Jumat, 08 Januari 2010

Prinsip-Prinsip Pengembangan Silabus

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A. Prinsip-Prinsip Pengembangan Silabus
1. Ilmiyah
2. Relevan
3. Sitematis
4. Konsistensi
5. Memadai
6. Aktual dan Kontekstual
7. Fleksibel
8. Menyeluruh
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran Dan Kritik

DAFTAR PUSTAKA
















BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Makalah ini berisi pembahasan tentang prinsip-prinsip pengembangan silabus SMP-SMA.
Dengan mempelajari makalah ini diharapkan anda mampu mengetahui prinsip-prinsip yang digunakan untuk pengembangan silabus SMP-SMA dan mengantarkan siswa mencapai tujuan pendidikan agama di SMP-SMA.
Agar anda sebagai guru agama mampu mengantar siswa sampai pada tujuan yang ditentukan (dalam kurikulum), maka anda harus memahami secara tepat prinsip-prinsip pengembangan silabus dengan mengacu pada landasan konseptual dan teoritis.

B. Rumusan Masalah
a. Apa prinsip-prinsip dalam pembuatan silabus mata Pelajaran Agama Islam?
b. Mengapa kita membutuhkan perinsip-perinsip dalam membuat silabus Pelajaran Agama Islam?
c. Apa yang perlu kita perhatikan dalam mengembangkan silabus Pelajaran Agama Islam?

C. Tujuan
a. Tujuan Dapat mengetahui prinsip-prinsip pengembangan silabus SMP-SMA.

b. Menjelaskan dasar atau landasan yang dijadikan acuan pengembangan silabus SMp-SMA.








BAB II

PEMBAHASAN

A. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN SILABUS

Untuk memperoleh silabus mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang baik, dalam pengembangannya perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Ilmiyah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus Pendidikan Agama Islam harus benar, dapat dipertanggung jawabkan secara keilmuan dan sesuai dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber ajaran islam.
2. Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus Pendidikan Agama Islam sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, social, emosional dan spiritual peserta didik.
Misalnya tingkat membaca Al-qur’an pada kelas X berbeda dengan kemampuan membaca Al-Qur’an pada kelas XI dan berbeda pula dengan kelas XII. Dalam hal ini hendaknya ada gradasi kemampuan dari kelas X ke kelas XI dank e kelas XII.
3. Sitematis
Komponen-komponen silabus Pendidikan Agama Islam saling berhubungan secar fungsional dalam mencapai kompetisi. Antara standar kompetisi, kompetisi dasar, materi pembelajaran,kegiatan pembelajaran, indicator, waktu, dan sumber belajar saling terkait satu dengan yang lainnya.
4. Konsistensi
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indicator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan system penilaian. Misalnya :
1. SK : 1. Memahami ayat-ayat Al-qur’an tentang manusia dan tugasnya sebagai kholifah dibumi.
2. KD : 1.2 menyebutkan arti QS Al-Baqarah ; 30, Al-Mukmin ; 12-14, Az-Zariyat ; 56 dan An-Nahl ; 78.
Maka kegiatan pembelajarannya adalah : mengartikan QS Al-Baqarah ; 30, Al-Mukmin ; 12-14, Az-Zariyat ; 56 dan An-Nahl ; 78 mulai dari perkata, dilanjutkan dengan perayat serta kandungan ayat melalui diskusi. Jadi kegiatan pembelajaran disini berkisar mengartikan dalam mamahami ayat.
Sedangkan indikatornya : Menyebutkan QS Al-Baqarah ; 30, Al-Mukmin ; 12-14, Az-Zariyat ; 56 dan An-Nahl ; 78 mulai dari perkata, dilanjutkan dengan perayat serta kandungan ayat. Disini tidak ada indicator berupa membaca dan menulis.
Begitu juga dengan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan system penilaian hendaknya konsisten dengan SK dan KD dan indicator.
5. Memadai
Cakupan indicator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan system penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar, misalnya :
KD%.1 Kelas X : Menyebutkan Pengertian, kedudukan dan fungsi Al-qur’an, Al-hadits dan Ijtihad sebagai sumber hokum islam, maka indicator hendaknya memadai untuk pencapaian kompetinsi yang ada di KD tersebut. Materi pembelajaran hendaknya juga memadai yakni Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijtihad tentang pngertian, kedudukan dan fungsi sebagai sumber hokum islam.

6. Aktual dan Kontekstual
Cakuoan indicator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan system penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, peristiwa ytang terjadi.
Pendidikan Agama Islam bersumber dari ajaran-ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dari sumber terebut dikembangkan barbagai kajian keislaman, termasuk kajian yang terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya.
7. Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus Pendidikan Agama Islam dapat mengakomodasikan keberagaman peserta didik, pendidik,serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh

Komponen Silabus Pendidikan Agama Islammencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, efektif, dan psikomotor). Ketiga ranah kognitif, efektif dan psikomotor, proses penilaiannya dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Sebagai contoh KD : Membaca QS Al-Imran ; 159 dan Asy-Syura ; 38. Maka penilaian dilakukan secara penyeluruh melalui pengamatan terhadap perubahan prilaku untuk menilai perkembangan psikomotor tentang kamampuan membaca Al-Qu’an, penugasan untuk mengukur ranah kognitif tentang identifikasi tajwidnya dan pengamatan terhadap perubahan sikap dalam membaca Al-Qur’an










BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Untuk memperoleh silabus mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang baik, dalam pengembangannya perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 
1. Ilmiyah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus Pendidikan Agama Islam harus benar dan sesuai dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber ajaran islam.
2. Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus Pendidikan Agama Islam sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, social, emosional dan spiritual peserta didik.
3. Sitematis
Komponen-komponen silabus Pendidikan Agama Islam saling berhubungan secar fungsional dalam mencapai kompetisi
4. Konsistensi
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indicator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan system penilaian.
5. Memadai
Cakupan indicator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan system penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan Kontekstual
Cakuoan indicator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan system penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus Pendidikan Agama Islam dapat mengakomodasikan keberagaman peserta didik, pendidik,serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh
Komponen Silabus Pendidikan Agama Islammencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, efektif, dan psikomotor). Ketiga ranah kognitif, efektif dan psikomotor, proses penilaiannya dilakukan secara menyeluruh dan terpadu.

B. Saran dan Kritik
Akhirnya, pemakalah mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu didalam menyelesaikan makalah kami ini. Disamping itu, kritik dan saran dari mahasiswa serta dosen pengampu dan para pembaca sangat kami harapkan, demi kebaikan kita bersama terutama bagi pemakalah.


DAFTAR PUSTAKA
____________, Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus Dan Contoh/Model Silabus SMA atau SMU, Departemen Pendidikkan NAsional

0 komentar:

Poskan Komentar