar tanpa kawalan. Lihat http://shahil.wordpress.com/Mei 21, 2009/diakses 30 Oktober 2010

[8] Al-Jabiri, Isykâliyât al-Fikr al-Arabi al-Mu`ashir, (Beirut, Markaz Dirasah al-Arabiyah,

1989), 59.

[9] Mehsi Aminrazavi, Pendekatan Rasional Suhrawardi, 76 dan seterusnya. Lihat pula Osman Bakar, Tauhid dan Sains, (Bandung, Pustaka Hidayah, 1996), 29.

[10] A. Khudori Soleh “Model-Model Epistimologi Islam”dalam http://www.scribd.com/islam/diakses tgl 25 oktober 2010

[11] Hamdan MaghribiFilsafat dan Metodologi Pemikiran Islam” dalam

http://albi4ever.blogspot.com/islam/ kamis, 20 September 2007/diakses tgl 25 oktober 2010

[12] Ulil Albaab “Kajian Ontologi Dakwah Islamiyah” dalam http://pgr3gp.blogspot.com/islam/28 Juni 2009/diakses tanggal 25 0ktober 2010

[13] Koherensi berarti teori untuk menguji kebenaran, M. Dahlan Yacub Al Barry ”Kamus Ilmiah Populer “ Penerbit Arkola, Yogyakarta, 2001

[14] Regularitas berarti keteraturan, M. Dahlan Yacub Al Barry ”Kamus Ilmiah Populer “ Penerbit Arkola, Yogyakarta, 2001

[15] M. Amin Abdullah, Op. cit, hlm.258-259

[16] Ulil Albaab “Kajian Ontologi Dakwah Islamiyah” dalam http://pgr3gp.blogspot.com/islam/28 Juni 2009/diakses tanggal 25 0ktober 2010

[17] Ulil Albaab “Kajian Ontologi Dakwah Islamiyah” dalam http://pgr3gp.blogspot.com/islam/28 Juni 2009/diakses tanggal 25 0ktober 2010

0 komentar:

Poskan Komentar