Rabu, 05 Mei 2010

URGENSI PENDIDIKAN AGAMA

Bangsa Indonesia telah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan dan perikehidupan yang luhur. Bangsa yang ramah, bangsa yang santun, bangsa yang mampu menghormati perbedaan, suka bergotong-royong dan segudang sanjungan lainnya. Tentu semua pujian itu berangkat dari realitas kehidupan bangsa ini yang memang di masa lalu sangat menghargai moral dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sayangnya arus kebudayaan asing yang terus membanjiri bangsa ini mengikis nilai-nilai luhur itu. Kapitalisme dengan segala bentuk dan ragamnya telah mengajarkan kepada generasi penerus bangsa ini budaya hidup yang jauh dari norma-norma sosial dan agama. Sekarang, lambat tapi pasti sikap hidup yang permisif, hedonis, individualis, dan materialis menjangkiti masyarakat. Bukan tidak mungkin hal tersebut kian membunuh karakter bangsa ini sebagai bangsa timur yang dikenal sangat menjunjung nilai moral.

Tinjauan Tentang SQ

Sejak diketahui bahwa SQ (spiritual quotient) atau kecerdasan spiritual sangat berperan signifikan dalam mendorong prestasi dan karir. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi berpotensi memiliki karakter-karakter unggul yang akan memudahkan dalam proses interaksi dengan orang lain maupun lingkungan kerja. Kecerdasan spiritual akan memunculkan sikap-sikap positif seperti kejujuran, kedisiplinan, loyalitas, pantang menyerah dan sebagainya.

Banyak orang kemudian sadar bahwa ternyata nilai-nilai spiritual yang dalam hal ini dapat diwakili oleh peran agama sangat penting untuk ditanamkan kepada anak didik. Kecerdasan spiritual banyak menjadi tumpuan memperbaiki karakter seseorang untuk membuat kemajuan yang berarti. Meskipun dalam pelaksanaannya ternyata hasil yang dicapai belum sesuai harapan. Sekian lama kemerosotan moral belum juga mampu dibendung meskipun nilai-nilai agama telah diajarkan di sekolah dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Bahkan ada kecenderungan kegersangan jiwa dan keringnya nilai spiritual kian meningkat.

Tentu semua itu bukan semata kesalahan dari pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. Sebab faktanya, banyak faktor lain yang turut serta dalam mempengaruhi kehidupan beragama seseorang. Lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan pergaulan ternyata memiliki porsi yang lebih kuat untuk memberi pengaruh. Maka semestinya dalam pelaksanaan pendidikan agama harus melibatkan semua pihak dan menjadi tanggung jawab bersama. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan untuk ikut serta melakukan kontrol terhadap perilaku anak selama di lingkungan keluarga. Dengan demikian proses pendidikan akan terlaksana secara berkesinambungan dan lebih efektif guna mencapai hasil yang diinginkan.

Menanamkan Nilai Moral

Prof Zakiah Daradjat (1978) menyatakan bahwa moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak kecil. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya.

Dengan demikian diharapkan pendidikan agama bukanlah sekedar pengalihan pengetahuan keagamaan (transfer of religion knowledge) dari guru ke siswa. Namun hendaknya mampu mengarahkan dan membina agar perilaku siswa dapat sesuai dengan tuntunan agama. Lingkungan sekolah harus menjadi representasi dari kehidupan keagamaan agar siswa dapat menemukan model lingkungan yang sesuai dengan ajaran agama. Proses pendidikan agama itu dapat berlangsung sepanjang siswa masih di lingkungan sekolah. Bukan sebatas saat pelajaran agama saja. Dengan demikian perlu kerjasama antara semua warga sekolah untuk dapat menciptakannya.

Pendidikan itu bisa dimulai dari hal-hal kecil, karena sesungguhnya Islam mengatur segala persoalan dalam kehidupan di dunia ini. Mulai dari sikap saling menghormati, kasih sayang, perilaku yang baik terhadap teman, adab makan-minum, adab berbicara kepada orang lain dan masih banyak lagi. Dan jangan dilupakan bahwa kedisiplinan, menepati janji, berbuat jujur, saling menolong dan perbuatan terpuji lainnya juga merupakan ajaran agama yang sangat penting untuk diajarkan dan dilaksanakan.

Terkadang pendidikan agama menjadi kurang menarik karena dianggap belum menjadi kebutuhan yang mendesak. Kalah populer dengan mata pelajaran yang di Unas-kan. Di sinilah perlunya mendesain dan mengarahkan agar pendidikan agama dapat menjadi problem solving bagi realitas yang ada di masyarakat. Sehingga siswa dapat merasakan manfaat dari ajaran yang diperolehnya. Siswa akan dapat berguna bagi orang lain. Mereka dapat merefleksikan pengetahuan kegamaannya dalam menghadapi permasalahan hidupnya.

Guru harus berupaya memahami alam pikiran siswa dan menjadikan agar pelajaran yang disampaikan relevan dengan kehidupan yang dihadapi siswa. Sebab ajaran agama bukanlah bahasa langit yang susah diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari dan bersifat dogmatis. Sebaliknya tujuan dari ajaran agama yang sesungguhnya adalah sebagai cahaya penuntun dan menjadi pegangan hidup saat manusia tersesat dalam kegelapan atau kehilangan sandaran. Agama adalah penuntun menuju keselamatan. Bagaimana mungkin hal tersebut dapat tercapai jika agama hanya menjadi sebuah bahasa langit?

Rasulullah telah mencontohkan bagaimana seharusnya seorang pendidik mampu memahami dan mengerti kondisi dari murid. Bahkan Rasulullah sangat tahu kelebihan dan kekurangan pribadi masing-masing sahabat sehingga tidak heran bila ada beberapa hadits yang ‘berlainan’ tetapi maksudnya sama. Misal, suatu ketika Nabi mengatakan bahwa sebaik-baik amal adalah berkata jujur dan pada kesempatan lain amal terbaik adalah berbakti kepada orang tua. Semua itu beliau sampaikan berdasarkan keadaan pribadi masing-masing sahabat.

Peluang dan Tantangan Pendidikan Agama

Tujuan utama pendidikan agama (baca: Islam) adalah terbentuknya akhlak yang baik. Karena itulah yang menjadi muara dari ajaran Islam. Dan Rasulullah pun diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan demikian peri-hidup Rasulullah adalah refleksi dari kesempurnaan akhlak, dan itu bisa ditelusuri melalui Al Quran dan Hadits. Akhlak sendiri merupakan perilaku yang secara konsisten dilakukan sehingga menjadi kebiasaan. Dan ketika diberi suatu stimulan yang sesuai maka perilaku tersebut akan muncul tanpa melalui pemikiran (spontan).

Globalisasi dengan segala bentuknya di satu sisi membuat manusia semakin jauh dari sentuhan agama (sekuler). Namun pada sisi lain tampaknya juga membuat manusia semakin sadar akan pentingnya peran agama dalam kehidupan mereka. Tidak heran bila kemudian banyak orang yang dengan gigih dan kuat memegang prinsip keberagamaan mereka. Tidak lagi takut untuk menunjukkan identitas keagamaannya kepada orang lain. Bahkan mereka memiliki semangat (ghirah) untuk menyebarluaskan nilai-nilai agama kepada masyarakat luas.

Banyak orang kemudian lebih selektif dalam menyekolahkan putera-puteri mereka dan ada sebuah trend dengan menitikberatkan pada sekolah yang memiliki keunggulan dalam penanaman nilai agama kepada siswanya. Maka muncullah sekolah-sekolah Islam terpadu yang memberi porsi lebih untuk kegiatan agama. Sebetulnya kondisi tersebut dapat ditangkap menjadi sebuah peluang untuk lebih mengembangkan pendidikan agama di sekolah negeri sekalipun. Terbatasnya jam pelajaran agama bukanlah satu kendala untuk mengembangkan dan memperbaiki pembelajaran agama di sekolah. Toh, peluang untuk berinovasi dalam proses pembelajaran juga masih sangat terbuka.

Sekarang di banyak masjid telah ada kegiatan taman pendidikan Al Quran (TPA) yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat. Hal tersebut dapat dioptimalkan oleh guru agama untuk meningkatkan kemampuan siswa terutama dalam bidang baca tulis Al Quran. Guru dapat ikut serta dalam mengontrol keaktifan siswa, karena umumnya guru lebih disegani. Selain itu juga dapat mengamati kemajuan mereka dalam mengikuti kegiatan TPA.

Namun kita juga tidak bisa menutup mata, televisi merupakan tantangan yang sulit untuk diatasi. Berbagai tontonan yang bertentangan dengan ajaran agama secara gratis dan mudah dapat dilihat. Belum lagi tayangan-tayangan yang lebih banyak mengajari anak untuk bersikap konsumtif dan gaya hidup yang serba luks telah membuai dan menjauhkan mereka dari realitas kehidupan yang sedang dijalani. Tidak jarang anak menjadi kurang peka jiwa sosialnya. Itu semua menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan agama untuk bisa membangun kembali karakter bangsa yang sudah mulai luntur.

0 komentar:

Poskan Komentar